Cakrawala News – 21 Oktober 2026 | Sejumlah saham yang terafiliasi dengan konglomerat Tanah Air, termasuk emiten Grup barito milik Prajogo Pangestu, akan dikeluarkan Bursa Efek Indonesia (BEI) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Langkah ini diambil karena saham-saham tersebut memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau high shareholding concentration (HSC). Secara total, ada 80 saham yang akan dikeluarkan dari perhitungan indeks.
Keputusan bursa tersebut menyasar sejumlah kelompok usaha besar, mulai dari Grup Sinar Mas, Djarum, Salim, Barito, hingga Lippo. Tim Riset Mirae Asset Sekuritas menilai sejumlah saham dalam kelompok HSC memiliki bobot relatif besar terhadap IHSG, tetapi sebagian di antaranya justru mencatatkan penurunan harga yang signifikan sepanjang 2026 hingga 19 Oktober.
“Pengeluaran saham HSC berpotensi positif bagi kinerja IHSG ke depan, mengingat sejumlah saham berbobot besar telah turun tajam sepanjang 2026,” tulis Mirae Asset Sekuritas dalam risetnya, seperti dikutip Selasa (20/10).
Mirae menilai keluarnya saham HSC dari IHSG akan membuat beban indeks lebih longgar dan tidak terbebani fluktuasi harga yang besar. Meski begitu, pergerakan hitungan baru IHSG tidak akan otomatis berlaku lantaran BEI akan menyesuaikan pembagi indeks.
Sinar Mas Paling Banyak, Barito Lewat BREN
Dalam daftar HSC, Grup Sinar Mas milik keluarga Widjaja menyumbang saham terbanyak. Ada lima emiten Sinar Mas yang masuk HSC dan dikeluarkan dari perhitungan bursa, yakni PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI), PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA).
Disusul Grup Mayapada milik pengusaha Dato’ Sri Tahir. Saham yang terafiliasi dengan kelompok ini antara lain PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA), PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ).
Sementara itu, Grup CT Corp yang dikendalikan Chairul Tanjung memiliki saham PT Bank Mega Tbk (MEGA) dan PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI). Lalu Grup Lippo terafiliasi dengan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) dan PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO).
Dari kubu Barito, saham yang masuk daftar HSC adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), emiten energi terbarukan yang dikendalikan konglomerat Prajogo Pangestu. Selain itu, Grup Djarum terafiliasi dengan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), sedangkan Grup Salim memiliki keterkaitan dengan PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET).
Adapun PT Bayan Resources Tbk (BYAN) merupakan perusahaan yang dikendalikan pengusaha Low Tuck Kwong, sementara PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) terafiliasi dengan Grup Harita.
Jejak Saham Konglomerasi dalam Reli IHSG
Keputusan BEI ini tidak lepas dari rekam jejak saham konglomerasi dalam menggerakkan IHSG beberapa tahun terakhir. Pada 2023, IHSG ditutup menguat 6,16 persen dari level 6.850,62 ke 7.272,79, dengan kenaikan tinggi yang disebut ditopang segelintir saham konglomerasi yang harganya membumbung sejak IPO.
Data Bursa Efek Indonesia dan Bloomberg menyebutkan saham BREN memimpin penguatan indeks sepanjang 2023 dengan kenaikan 858,3 persen. Dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1.000 triliun, BREN menyumbang 259,38 poin terhadap kenaikan IHSG saat itu.
Disusul PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) yang melejit 104,3 persen dan menyumbang 85,24 poin, serta dua emiten Prajogo lainnya, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dengan penguatan masing-masing 6.002 persen dan 76,2 persen. CUAN menyumbang 55,51 poin, sedangkan BRPT menyumbang 38,79 poin.
Pola serupa berlanjut pada 2025. IHSG ditutup di level 8.646,94, menguat 1.567,03 poin atau 22,13 persen secara year to date. DSSA dari Grup Sinar Mas menjadi penopang terbesar dengan kenaikan 172,97 persen dan kontribusi sekitar 246,67 poin, disusul PT DCI Indonesia Tbk (DCII) milik Toto Sugiri yang melonjak 375,06 persen dengan sumbangan 200,49 poin.
BRPT kembali masuk jajaran penopang dengan kenaikan 255,43 persen dan kontribusi 147,10 poin, diikuti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang dikuasai Bakrie Group bersama Salim Group. Secara keseluruhan, saham konglomerasi disebut menyumbang sekitar 47,6 persen kenaikan bersih IHSG selama 2025.
Ironisnya, pada periode yang sama indeks LQ45 yang berisi saham berfundamental kuat dan likuid hanya naik sekitar 2,4 persen. J.P. Morgan dalam laporannya bertajuk Indonesia Equity 2026 Outlook menyatakan IHSG mengungguli indeks MXID dan LQ45 sekitar 16 hingga 22 poin persentase sepanjang 2025, didorong lonjakan saham konglomerasi ber-free float rendah di tengah spekulasi peluang masuk indeks MSCI.
Buyback di Tengah Tekanan Pasar
Di sisi lain, tiga emiten Grup Barito menyiapkan dana hingga Rp2,5 triliun untuk membeli kembali atau buyback saham pada 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Ketiganya adalah BREN, BRPT, dan CUAN.
Berdasarkan keterbukaan informasi pada Senin (19/10), BREN dan BRPT masing-masing menyiapkan dana maksimal Rp1 triliun, sementara CUAN menganggarkan hingga Rp500 miliar. Seluruh dana buyback berasal dari kas internal perusahaan, dan manajemen menyatakan penggunaannya tidak akan mengganggu kegiatan operasional karena modal kerja serta arus kas dinilai memadai. Harga pembelian akan ditentukan manajemen dengan mempertimbangkan harga wajar serta ketentuan peraturan.
Rencana buyback itu diumumkan di tengah tekanan pasar saham domestik. Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif kepada sejumlah pihak dalam perkara pasar modal yang berkaitan dengan BREN dan CUAN.
Dengan keluarnya 80 saham HSC dari perhitungan, komposisi IHSG ke depan diperkirakan lebih mencerminkan pergerakan pasar secara lebih luas, meski penyesuaian pembagi indeks tetap perlu dicermati. Pelaku pasar kini menantikan bagaimana BEI mengeksekusi penyesuaian tersebut sekaligus mengukur dampaknya terhadap kinerja indeks dan minat investor ritel yang selama ini cukup besar pada saham-saham konglomerasi.
