Cakrawala News – 11 Oktober 2026 | Laga Ajax melawan NEC Nijmegen di Johan Cruijff ArenA berakhir 1-1 pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026, tetapi sorotan utama justru datang dari Dusan Tadic. Kembalinya penyerang asal Serbia itu ke Amsterdam sebagai pemain lawan berubah menjadi momen penuh emosi, sekaligus panggung bagi Tadic untuk melontarkan kritik keras terhadap pemberitaan media yang ia nilai telah memelintir ucapannya dan menyinggung NEC.
Hasil imbang ini membuat Ajax kembali kehilangan poin di Eredivisie. Tadic, yang kini memperkuat NEC, mengaku menjalani pertandingan dengan perasaan bercampur aduk karena harus berhadapan dengan klub yang pernah membesarkan namanya.
“Ajax adalah cintaku dan akan selalu ada di hatiku. Tetapi di sisi lain saya sekarang bermain untuk NEC, dan sebagai profesional saya harus memberikan segalanya untuk klub ini. Itu semacam pertarungan emosional,” kata Tadic kepada ESPN usai laga.
Emosi Tadic memuncak ketika para pendukung tuan rumah membentangkan spanduk besar bergambar dirinya sebelum kick-off. Menurutnya, sambutan itu membangkitkan kenangan panjang selama berseragam Ajax.
“Saya punya banyak kenangan di stadion ini, lalu banyak emosi muncul. Itu indah, tapi juga emosional. Anda melihat begitu banyak wajah yang dikenal, para suporter. Itu selalu ada di kepala saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Kritik Tajam ke Media
Dalam wawancara dengan ESPN, Tadic secara khusus menanggapi pemberitaan yang mengutip wawancaranya bersama NU.nl. Dalam kutipan yang beredar, ia menyebut sering melakukan aksi persiapan tetapi tidak menerima bola, atau tidak mendapat umpan balik setelah beberapa sentuhan, dan mengaku otaknya bekerja terlalu cepat sehingga sering berkonflik dengan diri sendiri.
Tadic menilai kalimat-kalimat itu kemudian dipelintir dan dilepaskan dari konteksnya sehingga seolah-olah ia merendahkan rekan-rekannya di NEC.
“Sejujurnya itu memalukan. Saya punya begitu banyak pengalaman dan saya tahu media selalu mencari sesuatu. Anda bisa memelintir kata-kata, konteksnya. Saya tidak akan pernah tidak menghormati orang-orang di NEC. Tidak pernah. Itu belum pernah saya lakukan seumur hidup saya. Tetapi NEC dan Ajax tidak bisa dibandingkan, dan itu bukan berarti buruk,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa pemberitaan semacam itu berpotensi membuat pemain enggan memberikan wawancara. “Dengan satu kata pun saya tidak berbicara buruk tentang NEC, saya tahu apa yang saya katakan. Tetapi sangat menyedihkan melihat ini di media. Itu terjadi terlalu sering. Mengapa, saya tidak tahu. Karena dengan cara ini Anda membuat pemain tidak mau memberi wawancara lagi. Tetapi saya bukan orang seperti itu,” lanjutnya.
Sebagai penjelasan, Tadic menempatkan Ajax sebagai klub sepuluh besar Eropa dari sisi sejarah, nama-nama pemain yang pernah membela, dan berbagai aspek lain. Sementara NEC, menurutnya, adalah klub hebat di lapisan sub-top yang musim lalu tampil baik, kini bersiap masuk kompetisi Eropa, dan sedang tumbuh dengan pelatih serta struktur yang bagus.
“Tetapi jika Anda bertanya siapa yang punya pemain lebih baik, Ajax atau NEC? Lebih mudah bermain dengan pemain bagus daripada dengan pemain yang kurang bagus. Tetapi apakah saya harus hanya memberi wawancara di depan kamera supaya Anda mendengar maksud saya? Itu menyedihkan. Itu tidak terasa benar,” pungkasnya.
Jalannya Pertandingan
Di lapangan, Ajax memulai laga dengan agresif. Tolu Arokodare membuka keunggulan pada menit ketujuh lewat sundulan keras setelah umpan Jorthy Mokio dari sisi kanan, mengalahkan Perr Schuurs. Arokodare merayakan golnya dengan menunjukkan jersey Kasper Dolberg yang sedang cedera berat.
Keunggulan itu tidak bertahan lama. Pada menit ke-17, Bryan Linssen menyiapkan bola untuk Noé Lebreton yang kemudian dijatuhkan Mokio di kotak penalti. Wasit Serdar Gözübüyük menunjuk titik putih dan memberi kartu kuning kepada Mokio. Tjaronn Chery mengeksekusi penalti dengan tenang untuk menyamakan kedudukan pada menit ke-19.
Ajax nyaris kembali unggul beberapa menit berselang, tetapi tembakan Mokio dari tepi kotak penalti membentur mistar. Oscar Gloukh juga mendapat peluang, namun sepakannya terlalu lemah untuk mengancam kiper NEC, Gonzalo Crettaz.
NEC semakin mengendalikan permainan. Tembakan Linssen diblok Marc ter Stegen, sementara Arokodare melewatkan dua peluang sundulan. Setelah jeda yang diperpanjang akibat masalah teknis pada perangkat perwasitan, NEC kembali menebar ancaman. Kevin Kers melepas tembakan tipis di sisi gawang setelah bekerja sama dengan Tadic. Ajax juga sempat lolos ketika Chery mencetak gol dari jarak dekat, namun dianulir karena offside.
Pelatih Míchel Sánchez memasukkan Abdellah Ouazane dan debutan Simon Adingra untuk mengubah ritme. Marcos Leonardo juga masuk menggantikan Arokodare. Ouazane nyaris menjadi pembeda, memaksa Crettaz melakukan penyelamatan sebelum peluang besarnya pada menit ke-79 juga digagalkan kiper NEC tersebut.
Kontroversi Kartu dan Sorotan Analis
Selain drama Tadic, laga ini meninggalkan perdebatan soal keputusan wasit. Ouazane, pemain berusia 17 tahun, hanya mendapat kartu kuning atas tekel kerasnya terhadap Linssen. Analis ESPN, Kees Kwakman dan Mario Been, menilai seharusnya wasit mengeluarkan kartu merah.
Menurut penjelasan di studio ESPN, aturan menyebut pelanggaran di atas sepatu berpotensi diganjar kartu merah, sementara pelanggaran pada bagian sepatu cukup berbuah kartu kuning, dengan intensitas dan posisi kaki menjadi pertimbangan. Karena kaki Ouazane sedikit ditarik saat menghantam Linssen, wasit memilih kartu kuning. Sepatu Linssen sampai rusak akibat tekel itu sehingga ia harus menggantinya.
“Jadi kaki Anda boleh patah, tetapi pergelangan kaki tidak. Itu intinya,” kata Been dengan nada sinis. Kwakman menambahkan bahwa dirinya menilai insiden itu layak kartu merah meski mengakui akan selalu ada perdebatan.
Sebelumnya, Ajax juga dianggap beruntung ketika Mokio menarik Noé Lebreton di kotak penalti. Gözübüyük memberi penalti sekaligus kartu kuning, padahal menurut analisis di studio, menarik lawan tanpa berusaha merebut bola dalam situasi menghilangkan peluang mencetak gol seharusnya berbuah kartu merah.
Dampak dan Agenda Berikutnya
Hasil imbang ini menambah catatan kurang memuaskan bagi Ajax di Eredivisie. Menurut laporan media Kroasia, Ajax berada di posisi kelima dengan 15 poin dari empat kemenangan, tiga imbang, dan satu kekalahan. Feyenoord memimpin dengan 20 poin, diikuti PSV Eindhoven dan AZ Alkmaar yang masing-masing mengumpulkan 19 poin, serta Twente dengan 17 poin.
Bagi Tadic, laga ini menjadi babak emosional tersendiri dalam kariernya, sekaligus penegasan bahwa hubungannya dengan Ajax tetap kuat meski kini membela klub lain. Sementara bagi Ajax dan NEC, hasil ini menjadi bahan evaluasi menjelang jadwal padat berikutnya.
Perhatian publik sepak bola Belanda juga akan tertuju pada langkah lanjutan Ajax di kompetisi Eropa. Menurut laporan media Kroasia, Ajax dijadwalkan menghadapi Hajduk Split di Poljud pada 15 Oktober mendatang, sebuah laga yang akan menguji sejauh mana tim asuhan Míchel Sánchez mampu bangkit setelah rangkaian hasil kurang konsisten di liga domestik.
