Cakrawala News – 18 Oktober 2026 | Gempa Bogor magnitudo 4,1 rusak 349 rumah dan 5 fasilitas ibadah di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, setelah dua guncangan tektonik dangkal berpusat di kawasan Gunung Salak pada Kamis sore, 15 Oktober 2026. Kerusakan terbesar tercatat di Kabupaten Bogor dengan 253 rumah terdampak, sementara 96 rumah mengalami rusak ringan di Kecamatan Kabandungan, Sukabumi. Meski magnitudonya terbilang kecil, dampak guncangan terbukti signifikan karena pusat gempa berada sangat dekat dengan permukiman warga.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan wilayah Sukabumi dan Bogor diguncang dua gempa dalam selang waktu kurang dari 10 menit. Gempa pertama berkekuatan M3,5 terjadi pukul 17.49.43 WIB pada kedalaman 9 kilometer, berpusat sekitar 3 kilometer barat laut Kabandungan. Gempa kedua berkekuatan M4,1 terjadi pukul 17.58.22 WIB pada kedalaman 5 kilometer, berpusat sekitar 4 kilometer barat laut Kabandungan.
Guncangan kedua gempa dirasakan cukup kuat di Kabandungan, Sukabumi, dan Pamijahan, Bogor, dengan intensitas IV MMI. Pada tingkat ini, guncangan dirasakan banyak orang di dalam rumah, pintu dan jendela berderik, serta benda-benda bergoyang. Intensitas III MMI dilaporkan di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak, sedangkan intensitas II MMI terasa di Palabuhanratu, Pabuaran, dan Cicantayan.
Diduga Dipicu Aktivitas Sesar Aktif
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menjelaskan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, kedua gempa tergolong dangkal yang diduga dipicu aktivitas sesar aktif. BMKG mencatat 11 gempa susulan dengan magnitudo berkisar 1,6 hingga 2,6, dan dua di antaranya dirasakan masyarakat. Sebelumnya, hingga Jumat, 16 Oktober 2026 pukul 01.00 WIB, BMKG mencatat lima gempa susulan dengan magnitudo M1,6 hingga M2,4.
BMKG melakukan survei lapangan sejak 16 Oktober 2026 untuk memverifikasi laporan kerusakan dan memeriksa kondisi bangunan di wilayah terdampak. Survei itu bertujuan memperoleh gambaran aktual mengenai dampak guncangan terhadap bangunan dan masyarakat. BMKG juga terus memantau aktivitas kegempaan di Bogor dan sekitarnya untuk memperoleh informasi terbaru.
Rincian Kerusakan di Kabupaten Bogor
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bogor, Andi Sumardi, menyatakan jumlah rumah rusak bertambah dari pendataan awal 17 unit menjadi 253 unit. Kerusakan tersebar di tiga desa pada dua kecamatan, yakni Pamijahan dan Leuwiliang. Rinciannya, 222 rumah rusak ringan, 25 rumah rusak sedang, dan enam rumah rusak berat.
Kerusakan terbanyak terjadi di Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan, dengan 106 rumah, terdiri atas 97 rusak ringan, enam rusak sedang, dan tiga rusak berat. Desa Cibunian di Kecamatan Pamijahan mencatat 76 rumah rusak, meliputi 70 rusak ringan dan enam rusak sedang. Sementara Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, mencatat 71 rumah rusak, terdiri atas 55 rusak ringan, 13 rusak sedang, dan tiga rusak berat.
Selain rumah warga, BPBD mencatat lima sarana ibadah mengalami kerusakan ringan, masing-masing tiga unit di Desa Purwabakti dan dua unit di Desa Cibunian. Gempa juga mengakibatkan satu warga mengalami luka ringan di Kampung Cikupa RT 02/RW 17, Kecamatan Pamijahan. Korban merupakan seorang perempuan yang telah mendapatkan penanganan medis di klinik kesehatan setempat.
BPBD Kabupaten Bogor sebelumnya mengerahkan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) untuk melakukan kaji cepat, mendata kerusakan bangunan, serta berkoordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa dalam penanganan warga terdampak. Data yang dihimpun masih bersifat sementara karena pendataan dan rekapitulasi terus dilakukan.
Dampak di Sukabumi dan Peringatan Ahli
Di Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, tercatat 96 rumah mengalami kerusakan ringan, termasuk di Desa Tugubandung dan Desa Kabandungan. Sebanyak 11 kampung di Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan, dan Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, turut terdampak guncangan. Enam warga Kampung Muaradua dilaporkan mengungsi akibat kerusakan rumah mereka.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) sekaligus pakar seismologi, Dr. Daryono, menilai peristiwa ini menunjukkan besarnya magnitudo gempa tidak selalu berbanding lurus dengan tingkat kerusakan. Ia menyebut gempa kecil dan dangkal yang terjadi dekat permukiman dapat merusak ratusan rumah serta memaksa warga meninggalkan tempat tinggalnya.
“Gempa tidak harus bermagnitudo besar untuk menimbulkan kerusakan,” ujar Daryono dalam keterangannya, Sabtu (17/10/2026).
Kasus Gempa Bogor magnitudo 4,1 rusak 349 rumah dan 5 fasilitas ibadah ini menjadi pengingat bahwa kedalaman dangkal dan jarak episenter yang dekat dengan permukiman berperan besar terhadap tingkat kerusakan. Karakter bangunan yang tidak tahan guncangan turut memperbesar risiko, terutama di kawasan perdesaan sekitar Gunung Salak.
Bagi warga di wilayah terdampak, pendataan kerusakan masih akan berlanjut untuk memastikan bantuan dan penanganan tepat sasaran. Pemantauan aktivitas gempa susulan oleh BMKG serta koordinasi antara BPBD, pemerintah kecamatan, dan desa menjadi kunci dalam memitigasi risiko lanjutan. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi guncangan susulan dan memperhatikan kondisi struktur bangunan tempat tinggal masing-masing.
