Cakrawala News – 07 Oktober 2026 | Populer: Rolex makin sulit didapat; lowongan kerja AS lesu [titlebase] menjadi dua topik yang paling banyak dibaca sepanjang Minggu (4/10). Fenomena kelangkaan jam tangan mewah Rolex di tingkat ritel resmi berbarengan dengan melambatnya penyerapan tenaga kerja Amerika Serikat (AS) pada September 2026, yang turut menipiskan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober.
Meski Rolex memproduksi sekitar 1,15 juta jam tangan per tahun, tingginya permintaan pasar global membuat sejumlah model populer tetap sulit didapatkan di butik resmi. Kondisi ini memaksa konsumen berhadapan dengan sistem daftar tunggu yang bisa mencapai bertahun-tahun atau beralih ke pasar sekunder dengan membayar premi yang tinggi.
Sebagai contoh, model Rolex Submariner “Starbucks” di pasar sekunder dibanderol sekitar 15 persen lebih mahal dibandingkan harga resmi di dealer. Konsumen memilih jalur tersebut demi menghindari ketidakpastian waktu tunggu yang panjang.
Kesenjangan Pasokan Melebar Sejak Pandemi
Kesenjangan pasokan ini semakin melebar sejak periode pandemi COVID-19 akibat pergeseran belanja konsumen ke barang mewah berukuran kecil serta fenomena revenge spending. Berdasarkan data ekspor, nilai ekspor jam tangan Swiss melonjak signifikan dari 21,7 miliar franc Swiss pada 2019 menjadi rekor tertinggi sebesar 26,7 miliar franc Swiss pada 2023.
Peningkatan permintaan yang tidak diimbangi penambahan kapasitas produksi secara instan dari produsen Swiss akhirnya mengubah dinamika penjualan di butik resmi. Staf kini bekerja berdasarkan alokasi unit, bukan lagi mengejar target penjualan biasa.
Dari sisi kinerja bisnis, Rolex terus mengukuhkan posisinya sebagai produsen jam tangan mewah terbesar di dunia. Estimasi Morgan Stanley dan LuxeConsult menunjukkan pendapatan tahunan Rolex mencapai 11 miliar franc Swiss atau sekitar USD 13,4 miliar, setara Rp 239,8 triliun.
Konsistensi desain, kekuatan sejarah sejak didirikan pada 1905, serta strategi pemasaran yang mengaitkan produk dengan prestise dan pencapaian pribadi menjadi pilar utama bertahannya loyalitas konsumen lintas generasi.
Penyerapan Kerja AS Melambat Tajam
Di sisi lain, pertumbuhan lapangan kerja non-pertanian (nonfarm payrolls) di AS melambat tajam pada September 2026 dengan hanya mencatatkan tambahan 29.000 pekerjaan. Realisasi ini berada jauh di bawah proyeksi awal para ekonom yang memperkirakan penyerapan hingga 90.000 lapangan kerja baru.
Perlambatan ini diperparah dengan revisi turun tajam data dua bulan sebelumnya. Data Agustus dipangkas menjadi 133.000 pekerjaan dari proyeksi awal 162.000, sementara data Juli menunjukkan kontraksi dengan hilangnya 10.000 pekerjaan. Secara total, revisi dua bulan tersebut memangkas 60.000 lapangan kerja dari laporan terdahulu.
Situasi ketenagakerjaan yang melemah ini berimbas pada naiknya tingkat pengangguran AS menjadi 4,2 persen pada September, naik dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya. Angka ini juga melampaui ekspektasi ekonom dalam survei Dow Jones yang memproyeksikan tingkat pengangguran di angka 4,1 persen.
Meskipun demikian, para ekonom menilai kondisi pasar tenaga kerja AS masih tergolong stabil dalam fase “low-hire, low-fire”. Pengajuan tunjangan pengangguran mingguan masih berada di level terendah dalam 57 tahun terakhir.
Untuk menjaga keseimbangan populasi usia kerja yang menyusut akibat pembatasan imigrasi, perekonomian AS saat ini diperkirakan hanya membutuhkan sekitar 50.000 pekerjaan baru setiap bulan.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Menipis
Melemahnya indikator ketenagakerjaan ini memangkas ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter agresif Federal Reserve. Peluang kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan Fed yang dijadwalkan 27-28 Oktober menyusut hingga sempat menyentuh angka 13 persen sebelum berfluktuasi ke kisaran 23 persen.
Penurunan ekspektasi ini terjadi setelah inflasi Juli dan Agustus terpantau lebih rendah dari perkiraan. Meski begitu, pelaku pasar tetap melihat adanya probabilitas kenaikan bunga pada Desember jika inflasi belum sepenuhnya turun ke target 2 persen.
Kepala Ekonom AS di Jefferies, Thomas Simons, menilai data tenaga kerja terbaru menjadi pengunci keputusan The Fed untuk membatalkan kenaikan suku bunga pada Oktober. Ia menyebut lonjakan penyerapan tenaga kerja pada Agustus hanya pemulihan singkat dari lesunya perekrutan pada Juni dan Juli.
Di internal The Fed, para pejabat disebut lebih cermat memantau tingkat pengangguran ketimbang angka payroll utama. Survei rumah tangga yang dipakai menghitung tingkat pengangguran tercatat jauh lebih baik dibandingkan survei lembaga yang digunakan untuk menghitung angka payroll.
Proyeksi Jangka Panjang Tetap Positif
Terlepas dari lesunya data bulanan, riset terbaru McKinsey Global Institute menunjukkan sisi lain pasar tenaga kerja AS. Laporan bertajuk “Workforce in Motion: Skills and Pathways to Future Jobs in the United States” yang dirilis Selasa (29/9/2026) memperkirakan lebih dari sepertiga posisi yang muncul dalam kelompok pekerjaan bertumbuh hingga 2035 terkonsentrasi pada empat kelompok besar.
Keempatnya adalah pekerjaan pendukung layanan kesehatan, tenaga profesional kesehatan, konstruksi, dan manajemen. McKinsey bahkan memperkirakan sekitar lima juta pekerjaan bersih dapat bertambah hanya dari kelompok kesehatan dan konstruksi hingga 2035.
Layanan kesehatan menjadi salah satu sumber pekerjaan terbesar karena AS menghadapi populasi yang semakin tua. Perubahan demografi diperkirakan menghasilkan sekitar delapan juta tambahan pekerjaan bersih di perekonomian AS hingga 2035.
McKinsey memperkirakan tingkat penerapan otomatisasi pada pekerjaan profesional kesehatan hanya sekitar 26 persen dari jam kerja saat ini pada 2035, jauh lebih rendah dibandingkan pekerjaan kantor dan administrasi yang dapat mencapai sekitar 80 persen.
Bagi pembaca, dua topik populer ini menunjukkan gambaran ekonomi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, permintaan barang mewah seperti Rolex tetap tinggi meski pasokan terbatas. Di sisi lain, pasar tenaga kerja AS menghadapi fase perlambatan yang memengaruhi arah kebijakan suku bunga The Fed. Perkembangan data inflasi dan ketenagakerjaan berikutnya akan menjadi penentu apakah ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember kembali menguat.












