Cakrawala News – 04 Oktober 2026 | Pengeboran 20 meter di lokasi diduga bahtera Nabi Nuh, peneliti tunggu hasil laboratorium menjadi sorotan setelah tim peneliti menemukan lapisan material yang sangat keras di Formasi Durupinar, Turki timur. Lapisan tersebut ditemukan pada kedalaman sekitar 4-5 meter di bawah permukaan dan dilaporkan cukup keras hingga memecahkan mata bor yang digunakan. Temuan ini memicu spekulasi, namun para peneliti menegaskan bahwa dugaan bahwa material itu adalah kayu membatu masih sebatas hipotesis yang harus diuji di laboratorium independen.
Formasi Durupinar berada di wilayah Doğubayazıt, Provinsi Ağrı, Turki, tidak jauh dari Gunung Ararat. Struktur sepanjang sekitar 157 meter itu telah lama menarik perhatian karena bentuknya dari udara menyerupai sebuah kapal. Objek ini pertama kali teridentifikasi melalui foto pengintaian udara pada 1959 oleh Kapten İlhan Durupinar.
Proyek Penelitian 2026 dan Teknologi yang Digunakan
Program penelitian tahun 2026 dipimpin Prof. Dr. Cenker Atila dari Departemen Arkeologi Sivas Cumhuriyet University dan dilakukan bersama organisasi penelitian Noah’s Ark Scans yang berbasis di California, Amerika Serikat. Menurut laman resmi proyek, penelitian tersebut telah memperoleh izin dari otoritas Turki untuk melakukan penelitian geologi di lokasi.
Berbeda dari riset sebelumnya yang hanya mengandalkan pengamatan visual, tim kali ini menggunakan sejumlah teknologi mutakhir. Mereka memanfaatkan Ground-Penetrating Radar (GPR), Electrical Resistivity Tomography (ERT), LiDAR, hingga pengeboran inti atau core drilling untuk mengetahui struktur dan material yang sebenarnya berada di bawah tanah.
Noah’s Ark Scans menyatakan pengeboran inti dilakukan hingga kedalaman maksimal sekitar 18 meter. Pengeboran ini bertujuan mendapatkan gambaran mengenai lapisan bawah tanah sebelum tim mempertimbangkan penggalian yang lebih besar dan bersifat lebih destruktif. Dalam salah satu lubang pengeboran, tim menemukan lapisan sangat keras sekitar 4-5 meter di bawah permukaan. Tim menduga salah satu kemungkinan material tersebut adalah kayu yang membatu atau mengalami mineralisasi tinggi.
Namun, klaim itu masih sebatas hipotesis yang harus diuji di laboratorium independen. Laporan Audacy juga menegaskan bahwa dugaan adanya kayu tersebut belum dikonfirmasi secara independen. Karena itu, mata bor yang pecah tidak dapat dianggap sebagai bukti bahwa tim telah menemukan bagian dari sebuah kapal.
Pemindaian Geofisika dan Robot Bawah Tanah
Sebelum pengeboran dilakukan, peneliti telah berulang kali memindai Durupinar menggunakan teknologi geofisika. Menurut laman riset Noah’s Ark Scans, survei ERT dan GPR yang dilakukan pada 2014-2021 menemukan sejumlah struktur linear dan pola menyerupai sudut siku-siku di bawah permukaan.
Pemindaian terbaru juga mendeteksi bentuk-bentuk yang tampak seperti garis lurus, persimpangan bersudut siku-siku, dan ruang-ruang yang cukup luas di bawah formasi tersebut. Sementara itu, kegiatan pengeboran berhasil mengangkat lapisan material organik.
Menurut laporan New York Post, proses pengeboran telah dimulai dan tim juga menyiapkan robot bawah tanah bernama Gopher yang dikembangkan Dr. Robert Ross dari La Trobe University. Robot tersebut direncanakan untuk menyelidiki area bawah permukaan yang oleh tim proyek ditafsirkan memiliki koridor dan ruang. Meski demikian, keberadaan maupun asal struktur tersebut masih perlu dibuktikan melalui penelitian lebih lanjut.
Klaim dan Perdebatan Ilmiah
Tim peneliti bahkan mengklaim bahwa hasil kerja terbaru ini telah mengonfirmasi 100 persen bahwa formasi tersebut merupakan buatan manusia. Meski begitu, tidak dapat dipastikan bahwa formasi ini merupakan Bahtera Nuh yang termasyhur dan disebutkan dalam kitab suci. Klaim tersebut masih menuai perdebatan di kalangan ilmuwan.
Pada 1996, pakar geologi Lorence Collins dan penjelajah David Fasold menyimpulkan bahwa lokasi tersebut merupakan formasi batuan alami sepenuhnya. Mereka juga menyebut teori yang mengaitkan situs itu dengan Bahtera Nabi Nuh sebagai sesuatu yang tidak benar. Namun, Noah’s Ark Scans menilai masih banyak pertanyaan yang belum terjawab mengenai struktur tersebut.
Durupinar terletak sekitar 30 hingga 32 kilometer di sebelah selatan Gunung Ararat. Dengan ketinggian 5.137 meter, Gunung Ararat merupakan puncak tertinggi di Turki dan selama berabad-abad dikaitkan dengan kisah Bahtera Nabi Nuh dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Tak heran jika kawasan ini menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak dikunjungi pencinta sejarah, wisata religi, hingga pemburu misteri.
Berbeda dengan pendakian ke puncak Gunung Ararat yang membutuhkan persiapan khusus, wisatawan dapat mengunjungi Formasi Durupinar dengan relatif mudah. Pengunjung dapat berkendara hingga area taman nasional, lalu melanjutkan perjalanan singkat menuju dek observasi yang menghadap langsung ke formasi tersebut.
Di sisi lain, interpretasi bahwa lokasi tersebut merupakan Bahtera Nuh masih berhadapan dengan penelitian geologi terdahulu yang menyimpulkan struktur berbentuk kapal itu terbentuk secara alami dan tidak menemukan bukti kayu yang menjadi bagian dari kapal. Karena itu, pengeboran 20 meter di lokasi diduga bahtera Nabi Nuh, peneliti tunggu hasil laboratorium menjadi tahap penting untuk menguji dua kemungkinan tersebut secara ilmiah.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai asal-usul material keras yang memecahkan mata bor tersebut. Hasil analisis laboratorium independen akan menjadi penentu apakah temuan itu benar-benar mendukung dugaan adanya struktur kayu, atau justru memperkuat kesimpulan bahwa Durupinar adalah formasi geologis alami. Publik dan kalangan ilmuwan pun menantikan hasil uji tersebut sebelum menarik kesimpulan lebih jauh.










