Cakrawala News – 24 Oktober 2026 | Emiten Haji Isam PACK rights issue Rp8,19 triliun, akuisisi dua perusahaan nikel menjadi manuver terbaru PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) dalam memperluas cengkeraman bisnis di sektor pertambangan mineral. Perseroan berencana menerbitkan maksimal 100 miliar saham baru melalui penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue, dengan perkiraan nilai sebanyak-banyaknya Rp8,19 triliun. Dana hasil aksi korporasi jumbo ini akan dipakai untuk melunasi pinjaman sekaligus membiayai akuisisi sejumlah perusahaan nikel.
Rencana tersebut disampaikan manajemen PACK dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, seperti dikutip Jumat (23/10/2026). Menurut manajemen, pelaksanaan PMHMETD baru dapat berjalan setelah perseroan memperoleh persetujuan RUPSLB, menyampaikan pernyataan pendaftaran beserta dokumen pendukung kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan pernyataan pendaftaran itu dinyatakan efektif oleh OJK.
Sejalan dengan ketentuan tersebut, rencana pelaksanaan PMHMETD akan dimintakan persetujuan para pemegang saham lebih dulu dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 30 November 2026. PT Eco Energi Perkasa, selaku pengendali PACK, akan melaksanakan hak memesan efek terlebih dahulu yang diterimanya dan menjadi pembeli siaga untuk menjamin pembelian saham yang tidak diambil pemegang saham lain, dengan nilai maksimum hingga Rp7,39 triliun.
Dana Rights Issue untuk Pelunasan Pinjaman dan Akuisisi
Manajemen PACK menjelaskan, dana hasil pelaksanaan PMHMETD akan digunakan untuk keperluan pelunasan pinjaman, pembelian saham Denway Development Limited (DDL), serta modal kerja perseroan dan/atau entitas anak perseroan. Alokasi itu menegaskan bahwa aksi korporasi ini tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian ekspansi bisnis tambang nikel.
Dalam rencana yang terungkap, PACK akan mengakuisisi 100 persen saham PT Bukit Makmur Istindo Nikeltama atau Bumanik senilai Rp1,39 triliun. Bumanik dibeli dari PT Merlot Grup Indonesia dan Pure Venture Capitol Ltd yang disebut berstatus tidak terafiliasi. Nilai transaksi tersebut disebut lebih rendah 2,7 persen dari asumsi nilai pasar menurut penilai independen yang mencapai Rp1,43 triliun.
Transaksi akuisisi Bumanik memiliki tenggat penyelesaian hingga 22 April 2027 dan masih dapat diperpanjang. Akuisisi ini juga membutuhkan persetujuan RUPSLB serta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait perubahan kepemilikan perusahaan tambang nikel.
Dari sisi kinerja, Bumanik mencatatkan kenaikan pendapatan 37,5 persen menjadi Rp1,08 triliun pada periode Januari-Agustus 2026. Namun laba bersihnya turun 22,9 persen menjadi Rp242,59 miliar. Ringkasan kinerja yang tersedia belum memerinci faktor penekan laba tersebut, meski terdapat potensi terkait biaya operasional hingga biaya keuangan.
Akuisisi Denway Development dan Konsolidasi Tambang Nikel
Selain Bumanik, PACK juga akan mengakuisisi Denway Development Ltd, perusahaan holding di Hong Kong, senilai Rp5,73 triliun. Pihak penjualnya adalah Hanking Mining Ltd yang terafiliasi dengan perseroan melalui Deng Weiming, pemilik CNGR Hong Kong.
Dari aksi akuisisi ini, PACK akan dapat mengonsolidasikan mayoritas kepemilikan di tambang PT Karyatama Konawe Utara dan PT Konutara Sejati. Saat ini PACK baru memiliki 34,5 persen dan 30 persen saham di kedua entitas tersebut, sedangkan sisanya dimiliki Denway Development Ltd masing-masing sebesar 40,5 persen.
Langkah ini mempertegas posisi PACK sebagai kendaraan investasi Haji Isam atau Samsudin Andi Arsyad di sektor mineral. Sebelumnya, pengusaha asal Kalimantan Selatan itu juga berencana mengakuisisi tambang nikel Bumanik di Morowali, Sulawesi Tengah, melalui entitas miliknya tersebut.
Manuver PACK itu tak jauh jaraknya dengan langkah Haji Isam memborong 10.084.088.370 saham atau 30,25 persen emiten batu bara milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), senilai kurang lebih Rp26,1 triliun. Haji Isam merupakan penerima manfaat akhir Jhonlin Group sekaligus pemegang 20,04 persen saham PACK.
Sejumlah emiten lain juga dikaitkan dengan Haji Isam, antara lain PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) yang bergerak di perkebunan kelapa sawit dan pengolahan biodiesel, PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) di bidang infrastruktur logistik pertambangan batu bara, serta PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN). Kepemilikan mayoritas JARR dikendalikan melalui PT Eshan Agro Sentosa sebesar 86,64 persen, sedangkan TEBE dikaitkan melalui PT Dua Samudera Perkasa dengan porsi 76,91 persen.
Dengan skala rights issue yang mencapai Rp8,19 triliun, pasar akan mencermati dampak dilusi bagi pemegang saham existing serta kemampuan perseroan menyerap pendanaan tersebut. Persetujuan dalam RUPSLB pada 30 November 2026 dan restu OJK menjadi dua syarat kunci yang menentukan apakah rangkaian akuisisi dua perusahaan nikel ini bisa berjalan sesuai jadwal.
