Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | Aksi borong saham Boy Thohir, mampu kembalikan keyakinan pasar? menjadi pertanyaan yang mengemuka setelah sejumlah konglomerat dan anggota keluarganya ramai-ramai membeli saham emiten terafiliasi di tengah gejolak pasar modal dan koreksi harga saham. Nama-nama yang tercatat melakukan pembelian antara lain pengusaha sekaligus pengendali Grup Adaro Garibaldi Thohir alias Boy Thohir hingga konglomerat Edwin Soeryadjaya. Langkah ini muncul saat tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuat sebagian investor khawatir.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Boy Thohir memborong saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Essa Industries Indonesia Tbk (ESSA) melalui perusahaan investasi keluarganya, Trinugraha Thohir.
Transaksi dilakukan pada Senin (19/10). Trinugraha Thohir membeli saham AADI dalam dua tahap. Pada transaksi pertama, perusahaan tersebut membeli 11.800 saham AADI dengan harga Rp 9.800 per saham. Selanjutnya, sebanyak 90.800 saham dibeli pada harga Rp 9.750 per saham.
Dengan begitu, total saham AADI yang dibeli mencapai 102.600 saham dengan nilai transaksi sekitar Rp 1 miliar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Trinugraha Thohir di AADI meningkat dari 89.926.520 saham atau setara 1,154% menjadi 90.029.120 saham atau 1,156%.
Dalam laporan pembelian saham itu, tujuan transaksi disebutkan sebagai investasi. Pada hari yang sama, Trinugraha Thohir juga membeli 470.000 saham ADRO dengan harga Rp 2.130 per saham. Nilai transaksi tersebut mencapai sekitar Rp 1 miliar.
Pembelian itu meningkatkan kepemilikan Trinugraha Thohir di ADRO dari 209.419.470 saham atau 0,727% menjadi 209.889.470 saham atau 0,729%. Selain AADI dan ADRO, Boy Thohir juga mengakumulasi saham ESSA.
Trinugraha Thohir membeli 2.252.300 saham ESSA pada harga Rp 444 per saham, dengan total nilai transaksi sekitar Rp 1 miliar. Setelah pembelian tersebut, kepemilikan Trinugraha Thohir di ESSA meningkat menjadi 84.955.645 saham atau setara 0,49%. Secara total, Boy Thohir lewat Trinugraha Thohir mengeluarkan kocek sekitar Rp 3 miliar untuk memborong saham saat pasar sedang bergejolak.
Edwin Soeryadjaya Ikut Menambah Kepemilikan
Selain keluarga Thohir, konglomerat Edwin Soeryadjaya juga menambah kepemilikannya di PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Putra dari pendiri perusahaan raksasa otomotif Astra International Tbk (ASII), William Soeryadjaya, tersebut membeli saham perseroan dalam dua tahap dengan total 5.807.100 saham.
Langkah para taipan ini tidak berdiri sendiri. Dua emiten Grup Adaro, ADRO dan AADI, mulai melaksanakan program pembelian kembali saham atau buyback pada Selasa (20/10). Dikutip dari pernyataan resmi perusahaan, aksi korporasi itu disebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis perseroan.
Perusahaan juga menyatakan bahwa buyback tersebut menjadi bagian dari upaya dua emiten milik Boy Thohir itu dalam mendukung stabilitas pasar modal Indonesia. ADRO menyebut pelaksanaan buyback telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 17 April lalu.
Berdasarkan persetujuan tersebut, program buyback ADRO memiliki periode pelaksanaan selama 12 bulan sejak 18 April 2026, sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Manajemen Alamtri menyatakan perseroan memiliki kesiapan yang solid untuk melaksanakan buyback, dengan didukung kondisi keuangan dan pengelolaan likuiditas yang prudent.
Perseroan juga meyakini pelaksanaan buyback tidak akan mengganggu kondisi keuangan, kebutuhan investasi, maupun kegiatan operasional, termasuk rencana bisnis yang telah ditetapkan.
Buyback AADI Berjalan Bertahap
Sementara itu, AADI juga mulai melaksanakan buyback secara bertahap pada hari yang sama. Program tersebut merupakan tindak lanjut keputusan RUPST AADI Tahun Buku 2025 yang diselenggarakan pada 22 Mei lalu. Sesuai persetujuan pemegang saham, periode pelaksanaan buyback AADI akan berlangsung hingga 22 Mei 2027.
Manajemen AADI menegaskan perseroan tetap berfokus pada pengembangan bisnis di Indonesia. Pelaksanaan buyback menjadi bagian dari komitmen tersebut, dengan tetap mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik atau good corporate governance serta mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dengan demikian, ada dua jalur aksi yang berjalan beriringan: pembelian saham oleh pemegang saham pengendali dan keluarganya, serta buyback yang dilakukan emiten secara korporasi. Keduanya mengirim sinyal yang sama, yakni keyakinan terhadap nilai perusahaan di tengah tekanan harga saham.
Meski demikian, pertanyaan soal Aksi borong saham Boy Thohir, mampu kembalikan keyakinan pasar? masih terbuka. Pembelian saham oleh kalangan pengendali umumnya dibaca pasar sebagai sinyal positif karena menunjukkan komitmen pemilik terhadap prospek emiten. Namun, besaran transaksi yang relatif kecil, sekitar Rp 1 miliar per emiten dalam satu hari, membuat dampaknya terhadap pergerakan harga secara keseluruhan perlu dicermati.
Selain itu, efek jangka panjangnya akan sangat bergantung pada kondisi fundamental emiten, arus dana asing, serta sentimen makroekonomi yang memengaruhi pasar modal. Buyback yang berlangsung bertahap hingga 2027 juga menjadi indikasi bahwa dukungan terhadap pasar akan berjalan dalam periode panjang, bukan dalam sekali gerakan.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati kelanjutan pembelian saham oleh para taipan ini serta realisasi buyback ADRO dan AADI. Jika aksi tersebut diikuti pemodal lain dan mampu menahan tekanan jual, keyakinan pasar berpeluang pulih secara bertahap. Sebaliknya, bila gejolak global berlanjut, sinyal dari kalangan pengendali tetap perlu dibaca dengan hati-hati dan tidak serta-merta dijadikan dasar tunggal dalam mengambil keputusan investasi.
