Cakrawala News – 26 September 2026 | PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) resmi mengambil langkah besar dengan melakukan akuisisi 14 properti rumah sakit dari First Real Estate Investment Trust (First REIT). Dalam aksi korporasi ini, Siloam Rogoh Rp 6,9 Triliun Akuisisi 14 Aset RS untuk jadi Milik Sendiri. Langkah tersebut mengubah status sejumlah rumah sakit yang sebelumnya berstatus sewa menjadi aset milik perseroan, sebagaimana disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar di Auditorium Mochtar Riady Institute for Nanotechnology, Karawaci, Tangerang, Selasa (22/9).
Presiden Direktur Siloam, David Utama, menyatakan bahwa transaksi ini menandai tonggak penting bagi perseroan. Menurutnya, kepemilikan langsung atas properti rumah sakit akan memberi perusahaan porsi nilai yang lebih besar dari operasional, fleksibilitas yang lebih luas atas strategi aset dan klinis, serta fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan jangka panjang.
“Akuisisi menandai tonggak penting bagi agar memperoleh porsi nilai yang lebih besar dari operasional, fleksibilitas yang lebih luas atas strategi aset dan klinis, serta membangun fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan jangka panjang rumah sakit,” kata David usai RUPSLB.
Selain menyetujui akuisisi, RUPSLB juga membahas pemberian jaminan atas aset tertentu perseroan. Jaminan tersebut berkaitan dengan fasilitas pinjaman sindikasi hingga Rp 14,5 triliun yang digunakan untuk mendukung transaksi. Pemegang saham menyetujui pembebanan hak tanggungan atas properti rumah sakit yang akan diakuisisi sebagai bagian dari transaksi.
David menjelaskan, transaksi akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup akuisisi delapan properti rumah sakit berdasarkan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat atau Conditional Shares Sale and Purchase Agreement (CSPA) yang diteken pada 1 April 2026, dengan penyelesaian akhir ditargetkan pada Oktober 2026. Tahap kedua adalah potensi akuisisi enam properti tambahan berdasarkan pengaturan opsi jual atau Put Option Agreement (POA) yang telah disepakati.
Daftar 14 Rumah Sakit yang Diakuisisi
Adapun 14 rumah sakit yang asetnya diakuisisi tersebar di berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga Papua. Berikut daftarnya:
- Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang
- Siloam Hospitals Purwakarta
- Siloam Hospitals Lippo Village
- Siloam Hospitals Kebon Jeruk
- Siloam Hospitals Bali
- Siloam Hospitals Buton / Baubau
- Siloam Hospitals Kupang
- Siloam Hospitals Manado
- Siloam Hospitals Labuan Bajo
- Siloam Hospitals TB Simatupang
- Siloam Hospitals Makassar
- Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre Siloam Semanggi (MRCCC Siloam Semanggi)
- Siloam Hospitals Lippo Cikarang
- Siloam Hospitals Yogyakarta
Pada tahap pertama, Siloam berencana mengakuisisi 100 persen saham pada delapan perusahaan sasaran. Di antaranya PT Sriwijaya Mega Abadi (SMA) yang memiliki aset Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang, PT Eka Dasa Parinama (EDP) pemilik aset Siloam Hospitals Purwakarta, serta PT Sentra Dinamika Perkasa (SDP) pemilik aset Siloam Hospitals Lippo Village di Kelapa Dua, Tangerang, Banten.
Selanjutnya, perseroan juga mengambil alih PT Graha Indah Pratama (GIP) yang memiliki aset Siloam Hospitals Kebon Jeruk di Jakarta Barat, PT Dasa Graha Jaya (DGJ) pemilik aset Siloam Hospitals Denpasar di Badung, Bali, serta PT Nusa Bahana Niaga (NBN) Divisi Rumah Sakit yang memiliki aset Siloam Hospitals Kupang di Nusa Tenggara Timur.
Dua perusahaan sasaran lainnya pada tahap pertama adalah PT Buton Bangun Cipta (BBC) Divisi Rumah Sakit yang memiliki aset Siloam Hospitals Baubau di Sulawesi Tenggara, serta PT Menara Abadi Megah (MAM) Divisi Rumah Sakit pemilik aset Siloam Hospitals Manado di Sulawesi Utara.
Didukung Pinjaman Sindikasi Rp 14,5 Triliun
Untuk membiayai transaksi tersebut, Siloam mengantongi fasilitas pinjaman sindikasi hingga Rp 14,5 triliun dari konsorsium lembaga keuangan dalam negeri. Bank-bank yang terlibat mencakup PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, PT Bank CIMB Niaga Tbk, PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank DBS Indonesia, MUFG Bank, dan HSBC. Dalam hal ini, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk bertindak sebagai Agen Fasilitas dan Agen Jaminan.
Manajemen Siloam mengakui bahwa transaksi ini diperkirakan akan meningkatkan biaya pendanaan dalam jangka pendek. Meski demikian, manajemen memperkirakan transaksi akan memberikan kontribusi positif terhadap kinerja keuangan jangka panjang perseroan melalui peningkatan arus kas operasional dan kepemilikan yang lebih besar atas aset rumah sakit strategis. Transaksi ini juga didukung oleh pendapat kewajaran independen yang diterbitkan oleh penilai independen.
Menurut David, kepemilikan atas properti tersebut akan memberikan fleksibilitas yang lebih besar bagi perseroan untuk berinvestasi pada fasilitas rumah sakit, menambah kapasitas, dan meningkatkan layanan klinis sesuai dengan kebutuhan pasien yang terus berkembang.
Dampak bagi Strategi Jangka Panjang
Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen menyebut tujuan aksi korporasi ini adalah agar SILO dapat mengintegrasikan layanan kesehatan dengan fasilitas yang telah ada. Hal itu akan berpengaruh pada pengelolaan, pemeliharaan, dan perencanaan strategis jangka panjang. Kepemilikan langsung dinilai memungkinkan perseroan memiliki keleluasaan penuh dalam mengoptimalkan investasi sesuai kebutuhan medis dan komersial, yang sebelumnya terbatas oleh ketentuan sewa dalam melakukan ekspansi dan renovasi.
First REIT sendiri merupakan trust investasi real estat yang berfokus pada investasi berbagai aset fasilitas kesehatan dan real estat terkait fasilitas kesehatan di dalam maupun di luar Asia. Di Indonesia, First REIT beroperasi melalui entitas anak yang dimiliki secara langsung maupun tidak langsung, sementara Siloam menjadi operator dari sejumlah objek yang dimiliki First REIT.
Dengan rampungnya akuisisi tahap pertama pada Oktober 2026 mendatang, Siloam Rogoh Rp 6,9 Triliun Akuisisi 14 Aset RS untuk jadi Milik Sendiri akan menjadi salah satu aksi korporasi terbesar di sektor kesehatan Indonesia tahun ini. Langkah ini sekaligus menandai pergeseran model bisnis perseroan dari penyewa menjadi pemilik aset. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati bagaimana transaksi dua tahap ini memengaruhi struktur keuangan perseroan, terutama beban pendanaan jangka pendek, sekaligus dampaknya terhadap ekspansi layanan rumah sakit di berbagai daerah.
