Cakrawala News – 14 Oktober 2026 | Kabar kembalinya Formula 1 ke Afrika disambut gembira oleh Lewis Hamilton, namun pembalap Ferrari itu berpotensi tidak kebagian kesempatan tampil di balapan bersejarah tersebut. Formula 1 pada Selasa (13/10/2026) mengonfirmasi bahwa Grand Prix Afrika akan digelar di sirkuit baru di Bugesera, Rwanda, dengan status kembali ke kalender balap “pada awal dekade 2030-an”.
Bagi Hamilton, pengumuman ini seperti membuka jalan bagi salah satu keinginan terbesarnya. Pembalap asal Inggris itu selama bertahun-tahun menyerukan agar F1 kembali berlomba di Afrika, satu-satunya benua besar yang belum memiliki balapan kejuaraan dunia sejak era 1990-an.
Namun, faktor usia menjadi ganjalan. Hamilton saat ini berusia 41 tahun dan akan berumur 45 tahun sebelum musim 2030 dimulai. Belum ada tahun spesifik yang disebutkan untuk balapan perdana di Rwanda, sehingga peluangnya untuk ikut serta dalam balapan pertama di Afrika masih harus diuji oleh waktu.
Perjuangan Panjang Hamilton
Hamilton bukan nama baru dalam kampanye menghadirkan balapan F1 di Afrika. Ia berulang kali menyatakan bahwa Afrika adalah benua yang paling penting dan paling indah, serta tidak ada alasan bagi F1 untuk absen di sana.
Dalam pernyataannya sebelum pengumuman resmi, ia mengaku telah mendorong upaya tersebut di balik layar. Ia juga menyebut CEO F1, Stefano Domenicali, telah berulang kali terbang ke Afrika dalam beberapa tahun terakhir untuk berbicara dengan berbagai pihak.
“Saya selalu mengatakan bahwa kita perlu menggelar Grand Prix di Afrika. Bagi saya itu benua paling penting dan paling indah. Kita ada di semua benua lain tetapi tidak di sana, dan seharusnya tidak ada alasan untuk itu,” kata Hamilton, seperti dikutip dari pemberitaan yang beredar.
Ia menegaskan bahwa keinginan berlomba di sirkuit Afrika menjadi salah satu alasan dirinya masih bertahan di F1. Pembalap berusia 41 tahun itu menyatakan akan tetap berada di kategori tersebut sampai mendapat kesempatan tersebut.
Dukungan dari Para Pembalap
Seruan Hamilton tidak berdiri sendiri. Sejumlah pembalap lain menyambut positif keputusan F1 kembali ke Afrika. Juara dunia empat kali, Max Verstappen dari Red Bull, menyebut semua pihak antusias dan menegaskan keinginan berlomba di berbagai belahan dunia.
Rekan setim Verstappen di Red Bull, George Russell yang kini membela Mercedes, menilai sudah saatnya ada balapan di Afrika. Russell juga dikenal sebagai direktur Grand Prix Drivers’ Association, semacam serikat pembalap F1.
“Sudah waktunya kita memiliki balapan di sana,” ujar Russell, seperti dikutip dari laporan media.
Verstappen menambahkan bahwa kehadiran balapan di Afrika akan menjadi hal yang luar biasa dan ia berharap rencana itu bisa terwujud. Dukungan ini memperkuat posisi Rwanda sebagai tuan rumah baru di kalender F1.
Pekerjaan Rumah Rwanda
Meski pengumuman sudah dilakukan, sejumlah tantangan masih menanti. Sirkuit di Bugesera beserta infrastruktur pendukungnya belum dibangun. Selain itu, banyak venue lain telah memiliki kontrak jangka panjang, sehingga celah di kalender F1 tahunan sangat terbatas dalam beberapa tahun ke depan.
F1 juga menyatakan bahwa balapan di Rwanda akan berlangsung setidaknya selama 10 tahun sejak pertama kali digelar. Artinya, kepastian jadwal perdana masih bergantung pada penyelesaian pembangunan dan kesiapan logistik.
Bagi Hamilton, situasi ini menciptakan dilema. Di satu sisi, ia berhasil memperjuangkan salah satu agenda terbesarnya. Di sisi lain, usia dan tenggat waktu bisa membuatnya hanya menyaksikan dari luar lintasan.
Konteks Performa Hamilton
Di sisi lain, performa Hamilton bersama Ferrari tengah menjadi sorotan. Pada Grand Prix Singapura, ia finis di posisi keenam setelah menjalani strategi satu kali pit stop yang berisiko. Ia sempat berada di posisi kedua sebelum akhirnya melorot akibat ban yang menua.
Hamilton mengakui kesalahan strategi tersebut dan menyatakan bertanggung jawab penuh. Ia menyebut hasil tersebut tidak mencerminkan kecepatan mobil Ferrari, meski ada sejumlah hal positif yang bisa diambil dari balapan itu.
Rekan setimnya, Charles Leclerc, finis kedua di Singapura. Namun Leclerc tidak ingin terbawa euforia soal peluang Ferrari tampil rutin di podium. Ia memilih sikap hati-hati dalam menilai performa timnya.
Sementara itu, Fernando Alonso dari Aston Martin sempat menyinggung Hamilton saat membela sirkuit Singapura. Alonso berpendapat bahwa di sirkuit jalan raya, kualifikasi menentukan 90 persen hasil balapan, dan hal itu sudah terjadi sejak era Ayrton Senna, Alain Prost, hingga Michael Schumacher.
Yang Perlu Dicermati
Kepastian tahun penyelenggaraan Grand Prix Afrika masih menjadi pertanyaan besar. Jika balapan baru digelar pada awal 2030-an, peluang Hamilton untuk tampil di lintasan Afrika sangat bergantung pada keputusannya melanjutkan karier di F1.
Yang jelas, pengumuman ini menandai langkah bersejarah bagi F1 dan Rwanda. Bagi Hamilton, perjuangan panjangnya membuahkan hasil, meski apakah ia bisa ikut mencicipi sirkuit Bugesera masih harus menunggu waktu.




