Trump Ancam Tarif Tambahan ke Korsel jika Tak Dukung Proyek LNG Alaska

Trump Ancam Tarif Tambahan ke Korsel jika Tak Dukung Proyek LNG Alaska
Trump Ancam Tarif Tambahan ke Korsel jika Tak Dukung Proyek LNG Alaska

Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump ancam kenakan tarif tambahan ke Korsel jika tak dukung proyek LNG Alaska. Ancaman itu disampaikan Trump dari Gedung Putih pada Jumat (2/10/2026) waktu setempat, hanya dua hari setelah ia mengumumkan keterlibatan Korea Selatan dalam proyek gas alam cair raksasa tersebut. “Saya tidak gegabah mengambil tindakan. Maksud saya, mereka ada di sana dan diwakili. Dan kita lihat saja. Jika mereka tidak mau melakukannya, saya tidak masalah. Saya hanya akan mengenakan biaya lebih kepada mereka,” kata Trump, seperti dikutip kantor berita Antara.

Pernyataan itu muncul ketika Trump ditanya apakah ia terlalu cepat mengumumkan keterlibatan Seoul. Ia bahkan menambahkan, “Beri tahu mereka, jika mereka tidak segera menandatanganinya, saya akan menggandakannya.” Namun, baik Trump maupun Gedung Putih tidak menjelaskan secara rinci apa yang dimaksud dengan “membebankan lebih banyak” atau apa yang akan dilipatgandakan.

Seoul Belum Ambil Keputusan Final

Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa keterlibatan dalam proyek LNG Alaska belum diputuskan. Seoul masih melakukan peninjauan berdasarkan pertimbangan komersial dan hukum. Menteri Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan Kim Jung-kwan pada Kamis (1/10) membantah adanya kesepakatan resmi mengenai LNG Alaska. Ia menyatakan kedua pihak hanya menyepakati tiga poin dalam lembar fakta bersama.

Menteri tersebut menegaskan bahwa angka maupun pernyataan bersifat pasti dari Washington melampaui apa yang sebenarnya telah dibahas. Dilansir dari The Korea Times, Seoul menyatakan belum mengambil keputusan final terkait partisipasi dalam proyek tersebut.

Proyek LNG Alaska mencakup pembangunan pipa sepanjang 1.298 kilometer dari North Slope menuju Alaska bagian selatan. Pipa itu akan mengangkut gas alam yang setelah itu didinginkan menjadi bentuk cair sebelum dikirim ke Asia. Proyek ini menjadi salah satu bagian dari paket investasi strategis Korea Selatan di Amerika Serikat.

Paket Investasi 200 Miliar Dolar AS

Pada Rabu (30/9/2026), Trump mengumumkan proyek-proyek pertama dari paket investasi strategis Korea Selatan di Amerika Serikat. Ia mengatakan Korea Selatan akan berinvestasi hingga 200 miliar dolar AS atau sekitar Rp3,57 kuadriliun untuk mendukung pembangunan proyek gas alam cair dan energi nuklir utama. Proyek tersebut mencakup delapan pembangkit listrik tenaga nuklir berskala besar, pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas sekitar 6 gigawatt di Texas, serta proyek LNG Alaska.

Paket 200 miliar dolar AS itu merupakan bagian dari komitmen investasi strategis Korea Selatan senilai total 350 miliar dolar AS atau sekitar Rp6,26 kuadriliun yang disepakati dalam kerangka perdagangan kedua negara pada 2025. Dari jumlah tersebut, 150 miliar dolar AS dialokasikan untuk sektor galangan kapal, sedangkan 200 miliar dolar AS untuk investasi strategis lainnya.

Bloomberg sebelumnya melaporkan Seoul akan menginvestasikan 54 miliar dolar AS atau sekitar Rp965 triliun dalam proyek Alaska tersebut. Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan Korea Selatan akan menginvestasikan lebih dari 50 miliar dolar AS atau setara Rp894,43 triliun dalam proyek LNG Alaska.

Proyek EOR dan Kejutan bagi Seoul

Selain proyek LNG Alaska, Trump pada Jumat juga mengumumkan proyek pengurasan minyak tahap lanjut atau enhanced oil recovery (EOR) senilai 8,4 miliar dolar AS atau sekitar Rp150,26 triliun melalui Truth Social. Ia mengatakan kesepakatan dengan Korea Selatan “terus membaik”, tetapi tidak memberikan perincian proyek tersebut.

Pengumuman itu mengejutkan Seoul karena pemerintah Korea Selatan menilai proyek EOR tidak termasuk dalam kesepakatan investasi strategis bilateral. Seorang pejabat Kementerian Perdagangan, Industri, dan Energi Korea Selatan menyatakan kesepakatan investasi strategis kedua negara terbatas pada hal-hal yang tercantum dalam lembar fakta bersama dan siaran pers.

Yonhap News Agency menegaskan belum jelas apakah pernyataan Trump merujuk pada tarif, beban perdagangan lain, atau bentuk tekanan ekonomi berbeda. Karena itu, pernyataan Trump belum dapat secara pasti disebut sebagai ancaman menaikkan tarif. Yang dapat dipastikan, presiden AS tersebut menghubungkan ketidakikutsertaan Korea Selatan dalam proyek LNG Alaska dengan kemungkinan beban ekonomi yang lebih besar terhadap Seoul.

Dampak dan Hal yang Perlu Dicermati

Ketegangan ini muncul di tengah kerangka perdagangan yang telah disepakati kedua negara pada 2025. Korea Selatan sebelumnya berkomitmen menginvestasikan 350 miliar dolar AS di Amerika Serikat sebagai imbalan atas tarif AS yang lebih rendah terhadap barang Korea Selatan. Proyek pembangkit listrik bertenaga gas siklus gabungan di Texas menjadi yang pertama dalam komitmen tersebut.

Jika ancaman Trump benar-benar diwujudkan, kebijakan tarif tambahan berpotensi memengaruhi ekspor Korea Selatan ke Amerika Serikat. Namun, hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai bentuk, besaran, maupun dasar hukum dari “biaya lebih” yang dimaksud. Pemerintah Korea Selatan juga belum memberikan keputusan final mengenai partisipasinya dalam proyek LNG Alaska.

Perkembangan selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah apakah Seoul akan menandatangani kesepakatan proyek LNG Alaska atau tetap bertahan pada posisinya. Selain itu, kejelasan mengenai cakupan kesepakatan investasi strategis bilateral, termasuk status proyek EOR, masih menunggu penjelasan resmi dari kedua pemerintah. Publik dan pelaku pasar akan mencermati apakah pernyataan Trump berlanjut menjadi kebijakan tarif konkret atau hanya menjadi tekanan politik dalam negosiasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *