Cakrawala News – 12 September 2026 | Isu Bahlil jadi cawapres Prabowo di 2029? Begini analisis Efriza menjadi sorotan publik setelah Peneliti Senior Citra Institute, Efriza, menilai bahwa peluang Ketua Umum Partai Golkar itu mendampingi Presiden Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 bukanlah skenario utama. Menurut Efriza, Partai Golkar diprediksi masih akan berada di barisan pendukung Prabowo, dan belum menunjukkan tanda-tanda serius untuk membangun poros sendiri.
Pernyataan itu disampaikan Efriza kepada JPNN.com pada Kamis, 11 September. Ia menilai keputusan Musyawarah Nasional (Munas) dan sikap Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar menjadi indikator penting posisi partai berlambang pohon beringin tersebut menjelang pemilihan presiden mendatang.
“Jika melihat posisi Golkar saat ini, skenario paling realistis masih bersama Prabowo, bukan membentuk poros sendiri,” kata Efriza.
Menurut Efriza, Golkar kemungkinan tetap menjaga ruang tawar menjelang Pilpres 2029. Salah satu bahan negosiasi yang dapat diperjuangkan partai itu adalah posisi strategis di pemerintahan maupun peluang kader Golkar untuk menjadi calon wakil presiden. Namun, ia menegaskan bahwa peluang Bahlil menjadi pendamping Prabowo bukan skenario utama.
“Bahlil mendampingi Prabowo meski mungkin secara politik, tetapi tidak akan menjadi skenario utama,” ujarnya.
Pernyataan Efriza menambah panjang diskursus soal bursa calon wakil presiden pada Pilpres 2029. Sebelumnya, Pengamat politik sekaligus Founder Lembaga Survei KedaiKOPI, Hendri Satrio atau Hensa, memperkirakan Prabowo memiliki dua jalur utama dalam menentukan calon wakil presiden yang akan mendampinginya pada Pilpres 2029.
Dua Kriteria Pendamping Prabowo
Menurut Hensa, dua kriteria tersebut adalah memilih tokoh dari partainya sendiri, Partai Gerindra, atau memilih tokoh yang tidak terafiliasi dengan partai politik mana pun. Ia menilai pilihan tersebut bukan sekadar soal pasangan untuk Pilpres 2029, melainkan juga menentukan arah kekuatan politik Gerindra hingga Pemilu 2034.
“Menurut saya dia mungkin akan memilih tokoh dari partainya sendiri, Gerindra atau tokoh nonpartai yang tidak memiliki ambisi politik besar sehingga bisa fokus bekerja,” kata Hensa dalam keterangan di Jakarta, Jumat (11/9/2026).
Untuk opsi nonpartai, Hensa menyebut sejumlah nama yang berpotensi masuk pertimbangan Prabowo. Mereka antara lain Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Ia menilai Listyo Sigit berpeluang dipertimbangkan sebagai calon wakil presiden. Hensa mengaitkan peluang tersebut dengan posisi Listyo yang hingga kini masih dipercaya sebagai Kapolri.
“Kapolri bisa saja diambil jadi calon pendamping Prabowo dan ini bisa jadi alasan kuat mengapa Listyo Sigit tidak tergantikan sebagai Kapolri saat ini,” ujarnya.
Selain Listyo Sigit, Hensa melihat Teddy Indra Wijaya memiliki modal kedekatan dan loyalitas kepada Prabowo. Sementara Amran dinilai memiliki nilai politik karena kinerjanya sebagai Menteri Pertanian kerap mendapat apresiasi dari Presiden.
Opsi kedua yang dinilai Hensa cukup kuat adalah memilih kader Gerindra sendiri sebagai pendamping Prabowo. Menurut dia, memilih kader sendiri dapat membuat efek elektoral dari pemerintahan Prabowo tetap mengalir kepada Gerindra menuju 2034.
“Kenapa saya sebut Gerindra? Karena Prabowo saya yakin akan membesarkan Gerindra untuk bertarung lebih jauh di 2034. Kalau sampai dia pilih tokoh dari partai lain, dia artinya membesarkan partai lain,” kata Hensa.
Peta Bursa Cawapres Masih Dinamis
Selain nama-nama yang disebut Hensa dan Bahlil, bursa calon wakil presiden 2029 juga diwarnai nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pengamat komunikasi politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai peluang Ketua Umum Partai Demokrat itu maju sebagai calon presiden masih terbuka, meski elektabilitasnya saat ini masih tertinggal dari sejumlah kandidat.
Jamiluddin menyebut elektabilitas AHY masih berada di bawah Prabowo Subianto, Anies Baswedan, dan Dedi Mulyadi. Namun, ia menilai peta elektoral masih sangat mungkin berubah karena hasil survei politik cenderung fluktuatif dan dipengaruhi isu yang berkembang saat survei dilakukan.
“Karena itu, masih ada peluang bagi AHY untuk meningkatkan elektabilitasnya setidaknya hingga mendekati akhir tahun 2028. Peluang itu masih terbuka selama kinerja AHY sebagai menteri tetap terjaga dan tidak ada isu negatif yang besar menerpanya,” kata Jamiluddin kepada Suara.com, Jumat (11/9/2026).
Menurut Jamiluddin, peluang AHY semakin terbuka karena elektabilitas Partai Demokrat juga menunjukkan tren kenaikan. Dalam survei terakhir, Demokrat bahkan telah masuk jajaran empat besar partai dengan elektabilitas tertinggi. Ia menilai AHY saat ini lebih kompetitif dalam bursa cawapres, termasuk bersaing ketat dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dinamika ini menunjukkan bahwa pembahasan soal Bahlil jadi cawapres Prabowo di 2029? Begini analisis Efriza tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari peta politik yang lebih luas, di mana Partai Golkar, Gerindra, dan Demokrat sama-sama menghitung langkah menjelang Pilpres 2029.
Posisi Golkar dan Ruang Negosiasi
Dalam konteks itu, Efriza melihat Golkar masih akan menjaga kedekatan dengan pemerintahan Prabowo. Menurutnya, keputusan politik Bahlil dan hasil Munas partai akan menjadi penanda apakah Golkar benar-benar serius membangun poros alternatif atau tetap bergabung dalam koalisi pendukung Presiden.
Efriza menilai ruang tawar Golkar tetap terbuka, termasuk untuk memperoleh posisi strategis di pemerintahan. Namun, ia menegaskan bahwa peluang Bahlil mendampingi Prabowo tidak akan menjadi skenario utama. Artinya, pembahasan soal Bahlil jadi cawapres Prabowo di 2029? Begini analisis Efriza lebih tepat dibaca sebagai bagian dari manuver politik jangka panjang, bukan kepastian pencalonan.
Sementara itu, Hensa menilai keputusan Prabowo soal pendamping pada 2029 akan sangat menentukan arah kekuatan politik Gerindra hingga Pemilu 2034. Jika Prabowo memilih kader sendiri, efek elektoral pemerintahan dapat tetap mengalir ke Gerindra. Sebaliknya, jika memilih tokoh dari partai lain, hal itu berpotensi memperbesar partai lain.
Dengan peta yang masih cair, nama-nama seperti Bahlil Lahadalia, Listyo Sigit Prabowo, Teddy Indra Wijaya, Andi Amran Sulaiman, hingga AHY masih akan terus diperbincangkan. Namun, seluruh analisis tersebut masih bersifat prediksi dan belum menjadi keputusan resmi partai maupun Presiden Prabowo.
Yang perlu dicermati ke depan adalah sikap resmi Partai Golkar, arah koalisi pemerintahan, serta dinamika elektabilitas para tokoh menjelang Pilpres 2029. Publik disarankan menunggu perkembangan resmi dari partai-partai dan pemerintah, karena bursa cawapres masih sangat mungkin berubah seiring waktu.
