Cakrawala News – 05 Oktober 2026 | Elon Musk kembali ke pemerintahan AS, pimpin proyek perang masa depan Pentagon melalui Project Meridian. Miliarder teknologi itu ditunjuk Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth untuk memimpin bersama sebuah inisiatif yang mengkaji kebutuhan teknologi dan kemampuan militer AS dalam menghadapi medan perang generasi berikutnya. Penunjukan ini diumumkan Hegseth dalam pidatonya di Pangkalan Korps Marinir AS di Quantico, Virginia, Rabu (30/9/2026).
Project Meridian tidak dipimpin Musk sendirian. Ia berbagi peran sebagai pimpinan bersama dengan Palmer Luckey, pendiri perusahaan teknologi pertahanan Anduril Industries, serta Newt Gingrich, mantan Ketua DPR AS dari Partai Republik. Ketiganya mewakili kombinasi eksekutif teknologi, pengusaha pertahanan, dan figur politik senior yang berpengalaman di pemerintahan.
Fokus pada Dominasi Teknologi Medan Perang
Menurut keterangan Pentagon, Project Meridian bertujuan mengidentifikasi kemampuan yang diperlukan untuk mencapai dominasi teknologi absolut di medan perang generasi berikutnya. Hegseth menyatakan proyek ini akan berfokus pada penemuan, pengembangan, serta penerapan senjata dan sistem yang dibutuhkan militer AS pada masa depan.
“Kami akan berfokus pada menemukan, mengembangkan, dan menerapkan senjata serta sistem yang akan dibutuhkan anak-anak dan cucu-cucu kita dalam kehidupan mereka,” kata Hegseth, seperti dikutip dari The Associated Press.
Ruang kajian Project Meridian mencakup sejumlah teknologi yang diperkirakan mengubah cara perang dilakukan. Pentagon akan menelaah pemanfaatan kecerdasan buatan, sistem otonom, robotika, energi terarah, bioteknologi, hingga kemungkinan operasi di wilayah yang belum menjadi medan perang konvensional, termasuk bawah tanah dan kawasan Bulan.
Dalam memo yang dikutip The Guardian, Hegseth menilai perkembangan teknologi tinggi akan mengubah karakter peperangan secara mendalam. Karena itu, ia menegaskan AS harus mengantisipasi lingkungan operasional masa depan dan bertindak tegas untuk mengembangkan perangkat yang memungkinkan dominasi di dalamnya. Pentagon juga berencana membentuk komando baru berbintang empat yang akan mengawasi pengembangan kemampuan tersebut.
Kembalinya Musk Setelah DOGE
Penunjukan ini menjadi kembalinya Musk dalam peran resmi di pemerintahan Presiden Donald Trump setelah sebelumnya memimpin Department of Government Efficiency (DOGE). Musk meninggalkan pemerintahan pada Mei 2025 usai menjalankan program pemangkasan besar-besaran di pemerintahan federal AS.
Setelah itu, hubungan Musk dan Trump sempat memburuk akibat perbedaan pandangan terkait rancangan undang-undang anggaran. Meski demikian, keduanya kembali terlihat bersama dalam sejumlah kegiatan pemerintahan. Pada 29 September 2026, Musk hadir di Gedung Putih dalam pertemuan Trump dengan para pemimpin perusahaan teknologi dan kecerdasan buatan. Musk termasuk salah satu pemimpin perusahaan teknologi yang menandatangani kesepakatan sukarela mengenai pengembangan AI.
Keterlibatan Musk dalam Project Meridian dinilai sejalan dengan pandangannya selama ini mengenai evolusi militer. CEO Tesla dan SpaceX itu meyakini perang di era modern tidak lagi mengandalkan armada konvensional, melainkan sistem otonom dan kecerdasan buatan.
Peringatan soal Konflik Kepentingan
Di sisi lain, rencana ini memicu kekhawatiran dari sejumlah pejabat Pentagon. Seperti dilaporkan Politico, para pejabat memperingatkan bahwa langkah Hegseth melibatkan dua kontraktor pertahanan untuk membantu mengarahkan masa depan militer berpotensi menimbulkan konflik kepentingan yang mengancam integritas jangka panjang departemen tersebut.
Baik Musk maupun Luckey memimpin perusahaan yang memiliki kontrak dengan Pentagon senilai miliaran dolar. Sembilan pejabat saat ini dan mantan pejabat menyatakan bahwa akses istimewa apa pun dapat memungkinkan mereka menyalurkan lebih banyak bisnis ke pihak mereka.
“Ini sepenuhnya menunjukkan kemerosotan dan oligarki yang telah mengambil alih pemerintahan kita dan, dalam banyak kasus, secara langsung melalui pembelian pengaruh, kekuasaan, dan wewenang, terang-terangan tepat di depan kita,” kata Wes Bryant, seorang pensiunan sersan utama Angkatan Udara yang hingga tahun lalu memimpin penilaian dampak buruk terhadap warga sipil di Pentagon. “Mereka bahkan tidak berusaha menyembunyikannya lagi.”
Menanggapi hal itu, Pentagon menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa proyek tersebut akan dipimpin oleh MITRE, sebuah organisasi nirlaba yang mengelola pusat penelitian yang didanai pemerintah federal, dengan bantuan tambahan dari Emil Michael, kepala petugas teknologi Pentagon. Organisasi nirlaba itu, menurut pernyataan tersebut, akan bertanggung jawab atas analisis dan rekomendasi serta menerapkan perlindungan konflik kepentingan dan informasi yang sesuai.
Kelompok tersebut telah mengadakan dua pertemuan di Pentagon. Salah satu pertemuan dihadiri Senator Tom Cotton dari Partai Republik dan Phil Hegseth, adik laki-laki Pete Hegseth, yang menjabat sebagai penasihat di departemen tersebut.
Perbandingan dengan Inisiatif Sebelumnya
Mendatangkan para ahli untuk peran penasihat bukan hal yang aneh dalam sejarah pertahanan AS. Para kepala pertahanan dari Partai Demokrat dan Republik di masa lalu telah menugaskan pejabat dan ahli berwawasan luas untuk mempercepat teknologi militer selama beberapa dekade.
Tradisi itu antara lain terlihat dari gugus tugas era Eisenhower yang bertujuan memikirkan kembali strategi militer AS terhadap Uni Soviet, hingga inisiatif pemerintahan Obama untuk menghubungkan Departemen Pertahanan dengan Silicon Valley secara lebih baik. Eric Schmidt memimpin upaya tersebut saat ia menjabat sebagai ketua eksekutif perusahaan induk Google, Alphabet.
Project Meridian akan berlangsung selama 120 hari dan menghasilkan laporan rekomendasi yang dapat diakses publik. Selain itu, Pentagon menyiapkan bagian laporan yang bersifat rahasia. Luckey mengatakan keterlibatan sektor teknologi diperlukan untuk memikirkan ancaman dalam jangka panjang.
“Amerika selalu berada pada kondisi terbaik ketika kita mempertemukan ilmuwan, insinyur, dan teknolog paling cerdas untuk menyelesaikan persoalan keamanan nasional yang paling sulit,” kata Luckey kepada Axios. Ia menambahkan, tim tersebut akan mengkaji perang saat ini sekaligus memikirkan konflik yang mungkin terjadi pada 2030, 2050, hingga 2100.
Dengan tenggat 120 hari, hasil kajian Project Meridian akan menjadi salah satu rujukan penting bagi arah belanja pertahanan dan pengembangan teknologi militer AS. Publik masih menantikan bagaimana Pentagon menyeimbangkan percepatan inovasi dengan tata kelola konflik kepentingan yang menjadi sorotan para pejabat internalnya sendiri.
