Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya

Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya
Bitcoin Berisiko Turun ke Bawah US$ 80.000, Ini Pemicunya

Cakrawala News – 15 Oktober 2026 | Harga Bitcoin berisiko turun ke bawah US$ 80.000, ini pemicunya yang perlu dicermati pelaku pasar di tengah ketidakpastian ekonomi global. Pada perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026, harga bitcoin (BTC) berbalik arah melemah dan berada di posisi US$ 83.400 atau sekitar Rp 1,49 miliar, menurut data coinmarketcap.com pada pukul 13.26 WIB. Dalam 24 jam terakhir, harga BTC turun 0,28 persen, sementara dalam sepekan terakhir terpangkas 0,92 persen. Posisi ini juga jauh di bawah rekor tertinggi sepanjang masa US$ 126.198,07 yang tercatat pada 6 Oktober 2026.

Pelemahan tersebut membuat level US$ 80.000 menjadi garis batas yang kian dekat. Sejumlah faktor eksternal dinilai menjadi pemicu utama tekanan terhadap aset kripto, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat, perkembangan harga minyak, hingga ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi selera risiko investor.

Tiga Faktor yang Menekan Bitcoin

Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menilai pergerakan bitcoin saat ini perlu dilihat dalam konteks ekonomi global yang lebih luas, bukan semata perkembangan internal industri kripto. Menurutnya, perubahan ekspektasi suku bunga, penguatan dolar AS, dan ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi selera risiko investor. Karena itu, ia menekankan pentingnya bagi pelaku pasar untuk memahami bagaimana berbagai faktor tersebut saling berkaitan sebelum mengambil keputusan.

Faktor pertama adalah penguatan dolar Amerika Serikat di tengah ketidakpastian geopolitik. Dalam laporan pada 12 Oktober 2026, Reuters menyoroti penguatan dolar AS ke dekat level tertinggi dalam 18 bulan, didukung permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman serta perhatian investor terhadap data inflasi AS. Perubahan sentimen ini menjadi konteks penting dalam memahami minat investor terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Faktor kedua adalah perkembangan harga minyak dan implikasinya terhadap ekspektasi inflasi. Reuters juga melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa harga minyak sedikit melemah setelah kenaikan pada hari sebelumnya, sementara pasar masih mempertimbangkan risiko gangguan pasokan energi di tengah ketegangan geopolitik. Perubahan harga energi dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan pandangan pasar terhadap kebijakan moneter, meskipun dampaknya terhadap Bitcoin tidak selalu langsung atau konsisten.

Faktor ketiga adalah ketidakpastian geopolitik secara keseluruhan yang mendorong investor beralih ke aset yang dianggap lebih aman. Kombinasi ketiga faktor inilah yang membuat Bitcoin berisiko turun ke bawah US$ 80.000, ini pemicunya yang harus dicermati dalam beberapa waktu ke depan.

Bekas Kejatuhan Oktober 2025

Tekanan saat ini tidak bisa dilepaskan dari luka pasar yang masih membekas. Setahun lalu, kripto tengah menikmati gelombang dukungan dari Gedung Putih, antusiasme Wall Street, dan harapan akan era keemasan baru. Namun, kejatuhan pasar bersejarah pada Oktober 2025 melenyapkan rekor nilai taruhan leverage atau utang sebesar US$ 19 miliar atau sekitar Rp 340,01 triliun dengan asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah 17.900.

Peristiwa itu memicu pengetatan di seluruh industri dan menyingkap kerentanan struktur pasar yang sebelumnya dianggap semakin matang. Mengutip laporan Yahoo Finance pada Minggu, 11 Oktober 2026, satu tahun kemudian bitcoin sebagai tolok ukur pasar masih berada lebih dari 30 persen di bawah rekor tertingginya. Upaya untuk mencapai reli yang berkelanjutan berulang kali gagal, dan pelaku pasar lambat dalam membangun kembali posisi leverage yang dulunya mendorong lonjakan terbesar kripto.

Total open interest pada kontrak perpetual futures terkait Bitcoin, indikator minat pedagang terhadap taruhan leverage, berada di angka sekitar US$ 45 miliar atau Rp 805,29 triliun setahun yang lalu menurut data CryptoQuant. Angka tersebut turun lebih dari setengahnya dalam enam bulan setelah kejatuhan pasar. Reli bitcoin yang sempat menembus level US$ 80.000 memang memulihkan sebagian kepercayaan, tetapi open interest pada token terbesar di dunia ini masih jauh dari puncaknya.

Pasar Masih Rapuh

Presiden Caladan, market maker kripto, Julia Zhou, menyatakan bahwa kondisi lesu ini tidak menghentikan bank dan perusahaan perdagangan besar untuk bereksperimen dengan aset digital. Menurutnya, hal yang lebih penting daripada apakah penggunaan leverage akan kembali marak adalah apakah pasar itu sendiri telah menjadi lebih tangguh. Ia menambahkan, posisi leverage senilai lebih dari US$ 19 miliar dilikuidasi dalam waktu 24 jam, namun masalah yang lebih besar adalah betapa cepatnya likuiditas yang tersedia menghilang saat pasar paling membutuhkannya.

Meski para pedagang kini lebih memahami risikonya, Zhou menilai pasar masih sangat terfragmentasi dan likuiditas masih bisa memburuk dengan cepat. Argumen yang mendukung pandangan bahwa pasar kini lebih kuat adalah tingkat leverage yang lebih rendah, bursa yang menawarkan aset dengan korelasi lebih rendah, serta beberapa platform yang telah memperkuat sistem likuidasi mereka.

Sementara itu, minat investor untuk berspekulasi tidak surut, tetapi beralih ke ranah baru. Pasar prediksi mulai menarik banyak peminat, dan kontrak perpetual futures yang lama menjadi instrumen utama perdagangan kripto kini digunakan untuk memasang taruhan leverage pada saham, komoditas, dan aset dunia nyata lainnya. Sebagian mekanisme yang turut mengubah kripto menjadi fenomena spekulatif kini menemukan kegunaan yang jauh melampaui token yang awalnya dirancang untuk diperdagangkan, seiring Wall Street gencar mengembangkan stablecoin, tokenisasi, dan infrastruktur keuangan berbasis teknologi blockchain.

Yang Perlu Dicermati Selanjutnya

Bagi pelaku pasar, kombinasi penguatan dolar AS, fluktuasi harga minyak, dan ketegangan geopolitik menjadi variabel yang perlu dipantau karena dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan kebijakan moneter. Ketiganya berpotensi menentukan apakah Bitcoin berisiko turun ke bawah US$ 80.000, ini pemicunya yang tidak hanya berasal dari dalam industri kripto, melainkan dari dinamika ekonomi global.

Dengan posisi harga yang masih jauh dari puncak dan struktur pasar yang dinilai belum sepenuhnya pulih, arah bitcoin dalam beberapa pekan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi dan sentimen risiko investor. Pelaku pasar disarankan mencermati setiap perkembangan tersebut secara berkala sebelum mengambil keputusan investasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *