Cakrawala News – 01 November 2026 | Harga minyak dunia kembali menjadi sorotan setelah melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Jumat, 30 Oktober 2026, dan ditutup di level tertinggi sejak akhir April. Kenaikan ini dipicu oleh kekhawatiran eskalasi perang Iran setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, ditambah serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz yang kembali memantik kekhawatiran gangguan pasokan minyak global. Di tengah situasi itu, Bank Dunia memperingatkan skenario terburuk yang bisa membuat harga minyak Brent melambung hingga rata-rata US$ 105 per barel pada 2027.
Berdasarkan data yang dikutip Reuters, kontrak Brent Desember 2026 yang berakhir pada Jumat naik US$ 2,76 atau 2,4% menjadi US$ 117,64 per barel. Harga sempat menyentuh US$ 118 per barel. Sementara itu, kontrak Januari 2027 yang lebih aktif naik US$ 2,63 menjadi US$ 113,43 per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$ 2,12 atau 2,08% menjadi US$ 104,12 per barel.
Sepanjang Oktober, harga Brent tercatat melonjak 13,6%, sedangkan WTI menguat 15,2%. Senior Vice President Trading BOK Financial Dennis Kissler menyatakan pelaku pasar akan terus mencermati aliran minyak dari Timur Tengah dan potensi eskalasi konflik oleh AS bersama sekutunya.
Serangan Tanker di Selat Hormuz dan Risiko Geopolitik
Kekhawatiran pasokan meningkat setelah sebuah kapal tanker di Selat Hormuz diserang menggunakan bahan peledak yang dipasang pada kapal oleh perahu kecil. Informasi itu disampaikan badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, pada Jumat. Belum diketahui pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Namun, sumber maritim menyebut insiden itu merupakan serangan pertama yang diketahui berhasil menggunakan ranjau tempel atau limpet mines di jalur tersebut sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari. Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk.
Risiko geopolitik juga meningkat setelah AS memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat beserta keluarga mereka meninggalkan Arab Saudi mulai 23 Oktober. Kedutaan Besar AS di Riyadh menyebut keputusan tersebut berkaitan dengan risiko keamanan akibat serangan Houthi terhadap infrastruktur penting. Kelompok Houthi yang didukung Iran sebelumnya mengklaim menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak Ras Tanura, kilang Rabigh, dan fasilitas produksi Abqaiq milik Saudi Aramco.
Peringatan Bank Dunia dan Proyeksi Harga
Laporan Commodity Markets Outlook terbaru dari Bank Dunia membawa kabar kurang baik. Harga komoditas global diperkirakan melonjak hingga 23% sepanjang 2026. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang menguras stok minyak, gangguan pengiriman pangan, hingga ancaman fenomena iklim El Nino disebut menjadi pemicu utama rapuhnya rantai pasok dunia saat ini.
Guncangan tersebut diprediksi melambungkan harga energi hingga 32% pada 2026, sekaligus menghentikan tren penurunan harga yang sempat terjadi selama tiga tahun terakhir. Minyak mentah jenis Brent diproyeksikan rata-rata menyentuh US$ 91 per barel pada 2026, naik tajam dari US$ 69 per barel pada 2025, sebelum perlahan mereda ke level US$ 79 per barel pada 2027.
Deputi Kepala Ekonom Bank Dunia sekaligus Direktur Prospects Group, Ayhan Kose, menyatakan pasar komoditas dihantam beberapa guncangan besar secara bersamaan. Menurutnya, lonjakan biaya energi dan gangguan perdagangan mendorong kenaikan harga secara luas, yang mengancam pembengkakan inflasi, kerawanan pangan, serta melambatnya pertumbuhan ekonomi.
Proyeksi utama Bank Dunia sebenarnya mengasumsikan konflik tidak akan memburuk. Namun, risiko situasi memanas tetap membayangi. Jika konflik di Timur Tengah meluas, kerusakan fasilitas minyak Rusia berlanjut, dan serangan terhadap kapal pengangkut gandum di Laut Hitam memuncak di tengah El Nino ekstrem, dunia berpotensi kembali menghadapi krisis pangan seperti awal dekade 2010-an.
Dalam skenario terburuk tersebut, harga minyak Brent bisa melambung hingga rata-rata US$ 105 per barel pada 2027. Sementara itu, harga pangan diperkirakan melompat 12% di atas proyeksi awal, melampaui rekor tertinggi yang pernah tercipta pada 2022.
Dampak pada Pasokan dan Konsumsi Global
Dampak dari guncangan global ini memicu penyesuaian besar pada peta komoditas dunia, terutama di sektor energi, logam, dan pupuk. Di pasar minyak bumi, pasokan global diproyeksikan merosot hingga 5,2% pada 2026, penurunan terbesar dalam empat dekade terakhir di luar masa pandemi 2020.
Penurunan pasokan itu diiringi penyusutan konsumsi sebesar 2,5% akibat tingginya harga dan masifnya peralihan ke kendaraan listrik, khususnya di China. Meski demikian, karena produksi masih di bawah tingkat konsumsi, penarikan cadangan minyak secara masif terpaksa dilakukan di berbagai negara.
Sektor pangan pun tak luput dari dampak guncangan ini. Harga komoditas pangan diprediksi naik sekitar 10% pada 2026 dan berlanjut naik 7% pada 2027. Secara kumulatif, lonjakan sebesar 18% ini dipicu oleh terhambatnya distribusi gandum akibat konflik, ancaman gagal panen dari El Nino, serta naiknya biaya produksi pertanian seiring mahalnya harga bahan bakar dan pupuk.
Pertamina Tahan Harga BBM
Di dalam negeri, PT Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga memutuskan harga bahan bakar minyak nonsubsidi dan subsidi untuk November 2026 tidak mengalami perubahan, meski harga minyak dunia menembus level US$ 100 per barel. Keputusan itu mempertimbangkan harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah, pajak, serta faktor relevan lainnya termasuk tingkat daya beli masyarakat.
Harga Pertamax Green (RON 95) tercatat Rp19.150 per liter, Pertamax Turbo (RON 98) Rp19.600 per liter, dan Pertamax (RON 92) Rp15.950 per liter. Sementara itu, Pertamina Dex dibanderol Rp25.200 per liter dan Dexlite Rp23.700 per liter. Untuk BBM subsidi, Pertalite (RON 90) masih Rp10.000 per liter dan Solar (CN 48) Rp6.800 per liter.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak akan naik sampai 31 Desember 2026. Ia menyatakan pemerintah harus melakukan berbagai upaya agar harga BBM subsidi tetap terjaga di tengah dinamika harga minyak dunia, sebagai bagian dari perlindungan kepada masyarakat.
Di pasar komoditas lain, harga batu bara ditutup melonjak 1,4% di posisi US$ 152,45 per ton pada Jumat, 30 Oktober 2026, meski sepanjang pekan ambles 1,65% secara point-to-point. Sementara CPO ditutup melesat 1,41% di posisi RM 4.681 per ton, tetapi anjlok 2,84% dalam sepekan terakhir.
Ke depan, pasar akan mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah dan dampaknya terhadap aliran pasokan dari kawasan Teluk. Bagi Indonesia, kombinasi harga minyak dunia yang tinggi dan kebijakan penahanan harga BBM subsidi menjadi tantangan tersendiri, terutama dalam menjaga inflasi dan daya beli masyarakat hingga akhir tahun.












