Low Tuck Kwong Lego 33,33 Juta Saham Bayan (BYAN), Raup Rp367,5 Miliar

Low Tuck Kwong Lego 33,33 Juta Saham Bayan (BYAN), Raup Rp367,5 Miliar
Low Tuck Kwong Lego 33,33 Juta Saham Bayan (BYAN), Raup Rp367,5 Miliar

Cakrawala News – 10 Oktober 2026 | Direktur Utama sekaligus pengendali PT Bayan Resources Tbk (BYAN), Low Tuck Kwong, melepas 33,33 juta saham perseroan. Aksi korporasi tersebut membuat Low Tuck Kwong lego 33,33 juta saham Bayan (BYAN), raup Rp367,5 miliar dari divestasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 6 Oktober 2026.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Low Tuck Kwong menjual 33.333.335 saham BYAN dengan harga Rp11.025 per saham. Dari transaksi itu, ia mengantongi dana sekitar Rp367,50 miliar. “Tujuan transaksi divestasi dengan status kepemilikan langsung,” demikian dikutip dari keterbukaan informasi BEI.

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Low Tuck Kwong tetap berstatus sebagai pengendali saham BYAN dan akan mempertahankan pengendaliannya. Setelah pelepasan saham, kepemilikannya berkurang dari 40,25% atau setara 13.416.921.870 saham menjadi 40,15% atau setara 13.383.588.535 saham dari total saham BYAN yang beredar.

Harga Jual di Bawah Pasar

Harga jual Rp11.025 per saham berada di bawah harga pasar saat transaksi berlangsung. Mengacu data RTI, pada penutupan perdagangan Rabu, 7 Oktober 2026, harga saham BYAN melemah 6,69% ke Rp12.550 per saham. Saham BYAN dibuka stagnan di Rp13.450, dengan rentang harian antara Rp14.250 dan Rp12.500 per saham.

Total frekuensi perdagangan saham BYAN tercatat 8.216 kali dengan volume 100.908.080 saham. Nilai transaksi harian saham itu mencapai Rp26,2 triliun.

Pergerakan saham BYAN terjadi di tengah tekanan pada pasar saham secara keseluruhan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari yang sama merosot 0,75% ke 6.146,72, sedangkan indeks LQ45 susut 0,40% ke 605,72. Sebanyak 378 saham melemah dan membebani IHSG, 258 saham menguat, dan 157 saham bergerak di tempat. Total frekuensi perdagangan pasar tercatat 1.534.151 kali dengan volume 48,4 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp35,2 triliun.

Transaksi Crossing Jumbo dan Manuver Haji Isam

Aksi divestasi Low Tuck Kwong menyusul kabar bahwa pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam bersiap masuk membeli saham BYAN di pasar negosiasi dalam nilai jumbo. Saham BYAN tercatat mengalami transaksi crossing di pasar negosiasi sekitar 1,48 miliar saham dengan nilai sekitar Rp3,82 triliun pada perdagangan intraday Rabu, 7 Oktober 2026 pagi.

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, menyoroti bahwa berdasarkan data Bloomberg, transaksi pertama terjadi pukul 09.38.08 WIB dengan volume 705,03 juta saham pada harga Rp2.588 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai Rp1,82 triliun. Sekitar satu menit kemudian, pada pukul 09.39.04 WIB, terjadi lanjutan transaksi crossing dengan volume 772,45 juta saham pada harga yang sama, senilai Rp1,99 triliun.

Pada perdagangan intraday Rabu pukul 10.45 WIB, saham BYAN anjlok 5,95% ke Rp12.650 dengan kapitalisasi pasar Rp421,67 triliun. Volume yang diperdagangkan tercatat 4,14 juta saham dengan nilai transaksi Rp55,81 miliar. Dengan demikian, transaksi crossing tersebut terjadi pada harga diskon 76,53% dibanding harga pasar saat itu.

Transaksi jumbo itu seiring dengan manuver Haji Isam mengakuisisi emiten tambang batu bara milik Low Tuck Kwong tersebut. Melalui PT Jhonlin Baratama, jumlah saham yang akan dicaplok pengusaha berdarah Bugis itu bertambah dari sebelumnya. Manajemen Bayan Resources menyatakan jumlah saham biasa perusahaan yang akan dialihkan kepada PT Jhonlin Baratama bertambah menjadi 10.084.088.370 saham dari sebelumnya 10.000.000.500 saham atau sekitar 30%. Kendati demikian, manajemen belum mengungkapkan harga dalam aksi korporasi itu.

Fauzan menyoroti bahwa transaksi crossing 30% saham BYAN tersebut sesuai dengan perhitungannya sebelumnya.

Kinerja Semester I 2026

Sebelum rangkaian transaksi ini, PT Bayan Resources Tbk mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba hingga semester I 2026. Pertumbuhan pendapatan mencapai 7,29% dan laba naik 17,46% hingga Juni 2026.

Dengan posisi kepemilikan yang masih di atas 40%, Low Tuck Kwong tetap menjadi pengendali BYAN meski telah melepas sebagian sahamnya. Perhatian pasar kini tertuju pada kelanjutan proses pengalihan saham kepada PT Jhonlin Baratama, termasuk harga final dan dampaknya terhadap struktur kepemilikan serta tata kelola perseroan ke depan.

Bagi investor, rangkaian transaksi crossing dan divestasi ini menjadi sinyal penting untuk mencermati arah strategi jangka panjang Bayan Resources di sektor batu bara, terutama di tengah fluktuasi harga saham dan dinamika pasar modal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *