AS Tuntut Israel Usut Tuntas Penganiayaan Jurnalis di Tepi Barat, Kecam Teror terhadap Heidi Levine

AS Tuntut Israel Usut Tuntas Penganiayaan Jurnalis di Tepi Barat, Kecam Teror terhadap Heidi Levine
AS Tuntut Israel Usut Tuntas Penganiayaan Jurnalis di Tepi Barat, Kecam Teror terhadap Heidi Levine

Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | Pemerintah Amerika Serikat (AS) menuntut Israel usut tuntas penganiayaan jurnalis di Tepi Barat yang menimpa fotografer senior The Washington Post, Heidi Levine. Fotografer berkewarganegaraan AS itu diserang sekelompok pemukim bertopeng saat bertugas meliput di kawasan selatan Tepi Barat pada Kamis, 15 Oktober 2026 waktu setempat. Insiden tersebut memicu kecaman keras dari Washington dan menambah daftar panjang kekerasan terhadap pekerja pers serta warga sipil Palestina di wilayah pendudukan.

Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengecam kekerasan kriminal itu dan menyerukan penyelidikan menyeluruh, penangkapan, hingga pemidanaan terhadap pihak yang bertanggung jawab. Pihak perwakilan diplomatik menegaskan bahwa keselamatan warga negaranya merupakan prioritas tertinggi bagi pemerintahan Presiden Donald Trump.

Kecaman Dubes AS: Teror oleh Pengecut Bertopeng

Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee melontarkan kecaman keras melalui unggahan di media sosial X. Ia menyebut penyerangan terhadap fotografer perempuan tak bersenjata itu sebagai aksi teror keji yang dilakukan para pengecut bertopeng.

Meski tidak menyebut secara eksplisit identitas kelompok pelaku karena penyelidikan masih berlangsung, Huckabee menuntut siapa pun yang terlibat dijatuhi hukuman penjara bertahun-tahun. Pernyataan bernada tegas itu menunjukkan sikap yang jauh lebih kuat dibanding respons awal Departemen Luar Negeri AS, yang sebelumnya hanya menyatakan mengecam kekerasan kriminal oleh pihak mana pun secara lebih hati-hati.

Tekanan AS agar Israel usut tuntas penganiayaan jurnalis di Tepi Barat juga datang dari lingkungan media. Pemimpin Redaksi Eksekutif The Washington Post, Matt Murray, menyatakan kemarahan lembaganya dan mendesak otoritas Israel mengusut lebih dari selusin orang yang terlibat dalam penyerangan tersebut.

Kronologi Penyerangan di Kebun Zaitun

Insiden bermula saat Heidi Levine mendokumentasikan aksi sekelompok pemukim bertopeng yang memukuli petani Palestina di kebun zaitun. Kendati mengenakan rompi pers khusus yang menandai profesinya, ia tetap dipukul hingga tersungkur ke tanah oleh para penyerang.

Menurut keterangan para saksi mata, para pemukim memukulinya secara brutal lalu merampas paspor, telepon genggam, dompet, serta perlengkapan kamera miliknya. Levine mengungkapkan bahwa dirinya dihujani tendangan berkali-kali. Para penyerang bahkan sempat memaksanya bangkit berdiri sebelum menendangnya kembali.

“Mereka terus menendang dan menendangku, mungkin sekitar 50 kali,” kata Levine kepada para wartawan.

Ia menambahkan bahwa rompi antipeluru dan helm yang dipakainya menjadi faktor penting yang mencegah serangan itu berakibat fatal, sebelum warga Palestina tiba untuk menolongnya.

Akibat penganiayaan tersebut, Levine dilarikan ke fasilitas medis karena menderita patah tulang rusuk, empat ruas tulang belakang patah, luka tusuk, lebam akibat pemukulan, serta cedera parah pada jarinya. Pejabat rumah sakit pada Sabtu, 17 Oktober 2026, mengonfirmasi bahwa korban masih dirawat dalam kondisi sedang dengan fraktur tulang belakang, setelah sebelumnya dijadwalkan menjalani operasi pada Sabtu pagi.

Netanyahu Ragukan Insiden, CPJ Soroti Impunitas

Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mengecam pembiaran akuntabilitas hukum oleh Israel yang dinilai kian memicu serangan terhadap para jurnalis di Tepi Barat. Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu justru berupaya menebar keraguan atas kejadian tersebut dengan menyatakan peristiwanya belum jelas dan masih dalam penyelidikan.

Menjelang pemilihan umum parlemen pada 27 Oktober 2026, Netanyahu berdalih penyerangan itu bisa saja direkayasa atau dilakukan oleh warga Palestina maupun aktivis sayap kiri jauh. Ia menegaskan penolakan terhadap pemanfaatan insiden yang masih diperdebatkan tersebut untuk memojokkan ratusan ribu warga Yahudi di Yudea dan Samaria.

Kekerasan Meluas Selama Musim Panen Zaitun

Serangan terhadap Levine bukan insiden tunggal. Sehari kemudian, Sabtu, 17 Oktober 2026, sekelompok pemukim Israel bertopeng dan bersenjata batang besi menyerang rombongan diplomat Eropa yang berkunjung ke Desa Taybeh, sebuah desa berpenduduk Kristen di Tepi Barat.

Para pemukim menyerang konsul jenderal Belgia, sejumlah diplomat Prancis dan Polandia, serta perwakilan komunitas Katolik. Menteri Luar Negeri Belgia Maxime Prevot mengaitkan serangan itu dengan kebijakan Israel yang terus membangun permukiman ilegal di wilayah Palestina, dan berjanji mendorong Uni Eropa menjatuhkan sanksi tambahan.

“Para pemukim yang melakukan kekerasan tidak boleh terus dibiarkan lolos dari jerat hukum,” tegas Prevot. Bernard Baudoux, seorang wali kota asal Prancis yang turut menjadi korban, menceritakan kejadian tersebut melalui unggahan di Facebook.

Menurut Kementerian Kesehatan Palestina, sedikitnya empat orang tewas dan lebih dari 100 lainnya terluka sejak musim panen zaitun dimulai awal Oktober. Para aktivis menuding aparat Israel tidak mengambil tindakan tegas untuk menghentikan serangan pemukim yang menggunakan berbagai senjata, mulai dari ketapel hingga senjata api.

Di tengah situasi itu, organisasi bantuan medis Doctors Without Borders (MSF) juga mengecam eskalasi kekerasan dan intimidasi terhadap warga Palestina. Salah seorang staf MSF diserang secara terencana di desanya pada Kamis, 15 Oktober 2026, ketika sekitar 20 pemukim turun dari perbukitan terdekat dan menyerbu warga. Korban mengalami luka akibat batu seukuran genggaman tangan yang dilontarkan dengan ketapel, sementara proses evakuasi sempat terhambat karena ambulans tak mampu menembus jalan tak beraspal.

MSF menilai rintangan evakuasi medis dan eskalasi kekerasan fisik memiliki pola yang disengaja. Organisasi itu menyebut pembatasan tersebut sebagai bagian dari strategi untuk merusak keamanan warga sipil. Secara terpisah, organisasi pegiat hak asasi manusia Al-Baidar mengungkapkan bahwa serangan militer dan pemukim Israel memaksa 20 keluarga Palestina meninggalkan komunitas Badui Ras al-Ahmar di utara Lembah Yordan, sementara 27 keluarga lain terancam pengusiran.

Tuntutan AS agar Israel usut tuntas penganiayaan jurnalis di Tepi Barat kini menjadi ujian bagi komitmen Washington terhadap perlindungan warganya sekaligus terhadap kebebasan pers. Seberapa serius penyelidikan yang akan dijalankan, serta apakah pelaku benar-benar diadili, akan menjadi sorotan publik internasional dalam beberapa pekan mendatang, terutama di tengah meningkatnya kekerasan selama musim panen zaitun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *