Cakrawala News – 07 November 2026 | Kondisi air keruh dan ombak besar hambat evakuasi helikopter Mi-17V5 di Kalteng yang jatuh di perairan Kabupaten Seruyan. Tim gabungan menghadapi tantangan berat karena jarak pandang penyelam sangat terbatas dan gelombang tinggi menyulitkan upaya pencarian serta pengangkatan badan helikopter.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan kendala tersebut di Bandara Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah, Jumat (6/11/2026). Menurut dia, air yang kotor dan berlumpur membuat penyelam sama sekali tidak dapat melihat badan helikopter di dasar perairan.
“Pertama memang visibility bagi para penyelam sangat terbatas, airnya sangat kotor, sangat keruh, lumpur, berlumpur. Sehingga kemarin juga dicoba dimasukin sama sekali tidak bisa dilihat. Jadi hanya bisa meraba badan helikopter tersebut,” ujar Raja Juli Antoni.
Selain visibilitas, gelombang laut yang besar menjadi hambatan kedua. Raja Juli menyebut ombak di lokasi kejadian sangat besar sehingga setiap tahapan evakuasi harus diperhitungkan secara matang demi keselamatan personel yang bertugas.
Penyelam Dibekali Gambar dan Video Helikopter
Meski menghadapi sejumlah kendala, tim penyelam telah dibekali informasi mengenai bentuk dan struktur helikopter Mi-17V5. Materi itu disiapkan melalui gambar dan video yang dapat dipelajari sebelum penyelam kembali diterjunkan ke lokasi kejadian.
Materi tersebut mencakup posisi pintu utama, pintu darurat, hingga mekanisme untuk melepaskan sabuk pengaman. Dengan pembekalan itu, para penyelam diharapkan dapat mengenali bagian-bagian helikopter sehingga proses evakuasi bisa dilakukan secara lebih terarah.
“Namun tadi sudah disampaikan kita sudah memiliki gambar dan video Heli Mi-17 ini. Jadi nanti para penyelam sudah diberikan pengetahuan yang cukup di mana pintu yang bisa dibuka, di mana pintu darurat yang bisa dibuka dan bagaimana cara melepaskan sabuk dan sebagainya,” ujar Menhut.
Raja Juli juga meminta dukungan doa dari masyarakat agar seluruh rangkaian operasi berjalan lancar. Ia menegaskan, proses evakuasi dilakukan bersama-sama dengan melibatkan seluruh unsur terkait.
Kronologi dan Korban
Helikopter Mi-17V5 milik TNI Angkatan Darat dengan nomor registrasi HA-5235 jatuh di perairan Seruyan pada Rabu (4/11/2026) saat menjalankan misi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Tim SAR gabungan mengerahkan 25 penyelam dan kapal tugboat untuk mengevakuasi korban di perairan keruh. Seluruh korban berhasil dievakuasi dengan rincian lima selamat dan tiga prajurit gugur. Namun, satu kru, Sertu (Anum) Heri Teguh Prasetyo, dilaporkan masih dalam proses evakuasi.
Proses evakuasi juga diwarnai risiko lain. Dalam sumber disebutkan penyelam sempat tersengat listrik saat evakuasi helikopter TNI tersebut, sehingga tim harus bekerja ekstra hati-hati.
Upaya penarikan badan helikopter sebelumnya telah dibantu menggunakan helikopter Kamov. Tim evakuasi juga diperkuat dengan penambahan personel penyelam dari Basarnas, TNI Angkatan Laut, dan relawan lokal.
Keselamatan Personel Jadi Prioritas
Kondisi air keruh dan ombak besar hambat evakuasi helikopter Mi-17V5 di Kalteng membuat proses penyelaman dan pencarian korban tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Tim harus memperhitungkan keselamatan penyelam sekaligus kondisi badan helikopter yang berada di dasar perairan.
Buruknya jarak pandang di bawah permukaan air menjadi salah satu hambatan utama dalam proses evakuasi badan helikopter dan korban kecelakaan. Dalam penyelaman sebelumnya, petugas tidak dapat melihat badan helikopter yang berada di dasar perairan dan hanya bisa mengandalkan perabaan untuk mengenali posisi bangkai pesawat.
Kendala air keruh dan berlumpur ini menjadi perhatian karena evakuasi menyangkut keselamatan personel serta penanganan korban. Operasi melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kementerian Kehutanan, Basarnas, TNI Angkatan Laut, hingga relawan lokal.
Ke depan, keberhasilan evakuasi sangat bergantung pada kondisi cuaca dan visibilitas bawah air. Pembekalan gambar dan video struktur helikopter diharapkan membantu penyelam bekerja lebih terarah meski tantangan di lokasi masih berat. Air keruh dan ombak besar hambat evakuasi helikopter Mi-17V5 di Kalteng menjadi pengingat bahwa operasi penyelamatan di perairan berlumpur memerlukan kehati-hatian ekstra.












