Cakrawala News – 07 November 2026 | Kisah di balik Inter Milan vs Como: Cesc Fabregas pernah tolak latih Nerazzurri demi I Lariani [titlebase] menjadi salah satu cerita paling menarik jelang semifinal Coppa Italia antara Como dan Inter Milan di Stadion Sinigaglia, Selasa malam. Laga ini sendiri sudah bersejarah bagi Como karena menjadi semifinal pertama mereka dalam 40 tahun terakhir. Namun di balik pertemuan itu, Fabregas kini berdiri di sisi yang berseberangan dengan klub raksasa yang disebut-sebut pernah ia tolak untuk dilatih.
Como melaju gagah ke semifinal setelah menyingkirkan Napoli, Fiorentina, hingga Sassuolo. Kini ujian sesungguhnya datang dari penguasa klasemen Serie A. Inter Milan datang dengan status favorit juara yang sangat kental, unggul 10 poin di puncak liga dan menang 13 kali dari 14 laga terakhir. Fabregas pun sadar betul timnya butuh lebih dari sekadar taktik di lapangan untuk menghadapi tim sekuat itu.
Meminta Atmosfer “Bombonera Kecil”
Menjelang laga, Fabregas menuntut atmosfer neraka dari para pendukung tuan rumah. Sang pelatih ingin Stadion Sinigaglia memberikan tekanan mental yang luar biasa bagi lawan. Ia meminta suporter Como menciptakan suasana stadion yang sangat mencekam, membayangkan atmosfer ikonik milik klub raksasa Argentina, Boca Juniors.
“Stadion harus menjadi seperti ‘Bombonera kecil’ besok. Kami berharap bisa menjalani pertandingan yang bagus,” tutur Fabregas kepada Como TV.
Targetnya jelas, yakni meraih hasil positif pada leg pertama semifinal ini. Laga kedua baru akan digelar di San Siro pada April mendatang. Fabregas ingin para pemainnya fokus memenangkan satu per satu laga sisa musim ini, tanpa melompat terlalu jauh ke depan.
Bekal Pengalaman Melawan Inter
Fabregas bukan tanpa pengalaman menghadapi Inter. Pada Desember 2024, Como kalah 0-2 dari Inter Milan di Giuseppe Meazza dalam laga Liga Italia. Saat itu, Fabregas mengaku merasakan kekecewaan yang mendalam karena timnya tidak mampu menampilkan performa yang diharapkan.
Untuk menghadapi Inter kala itu, ia menerapkan taktik baru dengan formasi tiga bek, yang bertujuan menyesuaikan diri dengan strategi pelatih Inter Milan, Simone Inzaghi. Meskipun Como mampu menetralkan serangan Inter untuk beberapa waktu, mereka akhirnya kebobolan dua gol yang dicetak oleh Carlos Augusto dan Marcus Thuram.
Fabregas menekankan pentingnya peningkatan performa tim agar dapat bersaing lebih baik di level yang lebih tinggi. Ia berharap para pemainnya dapat menunjukkan karakter dan agresivitas yang diperlukan dalam pertandingan-pertandingan mendatang.
“Kami harus belajar dari kekalahan ini dan berusaha lebih keras untuk memperbaiki kesalahan yang ada,” ungkapnya saat itu.
Ia juga memutuskan menggunakan strategi bertahan yang berbeda pada pertandingan tersebut, dengan harapan dapat menahan kekuatan Inter Milan yang memang memiliki kualitas lebih baik dibandingkan Como.
“Kami memiliki situasi di mana seharusnya kami lebih agresif dan cepat dalam mengirimkan bola ke kotak penalti,” ungkap Fabregas.
Menurut Fabregas, ada beberapa pemain yang tidak menunjukkan karakter yang diinginkannya. “Saya merasa marah karena kami merasakan bahwa kami bisa melukai mereka, tetapi kami tidak melakukannya. Saya ingin pemain dengan karakter yang kuat,” tuturnya.
Belajar dari Bodo/Glimt
Menariknya, dalam menyusun rencana untuk semifinal kali ini, Fabregas disebut belajar dari cara Bodo/Glimt menaklukkan Nerazzurri. Pendekatan itu sejalan dengan keinginannya membangun karakter tim yang berani, bukan sekadar bertahan dan menunggu serangan lawan.
Meski Inter mendominasi penguasaan bola pada pertemuan sebelumnya, data menunjukkan jumlah tembakan tepat sasaran dari kedua tim tidak jauh berbeda. Fabregas juga sempat menyinggung bahwa Arsenal kesulitan dan kalah di Giuseppe Meazza, sementara Atalanta kebobolan empat gol, sehingga ia menilai Inter sebagai salah satu dari tiga tim terbaik di Eropa saat ini.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa Fabregas tidak meremehkan lawan, tetapi juga tidak ingin timnya gentar. Baginya, menghadapi tim sekelas Inter membutuhkan keberanian, agresivitas, dan dukungan penuh dari tribun.
Mengapa Laga Ini Penting
Bagi Como, semifinal Coppa Italia adalah pencapaian langka yang layak disyukuri setelah bertahun-tahun absen dari panggung besar. Bagi Fabregas, pertemuan dengan Inter menjadi momen pembuktian atas pilihannya bertahan bersama I Lariani, julukan Como, alih-alih menerima tawaran klub besar seperti Nerazzurri.
Kisah di balik Inter Milan vs Como: Cesc Fabregas pernah tolak latih Nerazzurri demi I Lariani [titlebase] pun menjadi bumbu tambahan yang membuat laga ini kian menarik disimak. Publik akan melihat apakah keputusan Fabregas itu berbuah manis di atas lapangan.
Leg pertama di Sinigaglia akan menentukan seberapa besar peluang Como sebelum melakoni laga kedua di San Siro pada April mendatang. Dengan atmosfer yang diharapkan Fabregas, Como berharap bisa memaksimalkan status tuan rumah untuk mencuri keunggulan atas tim yang sedang mendominasi Serie A.
Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah bagaimana Como menjaga fokus di tengah jadwal padat dan apakah strategi yang dipelajari dari Bodo/Glimt benar-benar mampu meredam kekuatan Inter. Terlepas dari hasilnya, laga ini sudah menorehkan sejarah tersendiri bagi Como dan Fabregas.












