Cakrawala News – 22 September 2026 | Harga minyak global anjlok usai Houthi serang Arab Saudi pada perdagangan Senin (21/9/2026), meski ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 0,33 poin atau 0,32 persen ke level 102,41 dollar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 1,03 poin atau 1,01 persen ke level 94,64 dollar AS per barel.
Penurunan tersebut tercatat pada pukul 07.55 WIB, lebih rendah dibandingkan perdagangan Jumat (18/9) pagi ketika Brent berada di 103,77 dollar AS per barel dan WTI di 100,86 dollar AS per barel. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif yang sudah berlangsung selama empat hari berturut-turut.
Pada Jumat (18/9/2026) pekan lalu, harga minyak Brent tercatat turun 2,1 persen menjadi 101,70 dollar AS per barel. Sementara itu, WTI juga turun 2,10 persen menjadi 98,20 dollar AS per barel. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp1,8 juta per barel untuk Brent dan Rp1,7 juta per barel untuk WTI.
Sejumlah analis menilai penurunan harga minyak global ini terjadi karena aktivitas ekspor minyak dari Arab Saudi ke pasar global sudah pulih. Menurut analis JPMorgan, aliran minyak dari Timur Tengah tetap sangat kuat meskipun terjadi gangguan pada pipa minyak Timur-Barat yang terletak di Arab Saudi.
Saat ini, jumlah ekspor minyak dari Arab Saudi meningkat menjadi 4 juta barel per hari. Jumlah itu naik drastis dibandingkan Agustus lalu yang hanya 2,4 juta barel per hari. Pemulihan pasokan inilah yang disebut menjadi faktor utama di balik penurunan harga minyak global anjlok usai Houthi serang Arab Saudi.
Serangan Houthi ke Riyadh dan Fasilitas Aramco
Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan rudal dan drone ke Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Sabtu (19/9/2026) pekan lalu. Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi bahwa Houthi mencoba menyerang Riyadh menggunakan rudal balistik.
Serangan tersebut menjadi upaya pertama Houthi menargetkan Riyadh sejak eskalasi perang Iran. Arab Saudi menyatakan rudal itu berhasil dicegat. Sejumlah warga Riyadh sempat mendengar ledakan dan melihat kepulan asap di sekitar bandara, namun tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan.
Houthi juga disebut mencoba menyerang infrastruktur sipil di kota pelabuhan Laut Merah, Yanbu, yang menjadi lokasi jaringan pipa utama Arab Saudi. Serangan lainnya mengincar Taif, Baysh, dan Farasan, yang seluruhnya berhasil digagalkan.
Dalam klaimnya, Houthi menyebut telah menargetkan sejumlah lokasi sensitif di Riyadh serta fasilitas raksasa minyak Saudi Aramco di Yanbu hingga menyebabkan kebakaran besar. Houthi menjelaskan bahwa semua serangan ini merupakan respons atas serangan Arab Saudi ke ibu kota Yaman, Sanaa, beberapa waktu sebelumnya.
Dua ledakan keras dilaporkan mengguncang ibu kota Arab Saudi, disusul munculnya kobaran api pada tangki bahan bakar berlogo Aramco dekat bandara. Situasi ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas keamanan serta pasokan energi dunia dari kawasan tersebut.
Peringatan Darurat Amerika Serikat
Amerika Serikat mengeluarkan peringatan darurat terkait potensi perang yang dapat membesar dengan cepat di Timur Tengah. Langkah antisipasi ini diambil tepat setelah kelompok Houthi meluncurkan serangan rudal ke wilayah Riyadh untuk pertama kalinya sejak konflik Yaman memanas kembali.
Dampak langsung serangan tersebut disebut memaksa Presiden AS Donald Trump memotong agenda akhir pekannya di Camp David dan mendadak kembali ke Gedung Putih. Kendati Gedung Putih tidak membeberkan alasan pasti kepulangan mendadak sang presiden, peristiwa ini menandai babak baru yang makin membahayakan dalam konfrontasi Arab Saudi dan Houthi.
Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa konflik militer ini berpotensi meningkat dengan cepat. Pihaknya juga mengimbau warga Amerika di luar kawasan tersebut untuk secara serius mempertimbangkan kembali perjalanan ke dan melalui wilayah itu.
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengonfirmasi bahwa pertempuran hebat di Yaman telah menewaskan ratusan orang dan memaksa lebih dari 110.000 orang mengungsi dari rumah mereka. Konflik bersenjata ini tak hanya menelan korban jiwa, tetapi juga mulai mengganggu jalur pelayaran komersial serta ekspor minyak mentah Arab Saudi.
Permintaan China dan Prospek Harga Minyak
Serangan Houthi ke Arab Saudi telah dikecam banyak pihak. Pemerintah China, atas permintaan Arab Saudi, dilaporkan meminta Iran untuk mendesak Houthi agar berhenti menyerang Riyadh. Namun, serangan milisi yang sudah masuk daftar organisasi teroris itu justru semakin meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Meski menurun, sejumlah ahli mengatakan bahwa harga minyak dunia kini masih fluktuatif. Artinya, harga minyak sewaktu-waktu masih bisa kembali naik. Apalagi, situasi geopolitik di Timur Tengah kini masih dipenuhi konflik sehingga pasokan minyak dari kawasan tersebut ke pasar global berpotensi terganggu.
Penurunan harga minyak global anjlok usai Houthi serang Arab Saudi ini menjadi angin segar bagi banyak negara di dunia. Sebab, harga bahan bakar dan bahan pokok juga berpotensi ikut menurun. Namun, penurunan ini menimbulkan sejumlah pertanyaan karena terjadi di tengah kondisi konflik yang sedang memanas.
Di pasar saham Asia, harga minyak yang melandai turut memengaruhi pergerakan indeks. Permintaan data yang sangat besar untuk kecerdasan buatan mendorong kinerja produsen cip, sementara laporan bahwa pasokan minyak yang keluar dari Timur Tengah lebih besar dari perkiraan sebelumnya menjadi sentimen positif bagi pasar.
Pasar obligasi masih diliputi ketegangan setelah aksi jual besar-besaran menyebabkan imbal hasil obligasi AS tenor 2 tahun melonjak 36 basis poin dalam dua minggu terakhir ke level tertinggi sejak pertengahan 2024, yakni 4,7604 persen. Panduan kebijakan Federal Reserve yang cenderung ketat membuat pasar kontrak berjangka memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada Oktober.
Di dalam negeri, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia dijadwalkan berlangsung pada 22-23 September 2026. Konsensus memperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan di posisi 5,75 persen, meskipun The Fed baru saja menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan konflik antara Arab Saudi dan Houthi serta dampaknya terhadap jalur pasokan energi. Pemulihan ekspor minyak Arab Saudi menjadi faktor kunci yang menahan laju kenaikan harga, tetapi risiko gangguan pasokan masih membayangi sehingga harga minyak global diperkirakan tetap bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.










