TLKM Percepat Buyback Rp4 Triliun, Sisa Anggaran di Atas Rp3 Triliun

TLKM Percepat Buyback Rp4 Triliun, Sisa Anggaran di Atas Rp3 Triliun
TLKM Percepat Buyback Rp4 Triliun, Sisa Anggaran di Atas Rp3 Triliun

Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (tlkm) menyiapkan percepatan pelaksanaan pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp4 triliun. Langkah ini diambil untuk mendukung penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham di tengah transformasi bisnis TelkomGroup. Berdasarkan keterangan resmi perusahaan, per 19 Oktober 2026, sisa alokasi dana buyback yang telah disetujui masih lebih dari Rp3 triliun.

Program buyback tlkm telah memperoleh persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 8 Juni 2026. Pelaksanaannya berlangsung selama 12 bulan, yakni mulai 9 Juni 2026 hingga 8 Juni 2027. Manajemen Telkom mengevaluasi percepatan buyback dengan mempertimbangkan kondisi pasar, posisi kas, serta kebutuhan operasional dan investasi perusahaan.

Alasan di Balik Percepatan Buyback

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno mengatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi alokasi modal yang mengutamakan disiplin keuangan. Menurutnya, Telkom memiliki fundamental bisnis yang kuat dan prospek pertumbuhan jangka panjang.

“Kami meyakini Telkom memiliki fundamental bisnis yang kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang. Pelaksanaan buyback merupakan salah satu wujud keyakinan kami terhadap nilai Perseroan, seiring transformasi TelkomGroup melalui strategi TLKM 30 yang diarahkan untuk mengoptimalkan potensi bisnis dan meningkatkan nilai perusahaan,” ujar Nanang dalam keterangan resmi yang dikutip Rabu (21/10/2026).

Ia menambahkan, strategi TLKM 30 menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan potensi bisnis sekaligus meningkatkan nilai perusahaan. Sementara itu, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Telkom Angelo menjelaskan bahwa pelaksanaan buyback tetap memperhatikan prioritas penggunaan modal dan kemampuan arus kas perusahaan.

Telkom akan mendanai program buyback tersebut menggunakan kas internal. Perusahaan juga mempertimbangkan kebutuhan likuiditas agar pelaksanaan buyback tidak mengganggu fleksibilitas keuangan. Dengan demikian, aksi korporasi ini dinilai menunjukkan komitmen alokasi modal, tetapi sekaligus menuntut kedisiplinan karena kas yang sama bersaing dengan kebutuhan operasional dan investasi.

Gelombang Buyback di Tengah Gejolak Pasar

Langkah tlkm bukan fenomena tunggal. Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia menyiapkan atau memperpanjang buyback di tengah gejolak pasar modal, mencakup sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan petrokimia dengan nilai triliunan rupiah.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) memperpanjang pelaksanaan buyback menjadi 19–23 Oktober 2026 dari sebelumnya berakhir 21 Oktober. Perpanjangan itu merupakan kelanjutan realisasi pada April dan Juni 2026, dalam payung persetujuan RUPST 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. BCA sendiri menyatakan buyback tidak berdampak material pada kinerja keuangan maupun kegiatan usaha perseroan.

Sementara itu, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) melanjutkan program yang diumumkan pada Juli 2026 sampai 26 Oktober 2026 dan tengah mencermati kemungkinan perpanjangan. Adapun PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) masih mengkaji opsi serupa.

Secara mekanis, buyback adalah aksi korporasi membeli kembali saham beredar. Aksi ini dapat menopang harga saham, memberi nilai bagi pemegang saham, atau mengelola struktur modal. Namun dampaknya tidak seragam karena bergantung pada kondisi pasar dan kinerja masing-masing emiten.

Konteks Pasar yang Menekan

Gelombang buyback muncul di tengah kondisi pasar yang menantang. Data pasar terkini menempatkan IHSG di level 5.234 dengan kenaikan harian 4,76 persen, kurs USD/IDR di 17.978, dan harga minyak Brent di US$110,37. Kombinasi kurs yang lemah dan harga minyak yang tinggi menaikkan biaya impor, menekan margin emiten padat energi, serta mempersempit ruang pelonggaran moneter.

Dalam kondisi seperti ini, buyback lebih berfungsi sebagai jangkar psikologis dan penopang likuiditas saham ketimbang pengubah fundamental jangka pendek. Bagi bank besar, sinyal kepercayaan dan stabilisasi pasar dinilai lebih relevan daripada efek pengurangan jumlah saham beredar.

Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (20/10/2026), IHSG ditutup menguat tajam 5,65 persen ke level 5.278,88. Sebanyak 670 saham menguat, 99 saham melemah, dan 30 saham stagnan, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp9.307 triliun. Saham tlkm tercatat melonjak 16,38 persen ke level Rp2.060 per saham pada perdagangan tersebut, seiring penguatan saham perbankan seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

Penguatan indeks terjadi di tengah upaya regulator memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia. Meski demikian, kenaikan tersebut belum cukup untuk menandai bahwa pasar saham telah sepenuhnya pulih.

Yang Perlu Dicermati ke Depan

Buyback dari bank dan BUMN besar bukan sekadar aksi korporasi rutin. Langkah ini menjadi sinyal bahwa tekanan valuasi dan likuiditas sudah cukup nyata untuk direspons dengan menggunakan kas perusahaan. Emiten dengan neraca kuat yang mampu membeli saham sendiri tanpa mengganggu belanja modal berada dalam posisi lebih baik dibanding emiten berkapitalisasi kecil tanpa ruang kas yang harus menanggung tekanan pasar sendirian.

Bagi tlkm, percepatan buyback dengan sisa anggaran di atas Rp3 triliun menjadi ujian kedisiplinan pengelolaan kas. Efeknya tidak mengubah fundamental perusahaan, tetapi dapat memperpanjang umur rebound dan menunda koreksi yang lebih dalam. Pelaku pasar akan mencermati realisasi program ini hingga batas akhir periode pada 8 Juni 2027, termasuk seberapa besar alokasi yang benar-benar terserap di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *