Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Sengkarut finansial duo Manchester dan beban utang Setan Merah kembali menjadi sorotan setelah laporan panel Liga Primer membeberkan rincian manipulasi sponsor Manchester City bersamaan dengan membengkaknya utang Manchester United pada musim ini. Dua kutub sepak bola Manchester itu kini menghadapi realitas finansial yang bertolak belakang: kucuran dana melimpah di satu sisi berbanding terbalik dengan beban bunga utang raksasa di sisi lainnya.
Pakar keuangan sepak bola Swiss Ramble memperkirakan pembayaran bunga bersih Manchester United telah menembus angka 852 juta poundsterling sejak keluarga Glazer mengambil alih klub lewat skema leveraged buyout pada 2005. Angka fantastis tersebut hampir menyamai jumlah dana ilegal sebesar 830 juta poundsterling yang dituduhkan kepada pemilik Manchester City untuk mendongkrak pendapatan sponsor mereka.
Perbandingan dua angka itu mempertegas paradoks yang selama bertahun-tahun mengganggu persaingan di Liga Primer. Di satu sisi, City dituduh menyuntikkan dana tidak sah demi memperbesar pendapatan komersial. Di sisi lain, United justru harus menguras kas klub untuk menutup bunga utang yang terus menumpuk sejak era akuisisi Glazer.
Kemarahan Pendukung Setan Merah
Situasi ini memicu kemarahan mendalam di kalangan pendukung Setan Merah. Mereka menilai klub kesayangan mereka harus membuang dana sebesar itu hanya untuk membayar bunga utang pemilik, bukan untuk memperkuat skuad atau membangun infrastruktur.
Beban bunga yang membengkak membuat ruang gerak manajemen dalam belanja pemain menjadi terbatas. Padahal, tekanan untuk bersaing di level domestik dan Eropa menuntut investasi berkelanjutan pada kualitas tim.
Dalam laporan keuangan terbaru klub, Chief Executive Officer Manchester United Omar Berrada menegaskan komitmennya untuk mengontrol pengeluaran agar terhindar dari sanksi finansial. Ia menyatakan bahwa meskipun hasil yang dicapai mengonfirmasi klub berada di jalur yang benar, pendekatan disiplin tetap akan diterapkan untuk memastikan keuangan tetap berkelanjutan.
“Meskipun hasil ini mengonfirmasi bahwa kami berada di jalur yang benar, kami akan terus mengambil pendekatan disiplin untuk memastikan keuangan kami tetap berkelanjutan,” ujar Berrada dalam laporan keuangan terbaru klub.
Pernyataan hati-hati tersebut muncul setelah klub melaporkan rekor pendapatan mencapai 677,6 juta poundsterling berkat keberhasilan mereka kembali ke pentas Liga Champions. Kembalinya Setan Merah ke kompetisi elite Eropa itu menjadi pendorong utama lonjakan pemasukan, terutama dari hak siar dan komersial.
Pinjaman Baru dan Total Utang
Namun, di balik rekor pendapatan itu, manajemen Setan Merah juga mengonfirmasi adanya pinjaman baru sebesar 90 juta poundsterling. Tambahan pinjaman tersebut membuat total utang klub membengkak menjadi 1,15 miliar poundsterling.
Angka itu menjadi gambaran nyata betapa beban finansial Manchester United belum sepenuhnya terurai meski performa di lapangan mulai membaik. Pendapatan besar dari Liga Champions tidak serta-merta menghapus warisan utang yang menumpuk selama hampir dua dekade.
Di sisi belanja pemain, manajemen Manchester United telah membelanjakan 191,7 juta poundsterling untuk mendatangkan deretan pemain baru seperti Carlos Baleba, Andrey Santos, dan Youri Tielemans. Investasi itu menunjukkan klub tetap berupaya memperkuat skuad, meski harus berjalan di antara tuntutan kompetitif dan disiplin fiskal.
Sengkarut finansial duo Manchester dan beban utang Setan Merah pun menjadi cermin bagaimana model kepemilikan klub dapat menentukan arah sebuah tim. City dengan pendanaan melimpah menghadapi tuduhan pelanggaran aturan, sementara United bergulat dengan warisan utang yang membebani arus kas tahunan.
Bagi pendukung Setan Merah, pertanyaan besarnya bukan hanya soal berapa banyak pemain yang bisa didatangkan, tetapi seberapa lama klub harus menanggung beban bunga yang terus menggerus potensi belanja. Selama struktur utang belum diselesaikan, rekor pendapatan sebesar apa pun berpotensi habis hanya untuk kewajiban finansial pemilik.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada langkah manajemen Manchester United dalam menyeimbangkan ambisi olahraga dan keberlanjutan keuangan, sekaligus perkembangan kasus Manchester City di panel Liga Primer. Dua jalur berbeda itu akan terus menjadi sorotan selama keduanya sama-sama berada di pusat peta kekuatan sepak bola Inggris.
