Trump Klaim Ekonomi Iran Sangat Buruk, Puji Menkeu AS atas Operasi Pengasingan Ekonomi

Trump Klaim Ekonomi Iran Sangat Buruk, Puji Menkeu AS atas Operasi Pengasingan Ekonomi
Trump Klaim Ekonomi Iran Sangat Buruk, Puji Menkeu AS atas Operasi Pengasingan Ekonomi

Cakrawala News – 24 September 2026 | Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menyoroti kondisi ekonomi Iran dalam pidatonya di Sidang Majelis Umum PBB (UNGA) ke-81 di New York. Dalam kesempatan itu, Trump klaim ekonomi Iran dalam kondisi sangat buruk, puji menkeu AS atas operasi pengasingan ekonomi yang dijalankan Washington terhadap Teheran. Pernyataan tersebut menjadi salah satu poin penting dari pidato yang juga menyinggung perang Rusia-Ukraina, isu kecerdasan buatan (AI), hingga persoalan negara gagal.

Menurut Trump, tekanan ekonomi yang berkelanjutan telah membuat Iran berada dalam posisi sulit. Ia menilai langkah pengasingan ekonomi yang dijalankan Menteri Keuangan AS berhasil memperkuat posisi tawar Washington dalam menghadapi Teheran. Trump menyampaikan hal itu di hadapan para delegasi negara anggota PBB, Selasa waktu setempat.

Dalam pidatonya, Trump secara terbuka mempertimbangkan dua opsi besar terhadap Iran. Ia mengaku sedang menimbang apakah akan menghancurkan Iran sepenuhnya atau terus bernegosiasi dengan negara itu. Namun, ia menegaskan satu hal yang pasti: Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.

“Akankah ada kesepakatan dengan Iran yang membuat mereka menjadi negara yang lebih hebat dari sebelumnya… atau haruskah saya mengakhiri Republik Islam itu, dan melakukannya dengan cepat tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh serta menghancurkan orang-orang dan negara lain lagi?” kata Trump.

Ia bahkan menyampaikan ancaman yang lebih keras. “Atau haruskah saya mencampakkan mereka ke neraka tanpa peluang untuk selamat dan tanpa harapan akan kejayaan atau generasi masa depan?” ujarnya. Meski demikian, Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan dengan Iran akan tercapai tepat setelah pemilihan umum.

Pernyataan itu merujuk pada pemilu sela AS pada November mendatang, yang akan menentukan kursi Senat dan DPR. Partai Republik yang merupakan partai Trump dinilai terancam karena merosotnya tingkat persetujuan terhadap presiden.

Penolakan Iran dan Optimisme Trump

Dalam kesempatan terpisah, Trump menyatakan Iran kembali menolak proposal kesepakatan damai yang diajukan Amerika Serikat. Ia meyakini kesepakatan damai dengan Iran akan terwujud setelah pemilu paruh waktu. Trump juga berjanji melarang Iran memiliki senjata nuklir dan memprediksi harga minyak dunia akan anjlok.

“Sekali lagi, saya mendesak Iran untuk membuat kesepakatan. Dan sekali lagi, mereka menolak,” kata Trump dari podium Sidang Majelis Umum PBB di New York. Menurutnya, langkah kompromi merupakan satu-satunya pilihan rasional bagi Teheran demi mengakhiri ketegangan geopolitik yang berlarut-larut.

Trump menilai penolakan berulang dari pihak Iran hanya akan menunda pemulihan ekonomi dan keamanan kawasan. “Saya yakin kita akan mencapai kesepakatan tepat setelah pemilu karena tidak masuk akal bagi mereka (Iran) untuk tidak melakukannya,” ucapnya.

Opsi Militer dan Diplomasi

Sebelumnya, Trump juga menegaskan siap mengambil langkah drastis terhadap Iran jika negara tersebut menolak mengubah arah kebijakannya. Ia menyebut opsi penyerangan militer hingga penandatanganan kesepakatan damai kini berada di mejanya.

Eskalasi ketegangan ini memasuki babak baru seiring sinyal keterbukaan Washington untuk berdialog langsung di forum internasional. Pemerintah AS secara terbuka menimbang dampak ekonomi jangka panjang maupun tindakan militer penuh sebagai konsekuensi bagi Teheran.

Kepada jaringan televisi AS, Fox News, Trump mengatakan, “Pertanyaannya adalah apakah dan kapan saya akan menghancurkan seluruh negara itu? Mereka sebaiknya menjaga sikap.” Ia menambahkan bahwa hal-hal yang sangat besar akan terjadi dalam waktu dekat.

Peluang dialog bilateral dilaporkan tetap terbuka di tengah panasnya retorika ancaman militer dari Gedung Putih. Momentum Sidang Majelis Umum PBB menjadi panggung potensial bagi pencairan hubungan kedua negara. Trump mengisyaratkan kesediaannya untuk menempuh jalur diplomasi, termasuk membuka peluang bertemu langsung dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Isu AI dan Negara Gagal

Selain Iran, Trump menyinggung soal kecerdasan buatan dalam pidatonya. Ia mengklaim AS saat ini memimpin dengan jelas dalam perlombaan AI, seraya menambahkan bahwa yang pertama berhasil mengembangkannya dengan tepat akan keluar sebagai pemenang. Ia pun menanggapi kritik dan seruan untuk mengatur AI yang muncul belakangan ini.

Trump juga menyatakan tidak menyukai penggunaan kata “artificial” atau buatan karena kata itu membuatnya terdengar palsu. Ia mengawali pidatonya dengan membahas ekonomi AS, tingkat lapangan kerja dan kemiskinan, pemangkasan regulasi dan pajak, pasar saham, serta keamanan perbatasan. Trump menegaskan bahwa AS adalah pemimpin dalam hampir segala hal dan masa depannya sangat cerah.

Pidato tersebut juga menyinggung isu negara gagal dan perang Rusia-Ukraina, meski tidak dijelaskan secara rinci dalam sumber yang dihimpun. Kombinasi tekanan ekonomi, ancaman militer, dan tawaran negosiasi menjadi ciri pendekatan dwifungsi Washington terhadap Teheran.

Dengan posisi ekonomi Iran yang dinilai Trump sangat buruk, arah kebijakan luar negeri AS terhadap Teheran dalam beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada dinamika politik domestik menjelang pemilu sela November. Perkembangan ini menjadi perhatian dunia karena berpotensi memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.

Yang perlu dicermati selanjutnya adalah apakah Iran akan mengubah sikapnya setelah pemilu AS, serta sejauh mana operasi pengasingan ekonomi yang dipuji Trump mampu mendorong Teheran kembali ke meja perundingan. Sampai saat itu, ketegangan antara Washington dan Teheran diperkirakan masih menjadi salah satu isu paling sensitif dalam politik internasional.

Exit mobile version