Zach Cregger Akui Belum Pernah Menonton Film Resident Evil Meski Menyetradai Versi Baru

Zach Cregger Akui Belum Pernah Menonton Film Resident Evil Meski Menyetradai Versi Baru
Zach Cregger Akui Belum Pernah Menonton Film Resident Evil Meski Menyetradai Versi Baru

Cakrawala News – 20 September 2026 | Sutradara Zach Cregger mengaku belum pernah menonton satu pun film Resident Evil sebelumnya, meski kini ia dipercaya menyutradarai installment terbaru dalam franchise tersebut. Pengakuan itu mencuat dalam wawancara dengan The Guardian, di mana Cregger ditanya soal hubungan filmnya dengan delapan film live-action dan empat film animasi Resident Evil yang sudah lebih dulu tayang.

“I couldn’t really say. I’ve never seen one,” ujar Cregger, dikutip dari wawancara tersebut. Pernyataan itu langsung menjadi sorotan karena Cregger justru dikenal sebagai sutradara horor yang sukses lewat Barbarian (2022) dan Weapons (2025).

Meski begitu, Cregger menegaskan bahwa film Resident Evil terbarunya bukan sekadar proyek yang menempelkan nama besar franchise pada cerita buatannya. Ia menyebut karyanya merupakan cerita orisinal yang memang dikonsep sebagai bagian dari semesta Resident Evil.

“The point is, it’s an original movie, even though it is Resident Evil,” katanya.

Cerita Baru yang Berjalan Paralel dengan Resident Evil 2

Film garapan Cregger ini mengambil latar waktu yang berjalan paralel dengan peristiwa Resident Evil 2. Alih-alih mengangkat karakter ikonik seperti Jill Valentine atau Chris Redfield, film ini mengikuti Bryan, seorang kurir medis yang diperankan Austin Abrams.

Dalam sinopsisnya, Bryan tanpa sengaja terjebak dalam perlombaan bertahan hidup yang penuh aksi ketika satu malam yang mengerikan menghancurkan segalanya di sekitarnya. Ia berusaha mengantar sebuah kotak pendingin berisi organ transplantasi dari rumah sakit di dataran rendah menuju rumah sakit lain di kawasan pegunungan terpencil dekat Raccoon City, Colorado.

Tanpa diketahui Bryan, wabah zombie tengah berlangsung di sana. Sepanjang film, ia berpindah lingkungan layaknya pemain game, mulai dari jalan bersalju, rumah pertanian terbengkalai, hingga terowongan limbah.

Kritik Fans dan Respons Publik

Keputusan Cregger menggarap Resident Evil sempat menuai reaksi keras dari sebagian penggemar. Sejak trailer pertama dirilis pada April, ia mengaku banyak mendapat kritik daring, termasuk tuduhan bahwa ia hanya ingin membuat film versi dirinya sendiri lalu menempelkan label Resident Evil demi mendapat anggaran lebih besar.

“Which is not the case. It was conceived to be a Resident Evil story,” tegasnya. Ia meyakini penonton akan menyadarinya saat menonton film tersebut.

Terlepas dari polemik itu, sejumlah pengulas menilai pendekatan Cregger justru berhasil. Ulasan The Irish Times menyebut film ini sebagai “the best Resident Evil film in the franchise’s long history” dan menilainya sebagai tontonan yang menghibur dengan body horror yang kuat.

Pendekatan yang diambil Cregger adalah tidak mereplikasi game secara harfiah, melainkan menghadirkan kembali sensasi bermain game. Ia menggunakan sudut kamera over-the-shoulder yang identik dengan game third-person shooter untuk meniru pengalaman bermain.

“That’s how I talk to myself when I’m sitting on the couch playing Resident Evil,” ujarnya soal dialog Bryan yang sebagian besar berupa monolog penuh umpatan.

Perjalanan Panjang Resident Evil di Layar Lebar

Resident Evil pertama kali hadir sebagai game survival horror Jepang untuk PlayStation pada 1996. Adaptasi live-action pertamanya dirilis pada 2002, disutradarai Paul WS Anderson dan dibintangi Milla Jovovich sebagai karakter orisinal bernama Alice.

Franchise itu kemudian berkembang menjadi enam film yang meraup pemasukan sekitar 1,23 miliar dolar Amerika Serikat. Selain itu, ada empat film animasi CGI, yakni Degeneration, Damnation, Vendetta, dan Death Island, yang ceritanya lebih terhubung dengan semesta game.

Setelah perjalanan Alice berakhir pada The Final Chapter (2016), franchise ini sempat di-reboot lewat Resident Evil: Welcome to Raccoon City (2021). Film itu mendapat kritik karena alur cerita yang dinilai terburu-buru dan kualitas visualnya.

Di sisi lain, pengalaman produksi film terbaru ini tidak berjalan mulus. Cregger mengaku syuting di kawasan pedesaan Ceko sangat berat.

“It was dark. It was cold. It was unrelenting. I had pneumonia for the first half of the movie, and a horrible bacterial infection for the back half … It sucked,” kenangnya.

Kendati demikian, ia memuji karakter Bryan yang dinilainya sebagai karakter yang meyakinkan dalam situasi tersebut, sekaligus berperilaku seperti kebanyakan orang yang memainkan Resident Evil.

Film Resident Evil terbaru ini kini tayang di bioskop. Bagi industri adaptasi video game, pendekatan Cregger menawarkan satu pelajaran penting: alih-alih meniru game secara mentah, menghadirkan kembali sensasi bermainnya bisa menjadi kunci. Publik pun tampaknya menantikan apakah formula ini benar-benar mampu memecahkan kutukan adaptasi video game yang selama ini sulit dihindari Hollywood.

Exit mobile version