Trump Sambut Xi Jinping di Pangkalan Militer AS dengan Karpet Merah dan Flypast Bomber B-1

Trump Sambut Xi Jinping di Pangkalan Militer AS dengan Karpet Merah dan Flypast Bomber B-1
Trump Sambut Xi Jinping di Pangkalan Militer AS dengan Karpet Merah dan Flypast Bomber B-1

Cakrawala News – 26 September 2026 | Saat Militer AS sampai berjongkok siapkan karpet merah sambut Xi Jinping menjadi sorotan dunia ketika Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara langsung menyambut kedatangan Presiden China Xi Jinping di Joint Base Andrews, Maryland, pada Rabu waktu setempat. Penyambutan itu tergolong langka karena biasanya pemimpin asing disambut di Gedung Putih, bukan di pangkalan militer tempat pesawat kepresidenan Air Force One biasa parkir.

Trump didampingi Ibu Negara Melania Trump menyambut Xi dan istrinya, Peng Liyuan, tepat di samping pesawat yang membawa rombongan pemimpin China tersebut. Karpet merah sepanjang sekitar 100 kaki atau kurang lebih 30 meter digelar di landasan pacu, sementara korps musik militer memainkan lagu kebangsaan kedua negara dan dentuman meriam upacara terdengar di area penyambutan.

Momen tersebut menjadi kunjungan pertama Xi ke Amerika Serikat dalam kurun waktu hampir tiga tahun. Kedua pemimpin tampak tersenyum, berjabat tangan, dan berbincang sejenak sebelum berfoto bersama. Trump yang mengenakan mantel panjang dan sarung tangan kemudian berdiri berdampingan dengan Xi saat upacara militer berlangsung.

Flypast Bomber B-1 dan Reaksi Trump

Bagian yang paling menyita perhatian dalam upacara itu adalah atraksi terbang lintas dua pesawat pengebom militer B-1 di atas lokasi. Suara mesin pesawat yang bising membuat Trump sempat mengernyit, sementara Xi dilaporkan tetap berdiri tenang di sampingnya.

Menurut laporan kantor berita Reuters, penyambutan langsung di Joint Base Andrews ini disebut sebagai pengecualian dari protokol biasa. Saluran yang memantau agenda kepresidenan, C-SPAN, mencatat bahwa ini adalah kali pertama seorang presiden AS menyambut pemimpin asing di pangkalan tersebut sejak Presiden Barack Obama menyambut Paus Fransiskus pada 2015. Sementara itu, sejumlah media AS menyebut momen ini sebagai yang pertama dalam 11 tahun, dan ada pula yang merujuk pada penyambutan Presiden John F. Kennedy pada 1962 di lokasi yang sama, di luar kunjungan kenegaraan Paus.

Trump sendiri menilai penyambutan itu berjalan baik. Kepada wartawan di Gedung Putih setelah acara, ia menyebut pertemuan singkat tersebut sebagai penyambutan yang sangat baik dan yakin tamunya menghargainya.

Agenda Tiga Hari dan Isu yang Dibahas

Xi dijadwalkan berada di Washington selama tiga hari. Pembicaraan tingkat tinggi antara kedua pemimpin mencakup sejumlah isu utama, mulai dari perdagangan, Taiwan, kecerdasan buatan atau AI, hingga situasi keamanan terkait Iran. Pertemuan puncak dijadwalkan berlangsung pada Kamis waktu setempat.

Kunjungan ini berlangsung setelah pemerintahan Trump mengumumkan bahwa AS dan China sepakat memperpanjang kesepakatan perdagangan selama 11 bulan yang sebelumnya memberikan keringanan sementara dari tarif tinggi. Kebijakan tarif menjadi salah satu titik ketegangan utama kedua negara dalam beberapa tahun terakhir, dengan Beijing membalas langkah Washington melalui kebijakan serupa.

Selama berada di Washington, Xi dijadwalkan menghadiri jamuan makan kenegaraan yang akan dihadiri para pemimpin industri teknologi AS. Ia juga akan mengikuti upacara militer di Gedung Putih dan mengunjungi National Archives, tempat penyimpanan dokumen bersejarah penting, termasuk Konstitusi AS dan Deklarasi Kemerdekaan.

Pesan Xi: Mitra, Bukan Rival

Dalam pernyataan tertulis setelah kedatangannya, Xi menegaskan bahwa China dan AS seharusnya menjadi mitra, bukan rival. Menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua, Xi menyatakan bahwa kebangkitan besar bangsa China dan upaya menjadikan Amerika kembali hebat dapat berjalan beriringan, saling melengkapi, dan memberikan manfaat bagi dunia.

Xi juga menekankan pentingnya kedua negara saling mendekat untuk membangun hubungan yang stabil dengan mengutamakan kerja sama, menjaga persaingan tetap dalam batas, mengelola perbedaan, dan memelihara prospek perdamaian. Ia berharap kunjungan ini menghasilkan capaian positif, meningkatkan kesejahteraan masyarakat kedua negara, serta membawa harapan baru bagi perdamaian dunia.

Pernyataan itu disampaikan di tengah persaingan yang masih ketat, terutama di bidang AI. China dan AS sama-sama berupaya menjadi kekuatan dominan pada sektor yang dipandang krusial bagi masa depan abad ini, sehingga isu AI diperkirakan menjadi salah satu pembahasan utama dalam pertemuan tersebut.

Kritik dari Dalam Partai Republik

Penyambutan mewah Trump terhadap Xi tidak sepenuhnya mendapat dukungan di dalam negeri. Kelompok garis keras terhadap China di internal Partai Republik mengkritik langkah tersebut, terutama di tengah laporan bahwa Beijing memasok informasi intelijen kepada Iran untuk melakukan serangan terhadap pasukan AS.

Senator Partai Republik Roger Wicker, Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat yang berpengaruh, menilai penyambutan itu tidak seharusnya dilakukan. Menurutnya, tamu yang diterima adalah pemimpin yang tidak dipilih melalui pemilu dan represif. Kritik itu mencerminkan masih adanya perbedaan pandangan di Washington mengenai sejauh mana pendekatan diplomatik kepada Beijing perlu ditempuh.

Meski demikian, hubungan pribadi antara Trump dan Xi menjadi faktor penting dalam kunjungan ini. Trump secara pribadi menyatakan kedekatannya dengan Xi dan keinginannya membangun hubungan yang kuat dengan China. Sebelumnya, Trump juga berkunjung ke Beijing pada Mei, dan ia pernah menyambut langsung Presiden Rusia Vladimir Putin saat turun dari pesawat di Alaska tahun lalu.

Yang Perlu Dicermati Selanjutnya

Penyambutan di Joint Base Andrews menunjukkan betapa pentingnya hubungan Washington dan Beijing bagi AS. Pertumbuhan ekonomi China yang pesat dalam beberapa dekade terakhir telah mengubah negara itu menjadi kekuatan global yang mampu menyaingi Amerika Serikat, sehingga setiap gestur diplomatik kedua pemimpin memiliki bobot politik tersendiri.

Setelah upacara penyambutan, kedua pemimpin berpisah untuk melanjutkan agenda masing-masing sebelum pertemuan resmi. Hasil pembicaraan mengenai perdagangan, AI, Taiwan, dan Iran akan menjadi penentu apakah kunjungan tiga hari ini benar-benar menghasilkan kesepahaman baru, atau sekadar menjadi pertunjukan simbolik di tengah persaingan kedua negara yang masih berlangsung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *