Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | Ziarah ke makam Sudharmono, Bahlil: Ketum Golkar jadi wapres, kalau Pak JK wapres dulu baru ketum menjadi sorotan publik setelah Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia memimpin upacara ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta Selatan, Selasa (20/10/2026). Kegiatan itu merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Partai Golkar yang diperingati setiap 20 Oktober.
Usai upacara, Bahlil berziarah dan berdoa di sejumlah makam tokoh bangsa, di antaranya makam Presiden ke-3 RI BJ Habibie serta makam Wakil Presiden ke-5 RI Soedharmono, yang juga pernah menjabat Ketua Umum Partai Golkar periode 1983-1989.
Dalam keterangannya, Bahlil menegaskan bahwa Partai Golkar lahir bukan semata-mata untuk menjadikan ketua umumnya sebagai presiden atau wakil presiden. Ia menekankan partai berlambang pohon beringin itu didirikan sebagai instrumen politik negara untuk mewujudkan cita-cita negara.
“Partai Golkar itu lahir bukan hanya semata-mata untuk menjadikan ketua umum jadi presiden sama wapres. Tapi Partai Golkar ini lahir untuk menjadi instrumen politik negara dalam mewujudkan cita-cita negara,” kata Bahlil di DPP Partai Golkar, Jakarta Barat, Selasa (20/10/2026).
Jejak Ketum Golkar dan Kursi Kepemimpinan Nasional
Bahlil kemudian menguraikan rekam jejak kepemimpinan partainya. Menurut dia, sejak Golkar lahir pada 1964 dan mulai mengikuti pemilihan umum pada 1971, belum pernah ada ketua umum Golkar yang menjadi presiden. Satu-satunya ketua umum yang pernah menduduki kursi kepemimpinan nasional adalah Soedharmono, yang lebih dulu menjabat Ketua Umum Golkar sebelum menjadi Wakil Presiden ke-5 RI.
Ia juga menyinggung posisi Jusuf Kalla atau yang akrab disapa JK. Menurut Bahlil, JK baru menjabat Ketua Umum Golkar setelah lebih dulu menjadi wakil presiden. JK tercatat sebagai Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI.
“Pemilu tahun 71, belum pernah ada ketua umumnya yang menjadi presiden. Dan satu-satunya Ketua Umum Partai Golkar yang jadi ketua umum dulu baru jadi wapres adalah Pak Sudarmono,” sebutnya.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil ketika ditanya soal peluang Golkar mendampingi Prabowo Subianto pada Pemilu 2029. Ia tidak menjawab secara langsung soal kans tersebut, melainkan memilih menjelaskan doktrin dan tujuan partainya.
Politik Kesejahteraan sebagai Doktrin Partai
Bahlil menjelaskan, cita-cita negara yang dimaksud adalah keadilan dan kesejahteraan bagi masyarakat. Hal itu, katanya, merupakan bagian dari doktrin Golkar yang tidak berubah sejak partai ini berdiri.
“Untuk apa? Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, kesejahteraan, pendidikan, dan macam-macam. Itu maksud saya. Apa tujuannya Partai Golkar? Ya naikkan kursi. Itu doktrinnya,” ucap Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral pada Kabinet Merah Putih itu.
Ia menuturkan, Golkar pada awalnya didirikan untuk menjadi golongan penyeimbang dari partai politik. Setelah reformasi dan pemilu 1999, Golkar harus berubah menjadi partai politik, namun doktrin dan tujuannya tetap menjadi politik kesejahteraan.
Bahlil menambahkan, Partai Golkar lahir bukan atas dasar keinginan politik kelompok atau keluarga tertentu, melainkan untuk menjawab tuntutan bangsa. Karena itu, ia menilai Golkar tidak akan mampu berdiri seperti saat ini tanpa kontribusi para senior dan pendahulu.
“Dalam sejarah yang diajarkan oleh para senior, Golkar adalah sebuah partai yang lahir atas dasar respons kondisi bangsa waktu itu,” kata dia.
Ziarah Serentak di Daerah
Rangkaian peringatan HUT ke-62 Golkar tidak hanya berlangsung di Jakarta. Keluarga besar Partai Golkar di sejumlah daerah menggelar ziarah ke makam pahlawan secara serentak pada hari yang sama.
Di Lampung, ziarah di Taman Makam Pahlawan Lampung dipimpin langsung Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung Hanan A. Rozak. Kegiatan serupa digelar pengurus dan anggota Fraksi Golkar DPRD di 15 kabupaten/kota se-Lampung. Wakil Ketua DPD Golkar Lampung Ali Imron menyebut ziarah sebagai bentuk penghormatan dan doa bagi para pejuang serta senior partai yang telah gugur.
Sementara di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, DPD Golkar setempat berziarah ke Taman Makam Pahlawan Syuhada Bhakti di Lubuk Sikaping, lalu melanjutkan ziarah ke makam mantan Ketua DPD Golkar Pasaman Syahrizal Yusuf. Kegiatan itu dilanjutkan dengan syukuran bersama anak-anak yatim, mengusung tema “Golkar Bersama Rakyat, Karya Nyata, Rakyat Sejahtera”.
Di Jakarta, Bahlil menegaskan ziarah menjadi bagian dari penghormatan kepada para pendahulu, khususnya pendiri dan mantan ketua umum Partai Golkar serta presiden terdahulu.
“Dan kita doakan semoga di usia yang ke-62 ini Partai Golkar selalu berada pada bagian terpenting dalam rangka memberikan kontribusi pengabdiannya kepada rakyat, bangsa, dan negara dengan nilai-nilai daripada karya-kekaryaan,” kata Bahlil seusai ziarah.
Menurutnya, Partai Golkar lahir melalui proses panjang yang melibatkan para tokoh bangsa terdahulu. Karena itu, penghormatan kepada para pendahulu dinilai sebagai bagian penting dalam menjaga sejarah dan tradisi berbangsa.
Pernyataan Bahlil dalam momentum ziarah ke makam Sudharmono ini setidaknya memberi gambaran arah politik Golkar menjelang Pemilu 2029. Publik masih akan menantikan apakah doktrin yang ditekankan Bahlil akan diterjemahkan menjadi sikap politik konkret, termasuk soal posisi Golkar dalam konstelasi koalisi pemerintahan ke depan.












