Prabowo Kenang Masa Akmil: SBY Memang Taruna Terbaik, Prabowo Taruna Bisa Diperbaiki

Cakrawala News – 12 September 2026 | Presiden Prabowo Subianto mengenang masa pendidikannya di Akademi Militer bersama Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan nada bercanda. Dalam pidatonya di puncak perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat, Prabowo melontarkan gurauan yang menyita perhatian, bahwa “SBY memang taruna terbaik, Prabowo taruna bisa diperbaiki”. Pernyataan itu disampaikan Prabowo saat menghadiri acara di Indonesia Arena, Jakarta, Rabu (9/9/2026) malam, yang juga dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Prabowo hadir bersama Gibran dan disambut Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) serta Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Acara tersebut menjadi momen pertemuan dua tokoh yang memiliki latar belakang militer dan pernah sama-sama mendirikan partai politik setelah pensiun dari TNI.

Dalam pidatonya, Prabowo mengaku satu angkatan dengan SBY di Akademi Militer pada 1970. Meski masuk pada angkatan yang sama, keduanya lulus pada angkatan yang berbeda. Menurut Prabowo, sejak awal pendidikan, SBY sudah menunjukkan kemampuan menonjol sebagai taruna.

“Dari awal sudah kelihatan bahwa Pak SBY memang taruna yang terbaik, tapi Prabowo Subianto taruna yang bisa diperbaiki,” ujar Prabowo disambut tawa dan tepuk tangan para kader Demokrat.

Prabowo juga menyebut dirinya merasa terhormat dapat menghadiri perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat sekaligus HUT ke-77 SBY sebagai penggagas dan pendiri partai tersebut. Ia lalu mengaitkan perjalanan karier keduanya di dunia militer dengan pilihan terjun ke politik setelah menyelesaikan tugas di TNI.

Meniru Langkah Baik SBY

Dalam kesempatan itu, Prabowo mengaku meniru perjalanan politik SBY. Ia menyebut SBY telah memberikan contoh dengan mengakhiri karier militernya, membangun partai politik, kemudian meminta mandat kepada rakyat melalui pemilihan umum.

“Bapak SBY pernah jadi jenderal, saya juga pernah, tetapi kita, TNI, yang diajarkan, yang dibesarkan, yang dibina sebagai tentara rakyat,” kata Prabowo.

Menurut Prabowo, pendidikan sebagai tentara rakyat membentuk pemahaman bahwa pengabdian kepada masyarakat harus menjadi orientasi utama, termasuk ketika menjalankan politik melalui mekanisme demokrasi. Ia pun tak malu mengakui mengikuti jejak baik SBY.

“Kalau nyontek yang baik, boleh. Saya juga bikin partai, maju ke rakyat, minta mandat,” ucap Ketua Umum Partai Gerindra tersebut.

Prabowo mengungkapkan bahwa dirinya sempat empat kali gagal memperoleh mandat rakyat sebelum akhirnya terpilih sebagai Presiden RI. Ia menilai pengalaman kalah dalam kontestasi politik adalah hal wajar dalam demokrasi.

“Saya waktu empat kali tidak menang, saya terima. Ya sudah, kita maju lagi. Ini demokrasi Indonesia. Dan hari ini, di panggung ini, ya inilah demokrasi Indonesia,” tuturnya.

Demokrasi Boleh Beda Warna, Tetap Rukun

Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa perbedaan pilihan dan pandangan merupakan bagian tak terpisahkan dari demokrasi. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk memecah persatuan bangsa.

Menurut Prabowo, demokrasi Indonesia memiliki banyak warna. Masyarakat boleh bersaing, mengkritik, memberikan saran, hingga menyampaikan pandangan yang tidak menyenangkan. Semua itu, kata dia, harus tetap berada dalam bingkai persaudaraan.

“Macam-macam warna. Bersaing, kritik, menyampaikan saran, memberi rekomendasi. Menyampaikan hal-hal yang mungkin tidak enak untuk disampaikan, tapi tetap kita rukun, tetap bersahabat, tetap berkeluarga,” katanya.

Prabowo juga mengingatkan bahwa Indonesia merupakan negara besar dengan tantangan yang tidak sedikit. Karena itu, berbagai persoalan bangsa harus dihadapi secara bersama-sama dengan mengedepankan persatuan.

“Kita negara sangat besar, ya berarti masalahnya juga besar,” ucapnya.

Suasana acara semakin cair ketika Prabowo mengaku kerap diingatkan stafnya agar menyampaikan pidato sesuai teks yang telah disiapkan. Pengakuan itu menambah kesan santai pada pidato yang berlangsung di hadapan para kader Partai Demokrat.

Partai Ummat Ikut Hadir, Soroti RUU Pemilu

Perayaan HUT ke-25 Partai Demokrat juga dihadiri sejumlah tokoh dari partai lain, termasuk petinggi DPP Partai Ummat. Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Ummat Ansufri Idrus Sambo, Ketua Harian Heikal Safar, dan Sekretaris Eksekutif Taufik Hidayat terlihat disambut hangat oleh SBY.

Ketua Harian Partai Ummat Heikal Safar mengatakan kehadiran pihaknya merupakan bentuk penghormatan. Menurut dia, momen tersebut bisa menjadi jalan pembuka bagi partai politik untuk membangun sinergi antara partai parlemen dan nonparlemen melalui aliansi strategis di beberapa tingkatan, lobi, dan dukungan elektoral.

Heikal berharap Partai Ummat dan Demokrat dapat membentuk metode kerja sama formal maupun informal dalam membuat kebijakan sebagai respons terhadap beberapa isu pemerintahan, termasuk rencana pembahasan RUU Pemilu. Ia juga mendorong partai parlemen lebih transparan dan inklusif dalam merevisi Undang-Undang Pemilu yang akan datang.

“Kami juga berharap partai parlemen dapat lebih transparan dan inklusif dalam merevisi Undang-Undang Pemilu yang akan datang dan bisa membuat kerangka kerja legislatif yang tidak lagi eksklusif,” ujar Heikal di Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Menurut Heikal, meski berada di luar parlemen, Partai Ummat dapat dilibatkan oleh partai pemilik kursi DPR RI dalam menjalankan roda pemerintahan. Pernyataan itu menandakan terbukanya ruang dialog antarpartai menjelang pembahasan revisi aturan pemilu.

Pesan Prabowo tentang pentingnya menjaga kerukunan di tengah perbedaan warna politik menjadi relevan dengan dinamika tersebut. Gurauan bahwa “SBY memang taruna terbaik, Prabowo taruna bisa diperbaiki” sekaligus menegaskan hubungan panjang kedua tokoh yang kini berada di panggung politik berbeda peran, namun tetap berada dalam bingkai persaudaraan bangsa.

Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada bagaimana semangat rekonsiliasi dan kerja sama antarpartai diwujudkan dalam pembahasan RUU Pemilu. Selain itu, perjalanan politik Prabowo yang mengaku meniru jejak SBY menjadi cermin bagaimana demokrasi Indonesia memberi ruang bagi mereka yang gigih mencoba meski berkali-kali gagal.

Exit mobile version