Cakrawala News – 08 September 2026 | Ukraina resmi menginstruksikan masa hening di garis depan selama tiga hari, mulai Sabtu (5/8/2026), sebagai respons atas kedatangan delegasi Amerika Serikat (AS) ke Moskow dan Kiev untuk melanjutkan perundingan damai. Keputusan ini diumumkan di tengah upaya diplomasi yang sempat terhenti akibat konflik AS-Iran sejak akhir Februari 2026.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, menyatakan akan menunda serangan udara ke sejumlah kota di Rusia hingga Senin sebagai bentuk dukungan terhadap proses negosiasi. “Saya sudah berbicara dengan delegasi AS. Mereka sudah bekerja sama dengan Rusia hari ini. Maka dari itu kami mengadakan gencatan senjata serangan udara di kota yang ikut dalam proses negosiasi,” ujarnya, dikutip dari Ukrinform.
Namun, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tetap aktif dalam diplomasi dan langkah ini merupakan bagian dari upaya mengakhiri perang. “Diplomasi adalah jalan untuk mengakhiri perang di Ukraina,” tambahnya.
Meski masa hening diumumkan, Direktorat Komunikasi Militer Ukraina menyatakan bahwa pertempuran di garis depan masih berlanjut karena Rusia tidak menghentikan serangannya. “Gencatan senjata tidak dapat dilakukan secara unilateral atau itu akan mengancam nyawa dan kesehatan dari tentara kami. Maka dari itu, sekarang, tentara di garis depan melakukan operasi pertahanan secara penuh,” ujar perwakilan direktorat tersebut, dikutip dari Ukrainska Pravda.
Pada hari yang sama, Presiden Rusia, Vladimir Putin, memutuskan untuk menghentikan serangan udara ke Kiev selama tiga hari ke depan. Langkah ini diambil sebagai respons timbal balik atas keputusan Ukraina, menyusul kedatangan delegasi AS yang diwakili oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner di Kiev, seperti dilansir Democrata.
Kendati demikian, Zelenskyy menuding Rusia telah meluncurkan beberapa serangan ke bandara di Kiev dan Borispol, menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih rapuh.
Masa hening ini menjadi ujian bagi komitmen kedua belah pihak untuk menahan diri dan memberi ruang bagi diplomasi. Kehadiran delegasi AS diharapkan dapat menjembatani perbedaan dan mendorong tercapainya kesepakatan damai yang selama ini dinanti.
Perundingan damai antara Rusia dan Ukraina yang dimediasi AS sempat terhenti setelah pecahnya perang AS-Iran. Kini, dengan kembalinya negosiasi, dunia menanti langkah konkret yang dapat mengakhiri konflik berkepanjangan di Eropa Timur ini.
Meskipun masa hening hanya bersifat sementara, keputusan ini menunjukkan adanya kemauan politik dari kedua negara untuk kembali ke meja perundingan. Namun, efektivitas gencatan senjata ini masih perlu dibuktikan di lapangan, mengingat serangan sporadis yang masih terjadi.
Ke depan, masyarakat internasional akan mengawasi apakah masa hening ini dapat diperpanjang dan menjadi landasan bagi gencatan senjata permanen. Keberhasilan diplomasi ini tidak hanya menentukan nasib Ukraina, tetapi juga stabilitas kawasan Eropa dan hubungan global.




