Sopir di Bali yang Dibakar Bosnya Meninggal, Dokter: Paru-parunya Luka Parah

Sopir di Bali yang Dibakar Bosnya Meninggal, Dokter: Paru-parunya Luka Parah
Sopir di Bali yang Dibakar Bosnya Meninggal, Dokter: Paru-parunya Luka Parah

Cakrawala News – 28 September 2026 | Kabar duka datang dari Karangasem, Bali. Sopir di Bali yang dibakar bosnya meninggal, dokter: Paru-parunya luka parah menjadi penyebab utama kondisi korban terus memburuk hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir. I Gede Selamet (21), sopir truk asal Desa Muncan, Kecamatan Selat, Karangasem, dinyatakan meninggal dunia di RSUP Prof. Ngoerah, Denpasar, pada Jumat (25/9/2026) pukul 07.51 WITA. Pria yang akrab disapa IGS itu meninggal setelah tujuh hari menjalani perawatan intensif akibat luka bakar sekitar 68 persen dan trauma inhalasi yang merusak saluran napas serta paru-parunya.

Perjuangan Tujuh Hari di Ruang ICU

Kepala ICU Burns Unit RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, I Putu Kurniyanta, menjelaskan bahwa kondisi IGS memburuk sejak sekitar pukul 07.00 WITA pada hari kematiannya. Tim dokter sempat melakukan resusitasi jantung atau pijat jantung, tetapi tidak mendapat respons dari tubuh pasien.

“Pagi tadi jam 07.00 WITA itu terjadi perburukan, kemudian kami telah lakukan pijat jantung juga. Namun, akhirnya kami menyatakan tidak ada respons dan meninggal. Tadi komunikasi kepada keluarga sekitar jam 07.51 WITA, kita nyatakan meninggal,” kata Kurniyanta kepada wartawan di Instalasi Luka Bakar RSUP Prof. Ngoerah Denpasar, Jumat (25/9).

Menurut Kurniyanta, IGS pertama kali tiba di rumah sakit pada Jumat (18/9) sekitar pukul 19.00 WITA. Sejak awal, tim medis mencurigai korban mengalami trauma inhalasi karena menghirup uap panas saat kejadian. Dugaan itu kemudian terbukti seiring memburuknya kondisi pernapasan korban.

Dokter langsung melakukan sejumlah tindakan medis, mulai dari resusitasi awal, pembersihan luka, hingga pengamanan jalan napas. Untuk mengamankan jalur pernapasan, dokter melakukan intubasi dan memasang alat bantu napas yang disambungkan dengan ventilator.

Paru-paru Rusak Akibat Trauma Inhalasi

Kurniyanta memaparkan bahwa salah satu faktor yang membuat kondisi IGS sulit dipulihkan adalah luka parah pada paru-paru. Trauma inhalasi terjadi ketika uap panas masuk ke saluran pernapasan, membuat jalan napas berisiko membengkak dan menyempit. Uap panas yang terhirup juga dapat melukai saluran napas hingga paru-paru.

“Paru-paru yang luka disertai dengan biasanya kalau pasien sudah lebih dari 50 persen (luka bakar) kemungkinan agak susah kami bisa, meskipun kami sudah melakukan upaya maksimal,” ujar Kurniyanta saat ditemui di RSUP Ngoerah, Denpasar, Jumat (25/9/2026).

Selama tujuh hari perawatan, tim medis memberikan sejumlah tindakan lanjutan. Perawatan luka dilakukan pada hari ketiga. Namun, pada hari keempat kondisi IGS mulai tidak stabil dan suhu tubuhnya berfluktuasi. Dokter memberikan obat penurun panas serta antibiotik untuk menangani kondisi tersebut.

Meski berbagai upaya telah dilakukan, kerusakan pada saluran napas dan paru-paru akibat uap panas membuat prognosis pasien sulit. Kurniyanta menyebut luka bakar yang melebihi 50 persen menjadi salah satu penyebab utama sulitnya pemulihan.

Kronologi Pembakaran dan Tunggakan Biaya Rumah Sakit

IGS dibakar hidup-hidup oleh bosnya, I Putu Cahyadi Putra (37), pada Jumat (18/9). Peristiwa itu dipicu persoalan uang setoran yang kurang dibayar sebesar Rp8,5 juta. Akibat perbuatannya, korban mengalami luka bakar serius yang mendominasi bagian dada.

Selain duka mendalam, keluarga korban juga menghadapi beban biaya pengobatan yang tidak ditanggung BPJS karena status IGS sebagai korban tindak kriminal. Hingga Kamis (24/9), donasi dari warga dan relawan komunitas yang terkumpul mencapai Rp35 juta, sementara tagihan biaya pengobatan disebut mencapai Rp88 juta.

Paman almarhum, I Nengah Sridana, pada Minggu (27/9) menuturkan bahwa tunggakan biaya rumah sakit saat ini mencapai Rp68 juta. Jumlah itu merupakan sisa pembayaran pengobatan dan biaya penitipan jenazah setelah dipotong donasi dari Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebesar Rp25 juta yang ditransfer langsung ke rekening RSUP Prof. Ngoerah Denpasar.

“Untuk uang donasi dari masyarakat, relawan, dan komunikasi yang terkumpul sebesar Rp35 juta rencananya akan digunakan untuk biaya upacara pemakaman dan juga pengabenan nanti,” kata Sridana.

Jenazah Masih Dititipkan di Rumah Sakit

Perbekel Desa Muncan, I Wayan Tunas, menyampaikan bahwa jenazah IGS masih dititipkan di rumah sakit. Penyebabnya, di Desa Muncan saat ini sedang berlangsung upacara keagamaan sehingga jenazah kemungkinan baru boleh dibawa pulang ke rumah duka pada awal Oktober 2026.

“Rencananya, pihak keluarga akan langsung melaksanakan prosesi ngaben secara sederhana. Namun, prosesi tersebut masih menunggu hari baik yang akan dikoordinasikan dengan jro bendesa setelah 1 Oktober,” imbuh Tunas.

Tunas juga membenarkan bahwa keluarga masih memiliki tunggakan di RS Ngoerah. “Informasi yang saya dengar masih ada tunggakan senilai Rp68 juta, termasuk biaya penitipan jenazah,” katanya.

Ia menyebut mendapat informasi bahwa tunggakan biaya rumah sakit tersebut rencananya akan dibayarkan oleh anggota DPR RI, I Nyoman Parta. Meski demikian, pihaknya belum mengetahui kepastiannya. “Saya dengar kabarnya begitu. Semoga benar. Ini untuk meringankan beban keluarga korban,” harap Tunas.

Duka Keluarga dan Perhatian Publik

Kepergian IGS meninggalkan luka mendalam bagi keluarga di Desa Muncan. Selain kehilangan anggota keluarga, mereka harus berhadapan dengan persoalan administratif dan biaya yang menumpuk. Sejumlah relawan dan warga yang sebelumnya membantu pengobatan kini turut mengawal proses pemulangan jenazah serta rencana upacara pengabenan.

Kasus ini juga menyita perhatian publik, terutama karena korban merupakan pekerja muda yang menjadi korban kekerasan majikannya. Status korban tindak kriminal membuat biaya pengobatannya tidak bisa diklaim melalui BPJS, sehingga keluarga bergantung pada donasi dan bantuan pihak lain.

Hingga kini, belum ada keterangan resmi mengenai perkembangan proses hukum terhadap I Putu Cahyadi Putra. Pihak keluarga berharap persoalan tunggakan rumah sakit segera tuntas agar prosesi pemakaman dan pengabenan IGS dapat berjalan lancar sesuai rencana pada awal Oktober 2026.

Peristiwa yang menimpa sopir di Bali yang dibakar bosnya meninggal, dokter: Paru-parunya luka parah ini menjadi pengingat akan pentingnya perlindungan bagi pekerja, terutama dari kekerasan di lingkungan kerja. Selain itu, persoalan penjaminan biaya pengobatan bagi korban tindak kriminal masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian berbagai pihak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *