Cakrawala News – 12 September 2026 | Sebanyak 65 santri Pondok Pesantren Amanatul Ummah diterima melanjutkan studi ke sejumlah perguruan tinggi Timur Tengah, termasuk ke Yordania. Pelepasan para lulusan itu dilakukan langsung oleh Pengasuh Amanatul Ummah, Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, di kediamannya di kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Jalan Siwalankerto, Surabaya, Kamis (10/9/2026) sore.
Dari jumlah tersebut, dua santri diketahui diterima di University of Jordan, Yordania. Mayoritas lainnya menempuh pendidikan di Mesir, Maroko, dan Tunisia, menjadikan Yordania salah satu tujuan studi baru bagi lulusan pesantren tersebut.
Rincian penerimaan mahasiswa baru itu disampaikan Kiai Asep dalam pengarahan kepada para santri. Sebanyak 52 santri diterima di Al Azhar University, Mesir, melalui jalur prestasi hingga beasiswa. Selain itu, tujuh santri diterima di Universitas Al Qawariyyin, Maroko, empat santri di Universitas Zaitunah, Tunisia, dan dua santri di University of Jordan, Yordania.
Dalam sesi pelepasan itu, Kiai Asep didampingi Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk, guru tugas dari Universitas Al Azhar Mesir untuk Amanatul Ummah. Suasana pertemuan berlangsung hangat, diwarnai arahan dan doa bagi para santri yang akan berangkat ke negeri masing-masing tujuan.
Pesan Kiai Asep Sebelum Santri Berangkat
Kiai Asep menekankan pentingnya doa dan kedisiplinan bagi para santri selama menempuh pendidikan di luar negeri. Ia mengingatkan agar mereka tidak berhenti berdoa dan menjaga ibadah, termasuk salat malam 12 rakaat yang ditutup dengan salat witir tiga rakaat dua kali salam, sekitar satu jam sebelum Subuh.
Ia juga berpesan agar para santri tidak hanya mengejar status formal sebagai mahasiswa. Menurutnya, yang terpenting adalah belajar secara serius agar kelak kembali ke tanah air dengan kesuksesan dan kebahagiaan.
Kiai Asep berharap para santrinya tidak berpuas diri dengan gelar sarjana strata satu. Ia mendorong mereka melanjutkan pendidikan hingga jenjang magister, bahkan doktor, jika memungkinkan.
Sejumlah pesan lain turut disampaikan, mulai dari pentingnya kesungguhan dan konsistensi dalam menuntut ilmu, menjaga wudu, rutin membaca Al-Qur’an meski hanya 10 hingga 15 menit per hari, hingga menjauhi perbuatan maksiat. Para santri juga diminta mengatur pola makan, tidak makan hingga kekenyangan, serta memasak sendiri daripada sering jajan di luar.
Kiai Asep juga mengingatkan pentingnya menjalin silaturahmi dengan sesama teman selama berada di luar negeri. Ia meminta para santri membiasakan diri menggunakan bahasa Arab dan bahasa Inggris dalam komunikasi sehari-hari sebagai bekal utama menempuh studi di kawasan Timur Tengah.
Tujuan Pendidikan dan Harapan Jangka Panjang
Dalam arahannya, Kiai Asep menyebut sejumlah tujuan yang diharapkan dicapai lulusan Amanatul Ummah. Para santri didorong menjadi ulama besar dan ilmuwan besar yang mampu memberikan manfaat, terutama bagi Indonesia. Ia juga berharap mereka tumbuh menjadi pemimpin bangsa dan negara yang bertekad menegakkan keadilan serta mewujudkan kesejahteraan.
Selain itu, Kiai Asep menyebut cita-cita agar lulusan Amanatul Ummah menjadi pengusaha besar yang berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kepedulian kepada kaum fakir miskin membutuhkan dukungan dari mereka yang memiliki kemampuan secara ekonomi.
Ia pun berharap para santri menjadi profesional berkualitas dan bertanggung jawab di bidang masing-masing. Dalam pandangannya, cita-cita yang tinggi akan memudahkan tercapainya apa yang diimpikan, sejalan dengan keyakinan bahwa Allah menyukai hal-hal yang luhur dan membenci hal-hal yang remeh.
Kiai Asep menutup pengarahan dengan doa agar para santri selamat dalam perjalanan, dimudahkan segala urusan selama berada di luar negeri, dan mampu mewujudkan cita-cita mereka.
Pelepasan ini menegaskan posisi pesantren sebagai pemasok mahasiswa bagi perguruan tinggi Timur Tengah, dengan Yordania kini masuk dalam daftar negara tujuan. Keberangkatan 65 santri tersebut menjadi perhatian tersendiri, terutama karena sebagian di antaranya diterima melalui jalur prestasi hingga beasiswa di kampus-kampus ternama di kawasan tersebut.
Perkembangan selanjutnya yang patut dicermati adalah proses adaptasi para santri di negara masing-masing, termasuk di Yordania, serta bagaimana mereka memanfaatkan kesempatan studi untuk berkontribusi setelah kembali ke Indonesia.






