Cakrawala News – 01 November 2026 | Bos BGN Sudaryono unjuk kemampuan berbahasa Jepang di depan JICA saat bahas inovasi MBG 2.0 menjadi sorotan dalam sebuah forum yang membahas pengembangan program Makan Bergizi Gratis. Momen tersebut mendapat sambutan tepuk tangan dari para peserta yang hadir. Kepala Badan Gizi Nasional itu menunjukkan kemampuan berbahasa Jepang ketika menjelaskan arah transformasi program MBG yang tengah disiapkan lembaganya.
Dalam forum itu, Sudaryono membahas pengembangan Transformasi MBG 2.0, termasuk inovasi penyajian makanan dengan sistem prasmanan yang terinspirasi dari Jepang. Menurut keterangan BGN, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan kualitas makanan, keamanan pangan, dan pelayanan kepada para siswa. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya pembenahan tata kelola penyajian makanan di sekolah.
Alasan Usulkan MBG Masuk Kurikulum Sekolah
Selain membahas inovasi penyajian, Sudaryono mengungkapkan alasan di balik usulannya agar program MBG masuk ke dalam kurikulum sekolah. Ia menyadari usulan tersebut tengah ramai diperbincangkan masyarakat di media sosial. Menurut Sudaryono, gagasan itu bukan sekadar wacana, melainkan upaya menjadikan pendidikan gizi sebagai bagian tak terpisahkan dari sistem pendidikan nasional.
“Sekarang lagi ramai, Kepala BGN minta MBG dan pendidikan gizi masuk kurikulum misalnya, itu maksudnya adalah menjadi satu kesatuan dari unsur pendidikan kita,” ucap Sudaryono, Kamis (29/10/2026), seperti dikutip dari Kompas TV.
Pernyataan itu menegaskan bahwa usulan tersebut berangkat dari keinginan agar persoalan gizi tidak dipandang sebagai program tambahan semata, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran di sekolah. Dengan begitu, kata dia, pemahaman mengenai makanan sehat dan gizi seimbang dapat tertanam sejak dini pada siswa.
Inovasi Prasmanan Terinspirasi Jepang
Momen Bos BGN Sudaryono unjuk kemampuan berbahasa Jepang di depan JICA saat bahas inovasi MBG 2.0 juga tidak lepas dari konteks pengembangan sistem penyajian makanan. BGN tengah mengembangkan Transformasi MBG 2.0 yang salah satunya mengadopsi sistem prasmanan seperti yang diterapkan di Jepang. Sistem ini dinilai dapat memberi siswa keleluasaan memilih porsi dan jenis makanan sesuai kebutuhan.
Melalui pendekatan tersebut, BGN berharap kualitas makanan yang disajikan dapat lebih terjaga. Selain itu, sistem prasmanan disebut berpotensi memperkuat aspek keamanan pangan karena penyajian dilakukan secara lebih terkontrol. Pelayanan kepada siswa pun diharapkan ikut membaik seiring penerapan inovasi ini.
Pengembangan MBG 2.0 menjadi perhatian karena program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas yang menyentuh langsung kehidupan siswa di berbagai daerah. Perubahan pada sistem penyajian berpotensi memengaruhi pengalaman siswa dalam menerima makanan setiap hari di sekolah.
Perhatian pada Kualitas dan Keamanan Pangan
Dalam sejumlah kesempatan, isu keamanan pangan menjadi perhatian serius dalam pelaksanaan program MBG. BGN menyatakan komitmennya untuk tidak memandang pemilik dalam menindak dapur MBG yang bermasalah, termasuk yang ditutup imbas keracunan di Bogor. Langkah tersebut menunjukkan bahwa aspek pengawasan tetap menjadi bagian penting dari pelaksanaan program.
Karena itu, inovasi penyajian ala Jepang yang diusung dalam MBG 2.0 diposisikan sebagai salah satu cara memperbaiki mutu layanan. BGN menilai pembenahan tidak hanya soal menu, tetapi juga cara makanan disajikan dan dikelola di lapangan.
Sementara itu, usulan memasukkan MBG dan pendidikan gizi ke kurikulum menambah dimensi baru dalam diskusi publik. Sebagian pihak menyoroti pentingnya literasi gizi bagi siswa, namun perdebatan di media sosial menunjukkan bahwa gagasan ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut bersama pemangku kepentingan pendidikan.
Yang Perlu Dicermati ke Depan
Ke depan, publik akan menantikan bagaimana rencana Transformasi MBG 2.0 dijalankan secara bertahap, termasuk uji coba sistem prasmanan di sekolah-sekolah. Selain itu, kelanjutan usulan integrasi pendidikan gizi ke dalam kurikulum masih menunggu pembahasan dengan kementerian terkait.
Momen Bos BGN Sudaryono unjuk kemampuan berbahasa Jepang di depan JICA saat bahas inovasi MBG 2.0 setidaknya memperlihatkan bahwa pengembangan program tidak hanya berhenti pada penyediaan makanan, tetapi juga menyangkut cara penyajian dan pemahaman gizi. Bagi masyarakat, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana inovasi tersebut berdampak nyata pada kualitas makanan, keamanan pangan, dan pelayanan bagi para siswa di lapangan.












