Cakrawala News – 24 September 2026 | Gempa Gunung Kidul Yogyakarta, Rabu 23 September 2026, kedalaman 10 km di laut selatan, menjadi salah satu dari rangkaian aktivitas seismik yang tercatat di wilayah selatan Jawa dalam sebulan terakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sejumlah gempa bumi dengan magnitudo besar mengguncang berbagai wilayah Indonesia pada periode 24 Agustus hingga 22 September 2026, termasuk kawasan selatan Jawa dan Nusa Tenggara yang berkaitan dengan aktivitas subduksi serta Flores Back-Arc Thrust.
Berdasarkan data BMKG, gempa dengan magnitudo terbesar dalam periode tersebut mencapai M6,5. Gempa itu terjadi di timur Kepulauan Seribu dengan kedalaman 368 kilometer dan getarannya terasa hingga Jawa serta Sumatra. Selain itu, Laut Banda dan Maluku Utara mengalami gempa hingga M6,2 yang terkait penyesaran dasar laut, subduksi Laut Banda, serta deformasi dalam Lempeng Laut Maluku.
Informasi mengenai Gempa Gunung Kidul Yogyakarta, Rabu 23 September 2026, kedalaman 10 km di laut selatan ini melengkapi catatan BMKG tentang pola kegempaan di selatan Jawa. Wilayah selatan Jawa memang dikenal sebagai zona subduksi aktif, tempat Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia. Kondisi itu membuat kawasan pesisir selatan Yogyakarta, termasuk Gunung Kidul, kerap menjadi lokasi gempa dengan kedalaman dangkal.
Rangkaian Gempa Sebulan Terakhir
BMKG merangkum sejumlah peristiwa gempa signifikan yang terjadi sejak 24 Agustus hingga 22 September 2026. Pada 24 Agustus 2026, gempa M6,2 mengguncang Laut Banda pada pukul 21.10 WIB. Titik gempa berada di laut, dengan kedalaman 39 kilometer dan berjarak 166 kilometer barat laut Maluku Barat Daya. BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa dangkal akibat penyesaran dasar Laut Banda dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault, dan tidak berpotensi tsunami.
Selanjutnya, pada 11 September, gempa M6,2 kembali terjadi di Laut Banda. Pusat gempa berada sekitar 162 kilometer timur laut Maluku Barat Daya dengan kedalaman 148 kilometer. BMKG mengklasifikasikannya sebagai gempa menengah akibat aktivitas subduksi Laut Banda. Sementara pada 14 September, gempa M5,9 terjadi di wilayah timur laut Pulau Doi, Maluku Utara, dengan kedalaman 147 kilometer. BMKG menyebut gempa tersebut merupakan gempa menengah akibat deformasi dalam Lempeng Laut Maluku.
Di wilayah Nusa Tenggara, BMKG juga masih mencatat gempa susulan terkait peristiwa gempa M7,7 Flores. Hingga 27 Agustus, tercatat 8.486 kejadian gempa susulan. Selain itu, gempa di selatan Jawa dan NTT turut dikaitkan dengan aktivitas subduksi serta Flores Back-Arc Thrust.
Karakter Gempa Dangkal di Selatan Jawa
Gempa Gunung Kidul Yogyakarta, Rabu 23 September 2026, kedalaman 10 km di laut selatan, mencerminkan karakter gempa dangkal yang berpusat di laut. Gempa dangkal umumnya memiliki kedalaman kurang dari 60 kilometer dan getarannya bisa terasa cukup kuat di permukaan, bergantung pada magnitudo serta jarak pusat gempa ke permukiman.
Meski demikian, tidak semua gempa dangkal berpotensi menimbulkan tsunami. Potensi tsunami ditentukan oleh sejumlah faktor, antara lain magnitudo, kedalaman, mekanisme pergerakan sesar, dan perubahan dasar laut. BMKG biasanya menyampaikan informasi resmi mengenai potensi tsunami setelah menganalisis parameter gempa.
Wilayah selatan Jawa, termasuk pesisir Gunung Kidul, Bantul, dan Pacitan, berada dekat dengan zona pertemuan lempeng. Karena itu, warga di kawasan pesisir diimbau memahami langkah mitigasi, seperti mengenali jalur evakuasi dan tidak berada di dekat pantai jika merasakan guncangan kuat yang berlangsung lama.
Pentingnya Informasi Resmi
Dalam situasi pascagempa, informasi resmi dari BMKG menjadi acuan utama. Masyarakat diharapkan tidak langsung mempercayai pesan berantai yang belum terverifikasi, terutama yang menyebutkan prediksi gempa atau tsunami tanpa dasar ilmiah. Hingga saat ini, gempa bumi belum dapat diprediksi secara tepat kapan, di mana, dan berapa kekuatannya.
BMKG secara rutin memperbarui data gempa melalui kanal resminya, termasuk informasi mengenai magnitudo, kedalaman, lokasi, dan tingkat guncangan yang dirasakan. Pembaruan itu penting karena parameter gempa dapat direvisi setelah analisis lanjutan.
Selain gempa, sumber informasi yang diberikan juga mencatat aktivitas vulkanik pada 23 September 2026. Gunung Ibu di Maluku Utara kembali erupsi pada pukul 09.01 WIT dengan tinggi kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak atau 1.725 meter di atas permukaan laut. Dalam sepekan terakhir, Gunung Ibu sudah erupsi 16 kali, dan tingkat aktivitasnya berada di Level II (Waspada).
Pada hari yang sama, Gunung Semeru di Jawa Timur juga erupsi pada pukul 04.47 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak atau 4.176 meter di atas permukaan laut. Tingkat aktivitas Gunung Semeru berada di Level III (Siaga). Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menghimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius tertentu di sekitar kedua gunung tersebut.
Kewaspadaan Tetap Diperlukan
Rangkaian peristiwa gempa dan erupsi ini menunjukkan bahwa Indonesia berada di wilayah yang aktif secara geologis. Gempa Gunung Kidul Yogyakarta, Rabu 23 September 2026, kedalaman 10 km di laut selatan, menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana perlu terus dijaga, terutama di daerah pesisir selatan Jawa.
Warga diimbau mengikuti informasi resmi dari BMKG dan PVMBG, mengenali risiko di lingkungan masing-masing, serta memastikan jalur evakuasi dapat diakses. Dengan begitu, dampak yang ditimbulkan dari setiap peristiwa gempa maupun erupsi dapat diminimalkan.
