Cakrawala News – 22 Oktober 2026 | Perang Iran tekan ekonomi AS, dukungan untuk Trump anjlok ke 31 persen menjadi sorotan menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) pada 3 November 2026. Lonjakan harga bahan bakar, percepatan inflasi, dan melemahnya daya beli masyarakat kini membebani pemerintahan Presiden Donald Trump, yang tingkat persetujuan publiknya merosot ke titik terendah sepanjang masa kepresidenannya.
Survei Reuters/Ipsos yang dipublikasikan Senin (19/10/2026) menunjukkan hanya 31 persen responden menyetujui kinerja Trump, sementara 68 persen tidak menyetujui penanganan ekonomi olehnya. Survei melibatkan 1.679 responden dewasa dan dilakukan ketika masyarakat Amerika menghadapi harga bensin yang tetap tinggi, sementara perang Iran yang telah berlangsung hampir delapan bulan belum menunjukkan tanda-tanda penyelesaian.
Tekanan politik itu juga terlihat pada elektabilitas Partai Republik. Di antara pemilih terdaftar, 47 persen menyatakan akan memilih kandidat Partai Demokrat untuk Kongres, sedangkan 35 persen memilih Partai Republik. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Trump yang selama ini menjanjikan penurunan harga energi dan perbaikan ekonomi domestik.
Harga Bensin dan Solar Melonjak
Konflik di Timur Tengah memberikan konsekuensi ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat Amerika. Data American Automobile Association (AAA) menunjukkan harga rata-rata bensin reguler di Amerika Serikat mencapai 4,30 dolar AS per galon pada 19 Oktober 2026, meningkat dari 3,04 dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan lebih tajam terjadi pada harga solar yang mencapai 6,32 dolar AS per galon, dibandingkan 3,63 dolar AS setahun sebelumnya. Tingginya harga bahan bakar itu menambah beban biaya transportasi dan distribusi barang di berbagai wilayah Amerika.
Kepala Analisis Perminyakan GasBuddy, Patrick DeHaan, mengungkapkan sepanjang 2026 telah tercatat 158 hari dengan rata-rata harga bensin di atas 4 dolar AS per galon, menjadi jumlah terbanyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Lembaga riset Moody’s Analytics menaksir dampak perang Iran menambah beban pengeluaran rata-rata rumah tangga AS sebesar 2.000 dolar AS.
Inflasi Mendidih, The Fed Terancam Naikkan Suku Bunga
Tekanan terhadap masyarakat semakin besar karena kenaikan harga energi berlangsung bersamaan dengan percepatan inflasi. Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (BLS) mencatat inflasi tahunan mencapai 3,7 persen pada September 2026, meningkat dari 3,4 persen pada Agustus. Angka itu menjadi rilis data ekonomi terakhir sebelum pemilihan paruh waktu.
Harga energi naik 20,4 persen secara tahunan, sedangkan harga bensin melonjak 34,2 persen. Kenaikan harga minyak pemanas bahkan mencapai 74,2 persen. Secara bulanan, inflasi naik 0,6 persen dengan bensin melonjak 9,1 persen dan bahan bakar minyak meroket 15,3 persen.
Laporan BLS yang dirilis Rabu (14/10/2026) itu memperbesar peluang kenaikan suku bunga bank sentral bulan ini. The Fed kini menghadapi pilihan menahan atau menaikkan suku bunga, sementara pasar saham melemah merespons tekanan inflasi tersebut.
Selat Hormuz Jadi Titik Tekan Ekonomi Global
Salah satu sumber utama tekanan harga energi adalah gangguan pelayaran di Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan minyak dan gas yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Pemerintah AS berupaya mengendalikan harga energi dengan mengerahkan Angkatan Laut untuk mengawal kapal tanker keluar dari selat itu.
Layanan pelacak maritim Kpler melaporkan sedikitnya 18 kapal di sekitar Timur Tengah diserang dalam dua pekan terakhir. Dampaknya, transit minyak dan bahan bakar anjlok hingga 54 persen dari level sebelum perang.
“Tampaknya Iran berusaha menjaga harga minyak tetap tinggi menjelang pemilihan paruh waktu, dan cara terbaik untuk melakukannya adalah meningkatkan serangan, baik dari mereka sendiri maupun melalui Houthi,” kata Analis Kpler, Matt Smith.
Trump juga mengumumkan kesepakatan pelonggaran sebagian sanksi Rusia demi membuka keran impor solar. Langkah itu menjadi bagian dari upaya pemerintahannya menstabilkan pasokan energi domestik di tengah konflik.
Klaim Trump dan Dampak ke Militer AS
Di tengah tekanan ekonomi, Trump menyatakan perang dengan Iran akan segera berakhir dan memprediksi harga minyak dunia bakal anjlok drastis. “Perang Iran akan berakhir sangat segera. Segera, sebagaimana yang mereka inginkan,” ujar Trump kepada wartawan di Montana, Kamis (15/10/2026).
Trump mengklaim militer Iran telah lumpuh, dengan angkatan laut dan angkatan udara yang tidak lagi berfungsi serta pimpinan yang sudah tidak ada. Namun klaim tersebut belum disertai bukti independen dalam materi sumber.
Dampak perang tidak berhenti pada ekonomi. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth mengajukan kebutuhan pendanaan sekitar 50 miliar dolar AS untuk mempercepat produksi senjata otonom, bagian dari enam program reformasi pertahanan. Pentagon berencana memperbesar persediaan sistem persenjataan otonom dari ribuan menjadi jutaan unit dalam beberapa tahun mendatang.
Tekanan terhadap persenjataan juga terlihat dari keterlambatan pengiriman rudal pertahanan udara Patriot kepada Polandia. Panglima Operasional Angkatan Bersenjata Polandia, Jenderal Ireneusz Nowak, memperkirakan pengiriman rudal pencegat PAC-3 MSE akan tertunda karena persediaan senjata Amerika semakin terbebani perang Iran.
Dengan pemilihan sela tinggal hitungan hari, kombinasi harga energi yang tinggi, inflasi yang mendidih, dan merosotnya dukungan publik menjadi ujian berat bagi Trump dan Partai Republik. Perang Iran tekan ekonomi AS, dukungan untuk Trump anjlok ke 31 persen, dan sejauh mana pemerintahan mampu menstabilkan harga sebelum hari pemungutan suara akan menentukan arah politik Amerika dalam beberapa tahun ke depan.
