BGN Tegas Pecat Oknum SPPG Bantul yang Viral Hina Korban Keracunan MBG

BGN Tegas Pecat Oknum SPPG Bantul yang Viral Hina Korban Keracunan MBG
BGN Tegas Pecat Oknum SPPG Bantul yang Viral Hina Korban Keracunan MBG

Cakrawala News – 23 September 2026 | Badan Gizi Nasional (BGN) tegas pecat oknum SPPG yang viral gegara hina korban keracunan MBG di Medan melalui keputusan pemberhentian seorang karyawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Muntuk, Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Karyawan bernama Gerardus Permanaditya itu dipecat setelah video dirinya yang diduga mengolok-olok siswa korban keracunan makanan bergizi gratis beredar luas di media sosial. Keputusan ini disampaikan Koordinator Regional BGN DIY, Wirandita Gagat Widyatmoko, sebagai bentuk penegakan standar perilaku dan profesionalitas di lingkungan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami menyayangkan adanya pernyataan tersebut. Setelah dilakukan penanganan sesuai ketentuan, yang bersangkutan telah diberhentikan,” kata Gagat dalam keterangannya, Senin (21/9/2026). Pernyataan senada juga disampaikan pada Minggu (20/9/2026), ketika ia menegaskan bahwa BGN DIY tidak mentoleransi sikap yang dinilai tidak berempati terhadap penerima manfaat program.

Kronologi dan Isi Video yang Viral

Kasus ini bermula dari beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan seorang pria tengah memakan menu MBG sambil melontarkan komentar yang diduga mengejek korban keracunan MBG. Dalam unggahan yang dikutip dari akun Instagram @reset.feeds, pria tersebut disebut mengejek Febiona Purba, siswi yang sempat mengalami kejang hingga dilaporkan kehilangan ingatan usai diduga keracunan MBG di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Unggahan itu menyebut tindakan tersebut sebagai perbuatan yang tidak memiliki empati dan memicu kemarahan publik. Netizen kemudian bergerak cepat menelusuri akun media sosial hingga melacak keberadaan pria dalam video tersebut. Wirandita membenarkan bahwa pria itu merupakan pegawai SPPG di Dlingo, Bantul, dengan posisi sebagai pengawas keuangan. Ia juga menyatakan bahwa pihaknya telah mengklarifikasi yang bersangkutan, dan hasil klarifikasi akan disampaikan kepada publik baik secara pribadi maupun dari SPPG terkait.

Meski demikian, sumber-sumber yang ada menunjukkan perbedaan kecil terkait lokasi korban keracunan yang dikaitkan dengan video tersebut. Sebagian sumber menyebut korban berada di Karo, Sumatera Utara, sementara judul utama mengaitkannya dengan Medan. Perbedaan ini tidak mengubah substansi persoalan, yakni adanya dugaan olok-olok terhadap korban keracunan MBG yang dilakukan oleh personel SPPG.

Respons BGN dan Penanganan Korban

Menurut Gagat, persoalan ini bukan sekadar soal unggahan atau pernyataan di media sosial. Setiap personel yang terlibat dalam program MBG harus memahami bahwa mereka membawa nama lembaga dan program pemerintah. Karena itu, sikap di ruang publik, termasuk aktivitas di media sosial, tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sebagai bagian dari penyelenggara MBG.

“Ini menjadi pelajaran bagi seluruh jajaran bahwa bekerja dalam Program MBG tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga memiliki etika, empati, sensitivitas dan tanggung jawab dalam berkomunikasi,” ujarnya. Ia menekankan bahwa setiap kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan harus menjadi perhatian bersama, dan ketika ada penerima manfaat yang diduga terdampak, seluruh jajaran harus mengedepankan rasa kemanusiaan, empati, serta sikap saling menghormati.

Gagat juga mengingatkan agar kejadian ini tidak dijadikan bahan candaan atau olok-olok. “Jangan sampai satu perilaku menghapus kerja baik banyak orang. Mari kita jadikan ini pelajaran. Bekerja dengan benar, berkomunikasi dengan baik, dan tetap memiliki empati. Kita hadir untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat, bukan untuk merendahkan pihak lain,” tegasnya.

Di sisi lain, korban keracunan yang dikaitkan dengan kasus ini telah mendapatkan penanganan intensif di Rumah Sakit Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Tim dokter menyatakan bahwa pasien tidak mengalami gangguan fungsi otak. Pemeriksaan dilakukan melalui wawancara dengan pasien dan keluarga, mempelajari data perawatan sebelumnya, pemeriksaan fisik dan neurologis, hingga pemeriksaan elektroensefalografi (EEG).

Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut menyesalkan dugaan ejekan tersebut. Ia meminta ruang publik seharusnya menjadi aman dan ramah bagi siapa saja. “Perkataan oknum SPPG ini sangat disayangkan. Mari kita bersama menjaga ruang publik yang aman dan ramah bagi semua. Jangan sampai anak-anak justru menjadi korban perundungan,” kata Gibran dalam unggahan Instagram @gibran_rakabuming.

Pelajaran bagi Seluruh Personel SPPG

Pemecatan ini menjadi respons tegas BGN terhadap perilaku personel di lingkungan program MBG, terutama ketika isu keamanan pangan tengah menjadi perhatian masyarakat. BGN menegaskan bahwa program MBG tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola makanan dan memenuhi standar teknis, tetapi juga etika, empati, komunikasi, serta tanggung jawab sosial.

Seluruh jajaran SPPG diminta berhati-hati dalam menggunakan media sosial maupun berbicara di ruang publik, karena satu tindakan personel dapat berdampak pada citra seluruh program. Konten yang meremehkan penderitaan penerima manfaat berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap program tersebut.

Kasus BGN tegas pecat oknum SPPG yang viral gegara hina korban keracunan MBG di Medan ini sekaligus menjadi penanda bahwa pengawasan terhadap perilaku personel penyelenggara MBG akan terus diperketat. Publik kini menantikan hasil klarifikasi yang dijanjikan akan disampaikan secara terbuka, serta langkah lanjutan BGN untuk memastikan standar etika dan empati benar-benar diterapkan di seluruh SPPG.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *