Cakrawala News – 19 September 2026 | Kualitas udara hari ini di Kota Jambi kembali memburuk ke kategori sangat tidak sehat setelah kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti sejumlah wilayah. Berdasarkan data IQAir yang dipantau pada Jumat (18/9) pukul 15.10 WIB, indeks kualitas udara Kota Jambi berada pada AQI US 224 dengan polutan utama PM2.5 yang konsentrasinya mencapai 148,4 µg/m³.
Juru Bicara Pemerintah Kota Jambi, Saleh Ridho, mengatakan perubahan kualitas udara terjadi cukup cepat dalam satu hari. Menurutnya, kondisi udara sempat membaik pada pagi hari di level tidak sehat, tetapi kembali memburuk pada sore hari ketika kabut mulai tampak pekat.
“Ya, kondisi udara hari ini masuk kategori sangat tidak sehat. Pagi tadi sempat membaik, berkurang di level tidak sehat. Sore ini lantaran kabut mulai tampak pekat, kualitas udara kembali memburuk di level sangat tidak sehat,” kata Saleh Ridho.
Saleh menyebut kondisi ini sudah berlangsung dalam beberapa hari terakhir. Karena itu, Pemerintah Kota Jambi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah.
“Ini kita imbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di luar rumah jika tidak begitu penting dan selalu menggunakan masker,” ujarnya.
Menurut Saleh, kondisi indeks standar pencemar udara (ISPU) tersebut perlu menjadi perhatian karena berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat. Ia menyatakan kualitas udara sudah terus memburuk sejak tiga hari sebelumnya.
Dampak Kabut Asap di Jambi
Kabut asap juga dirasakan langsung oleh warga Kota Jambi. Pada sore hari, kabut terlihat semakin pekat sehingga suasana sekitar tampak berkabut dan jarak pandang ikut berkurang. Sinar matahari pun tampak menguning karena tertutup kabut asap. Kondisi ini dinilai terjadi sejak beberapa hari terakhir seiring meningkatnya kejadian karhutla.
Dampak karhutla di Sumatra tidak hanya terasa pada kualitas udara, tetapi juga aktivitas pendidikan dan kesehatan anak. Berbagai laporan warganet yang dihimpun mengungkapkan anak-anak di Jambi harus menjalani pembelajaran dari rumah selama beberapa minggu. Sekolah di Pekanbaru juga menerapkan pembelajaran jarak jauh, termasuk saat ujian yang dilaksanakan melalui Zoom.
Selain itu, sejumlah warganet melaporkan dampak kesehatan pada anak, seperti sakit berulang dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Seorang dokter anak menyarankan anak di Palembang untuk sementara tetap berada di rumah guna mengurangi paparan udara luar.
Laporan dari Jambi juga menyebut jarak pandang di wilayah tersebut sempat hanya sekitar 1–3 meter, sementara kualitas udara Pekanbaru masuk kategori sangat tidak sehat.
Peningkatan Kasus ISPA di Medan
Kualitas udara yang buruk turut berdampak pada kesehatan masyarakat di Kota Medan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Medan, Shereivia Faradillah, menyatakan jumlah kasus ISPA di kota itu dari Januari hingga Agustus 2026 mencapai 196.547 kasus.
Menurut Shereivia, ada dua faktor penyebab peningkatan kasus tersebut, yakni cuaca ekstrem seperti siang hari yang panas terik dan sore hari hujan, serta kualitas udara yang buruk. Ia menyebut buruknya kualitas udara di Medan disebabkan polusi kendaraan, lingkungan berasap dari pembakaran sampah di area rumah penduduk, serta kebiasaan merokok di dalam ruangan dan di tempat umum.
Dinas Kesehatan Medan mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah saat udara kotor, memakai masker di tempat umum dan di luar ruangan, serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS).
Data Dinas Kesehatan Medan menunjukkan kasus ISPA paling banyak menyerang usia dewasa dengan 65.376 kasus, disusul balita 42.608 kasus, lansia 30.882 kasus, usia anak 29.695 kasus, dan remaja 27.986 kasus. Sebanyak 10 puskesmas tercatat menangani kasus ISPA terbanyak, termasuk Puskesmas Helvetia, Desa Binjai, Kedai Durian, Simpang Limun, Amplas, PB Selayang II, Titipapan, Tegal Sari, Glugur Darat, dan Medan Johor.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Surya, menyatakan curah hujan yang cukup tinggi di Medan membuat paparan asap karhutla tidak seburuk daerah yang mengalami kemarau panjang. Meski demikian, ia mengimbau masyarakat ikut menjaga kualitas udara dengan tidak membakar sampah dan merokok sembarangan.
Penyegelan Perusahaan dan Status Udara Berbahaya
Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menyegel 50 perusahaan yang diduga terlibat dalam karhutla di Sumatera dan Kalimantan. Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Deputi Bidang Penegakan Hukum KLH/BPLH, Dasrul Chaniago, menyatakan penindakan menyasar 14 badan usaha di Sumatera dengan luas lahan terbakar 3.699 hektare, serta 36 badan usaha di Kalimantan dengan luas lahan terdampak 23.634 hektare.
“Total keseluruhan di Sumatera dan Kalimantan ada 27.333 hektare,” ujar Dasrul dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polkam, Jakarta, Kamis (17/9/2026).
Di Sumatera, penyegelan mencakup 11 badan usaha di Sumatera Selatan, satu di Riau, dan dua di Lampung. Sementara di Kalimantan, penyegelan menyasar 18 badan usaha di Kalimantan Barat, masing-masing enam di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, empat di Kalimantan Timur, serta dua di Kalimantan Utara.
Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara KLH/BPLH, Edward Nixon Pakpahan, menyatakan berdasarkan pemantauan ISPU per Kamis (17/9/2026), mayoritas wilayah terdampak berada pada kategori tidak sehat, sangat tidak sehat, hingga berbahaya. Menurutnya, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan berada pada status kualitas udara berbahaya.
Pemerintah mengimbau masyarakat di daerah terdampak membatasi aktivitas di luar ruangan sesuai panduan Peraturan Menteri LH Nomor 14 Tahun 2021 dan Surat Edaran Nomor 17 Tahun 2026. Imbauan itu terutama ditujukan bagi kelompok usia rentan.
“Kita menyarankan untuk status kualitas udara tidak sehat, sangat tidak sehat, kemudian berbahaya adalah bagaimana saudara-saudara kita bapak ibu di daerah terdampak untuk bisa mengurangi aktivitas di luar rumah bahkan lebih intensif di dalam rumah, terutama untuk kelompok usia rendah,” imbau Nixon.
Kualitas Udara Terbersih di Sejumlah Daerah
Di tengah memburuknya kualitas udara di sejumlah wilayah, data KLHK pada Jumat (18/9/2026) pukul 07.00 WIB menunjukkan sejumlah daerah masih memiliki kualitas udara baik. Kendari menempati posisi teratas dengan skor indeks kualitas udara 2, disusul Kabupaten Tasikmalaya dengan skor 5, dan Gorontalo dengan skor 20.
Klasifikasi tersebut mengacu pada Permen LHK No. 14 Tahun 2020 tentang Indeks Standar Pencemar Udara. Artinya, pada waktu pengukuran, kadar polutan di kota-kota tersebut tergolong minim.
Perbedaan kondisi antarwilayah ini menunjukkan bahwa kualitas udara hari ini sangat dipengaruhi oleh faktor lokal, terutama keberadaan titik api karhutla dan arah angin yang membawa asap. Masyarakat di daerah terdampak diminta terus memantau perkembangan ISPU dan mengikuti imbauan pemerintah daerah.
Dengan kabut asap yang diprediksi masih berlangsung, kewaspadaan terhadap dampak kesehatan, terutama bagi anak, lansia, dan kelompok rentan lainnya, menjadi hal utama yang perlu diperhatikan. Penggunaan masker, pembatasan aktivitas luar ruangan, serta penghentian pembakaran lahan dan sampah menjadi langkah yang dinilai penting untuk menekan risiko gangguan pernapasan.






