Cakrawala News – 20 September 2026 | Serial antologi Monster terbaru dari Netflix, Monster: The Lizzie Borden Story, tengah menjadi perbincangan setelah mendapat skor rendah dari kritikus. Kisah Lizzie Borden, perempuan berusia 32 tahun yang dituduh membunuh ayah dan ibu tirinya dengan kapak pada 1892, kembali diangkat ke layar oleh kreator Ryan Murphy dan Ian Brennan. Meski kasus ini telah memikat para penggemar kejahatan sejati selama lebih dari satu abad, versi terbaru Murphy dinilai belum berhasil memenuhi ekspektasi.
Berdasarkan data agregator ulasan Rotten Tomatoes per 19 September 2026, serial ini hanya memperoleh skor 50 persen dari kritikus, sementara penonton yang memberikan penilaian positif tercatat sekitar 35 persen. Angka tersebut menjadikannya salah satu instalasi Monster dengan penerimaan paling lemah sejauh ini.
Serial Monster sebelumnya mengangkat kisah pembunuh berantai Jeffrey Dahmer, kakak beradik Lyle dan Erik Menendez, serta Ed Gein. Untuk musim terbaru, Ella Beatty didapuk memerankan Lizzie Borden, beradu akting dengan Charlie Hunnam sebagai Andrew Borden dan Rebecca Hall sebagai Abby Borden. Sarah Paulson turut tampil dalam seri ini.
Kritik Tajam dari Penonton
Sejumlah ulasan penonton di Rotten Tomatoes menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari akurasi sejarah hingga tempo cerita. Beberapa di antaranya menilai serial ini terlalu banyak menambahkan plot yang tidak terjadi demi kepentingan dramatisasi. Ada pula yang menyebut musim ini sebagai yang terburuk dari seluruh rangkaian Monster.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai The Lizzie Borden Story berupaya menyampaikan pesan yang lebih dalam mengenai kemarahan perempuan dan bagaimana sosok pembunuh perempuan terbentuk. Serial ini menampilkan Lizzie yang mengalami kekerasan verbal dan menghadirkan dua pembunuh berantai perempuan terkenal lainnya, dengan darah sebagai motif berulang dalam narasi.
Latar Belakang Kasus yang Tak Lekang Waktu
Lizzie Borden lahir di Fall River, Massachusetts, pada 19 Juli 1860, tiga bulan setelah pecahnya Perang Saudara Amerika. Pada 1892, Fall River telah berkembang menjadi kota industri tekstil yang dijuluki Manchester of America dan dikuasai sejumlah keluarga kaya.
Pada 4 Agustus 1892, pasangan lanjut usia Andrew dan Abby Borden ditemukan tewas di Fall River. Keduanya menerima sejumlah pukulan kapak atau kapak kecil, jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk membunuh korban. Sifat kejam pembunuhan itu memicu spekulasi luas bahwa Jack the Ripper telah tiba di Amerika Serikat.
Namun, orang yang ditangkap bukanlah pembunuh berantai terkenal maupun orang gila lokal. Yang dituduh adalah perempuan biasa berusia 32 tahun, pengurus gereja dan guru sekolah minggu, yang tak lain adalah putri korban sendiri. Lizzie Borden menjalani persidangan, tetapi akhirnya dibebaskan dari tuduhan. Hingga kini, kematian kedua orang tuanya secara resmi masih tercatat sebagai kasus yang belum terpecahkan.
Rumah Borden dan Klaim Mistis
Di luar drama televisi, rumah tempat peristiwa itu terjadi masih berdiri di Fall River, Massachusetts. Situs resmi properti tersebut menyebutnya sebagai rumah paling berhantu di Amerika Serikat. Klaim itu menarik perhatian sejumlah orang, termasuk seorang peneliti paranormal asal Los Angeles, Sara Farrell.
Farrell mengaku memenangi perjalanan untuk menginap di rumah Borden pada 15-17 April tahun ini. Ia menggambarkan properti itu sebagai bangunan yang terpelihara baik dan dipenuhi artefak, dokumen, serta foto dari kehidupan sehari-hari keluarga Borden dan persidangan. Namun, ia juga menyebut rumah tersebut menyimpan energi yang sangat berat, yang semakin terasa seiring waktu.
Farrell mengklaim dirinya dan pasangannya mendengar suara geraman serta beberapa kali merasa disentuh selama berada di sana. Ia bahkan meyakini telah merekam sosok arwah dengan kameranya. Klaim semacam ini tidak dapat diverifikasi secara ilmiah dan menjadi bagian dari daya tarik wisata mistis yang menyelimuti rumah bersejarah tersebut.
Rencana Sepuluh Musim
Di tengah penerimaan yang kurang menggembirakan, salah satu kreator Monster, Ian Brennan, mengungkapkan bahwa ia dan Murphy memiliki rencana besar untuk waralaba ini. Dalam wawancara dengan The Hollywood Reporter, Brennan menyatakan keduanya ingin membuat sepuluh musim.
Ia menjelaskan bahwa tim kreatif selalu memiliki tiga atau empat kandidat subjek yang dipertimbangkan secara bergantian. Menurut Brennan, banyak subjek yang akhirnya ditinggalkan karena dinilai tidak cocok, mengingat penonton diminta menghabiskan tujuh hingga sepuluh jam untuk menyelami isi kepala tokoh yang diangkat.
Rencana ambisius itu menuai keraguan. Sejumlah pengamat menilai sepuluh musim sulit diwujudkan di tengah persaingan layanan streaming yang ketat dan banyaknya serial yang dibatalkan. Selain itu, pendekatan Monster yang kerap mengombinasikan fakta dengan dramatisasi dinilai berisiko menghadapi kritik serupa pada musim-musim berikutnya.
Dengan skor kritikus yang baru menyentuh 50 persen dan penilaian penonton yang jauh lebih rendah, The Lizzie Borden Story menjadi ujian bagi keberlanjutan formula Murphy dan Brennan. Publik tampaknya masih menantikan apakah Monster berikutnya mampu memperbaiki penerimaan sekaligus menjaga keseimbangan antara hiburan dan tanggung jawab terhadap fakta sejarah.










