Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Seniman Besar Indonesia Berpulang di Usia 73 Tahun

Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Seniman Besar Indonesia Berpulang di Usia 73 Tahun
Guruh Soekarnoputra Meninggal Dunia, Seniman Besar Indonesia Berpulang di Usia 73 Tahun

Cakrawala News – 28 September 2026 | Kabar duka menyelimuti dunia seni dan budaya Indonesia. Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama RI Soekarno dan Fatmawati, meninggal dunia pada Sabtu, 26 September 2026 dalam usia 73 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta Pusat, tepat di samping pusara sang ibunda, Fatmawati. Kepergian Guruh meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan insan seni Tanah Air.

Prosesi pemakaman berlangsung khidmat. Rano Karno hadir memberikan sambutan mewakili keluarga besar Bung Karno. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih atas kehadiran, doa, dan penghormatan yang diberikan kepada almarhum. Rano juga memohonkan maaf atas nama keluarga atas segala kekhilafan yang mungkin pernah dilakukan Guruh semasa hidupnya.

“Hari ini Indonesia kehilangan seorang seniman besar. Indonesia kehilangan seorang maestro budaya. Keluarga besar PDI Perjuangan kehilangan seorang pejuang partai, dan kaum marhaenis kehilangan salah seorang yang sepanjang hidupnya tetap membawa keyakinan tentang keberpihakan kepada rakyat,” ujar Rano Karno saat memberikan sambutan di TPU Karet Bivak.

Perjalanan Musik dan Seni Sejak Muda

Jauh sebelum namanya dikenal sebagai tokoh seni dan budaya, Guruh Soekarnoputra telah menemukan musik sebagai ruang untuk berbicara. Lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 dengan nama Mohammad Guruh Irianto Sukarnoputra, ia tumbuh di lingkungan yang dekat dengan kesenian. Sejak usia muda, musik dan tari telah menjadi bagian dari kesehariannya.

Guruh mulai menciptakan lagu ketika berusia sekitar 15 tahun. Salah satu karya awalnya adalah “Sepasang Merpati”. Ketertarikannya terhadap musik tidak berhenti pada aktivitas menciptakan lagu. Ia melihat musik sebagai sesuatu yang dapat bergerak bersama bentuk kesenian lainnya.

Dari sana, Guruh mengembangkan gagasan tentang pertunjukan yang mempertemukan musik, tari, gerak, busana, dan unsur-unsur tradisi. Baginya, musik bukan sekadar bunyi yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari sebuah pertunjukan yang lebih luas. Cara pandang inilah yang kemudian membedakannya dari banyak seniman pada masanya.

Pada masa mudanya, Guruh juga bersentuhan dengan skena musik Jakarta. Ia mengenal sejumlah musisi yang kelak menjadi nama penting dalam sejarah musik Indonesia, termasuk Chrisye dan Keenan Nasution. Pertemanan tersebut kemudian menemukan bentuk yang lebih serius ketika Guruh mulai mengembangkan gagasan musikalnya sendiri.

Kiprah di Dunia Politik dan Budaya

Guruh merupakan anak kelima sekaligus putra bungsu dari pasangan Soekarno dan Fatmawati. Ia bersaudara dengan Guntur, Megawati, Rachmawati, dan Sukmawati Soekarnoputri. Megawati merupakan anak kedua, sementara Guruh adalah adik bungsu dalam keluarga tersebut.

Meski merupakan putra Presiden pertama RI, Guruh tidak bergantung pada nama besar orang tuanya. Ia memilih membangun jalan hidupnya sendiri sebagai koreografer, pencipta lagu, sekaligus perancang. Keduanya, Megawati dan Guruh, juga pernah berada di PDI Perjuangan serta mendirikan Yayasan Bung Karno pada 1976. Megawati lebih banyak berkiprah di dunia politik, sedangkan Guruh menekuni seni dan budaya.

Hubungan kakak-adik ini tetap menjadi bagian penting dari kehidupan keduanya hingga dewasa. Megawati hadir dalam prosesi pemakaman sang adik di TPU Karet Bivak dan turut menaburkan bunga di makamnya bersama keluarga.

Kenangan dari Sahabat dan Kolega

Desainer Anne Avantie mengenang Guruh sebagai sosok panutan yang selalu menyertai kariernya. Saat mendengar Guruh sakit bulan lalu, Anne yang kini lebih fokus berkiprah di bisnis kuliner sempat mengirim gudeg buatannya.

“Ternyata beliau makan gudegnya sampai habis. Padahal sebelumnya, nggak mau makan sama sekali,” ungkap Anne kepada Wolipop, tak lama setelah Guruh dikabarkan meninggal. Anne yang tinggal di Semarang, Jawa Tengah, kemudian mendapat kiriman video yang memperlihatkan putra presiden pertama RI itu menyantap gudeg tersebut.

Selain gudeg, kiriman dari Anne juga termasuk sambal petai, sambal krecek, dan kue sisir. Pertemuan pertama Anne dengan Guruh terjadi puluhan tahun lalu. Saat duduk di bangku SMP, ia terlibat dalam Sanggar Tari Soerya Soemirat yang dipimpin Guruh untuk membantu menyiapkan kostum penarinya.

“Jadi banyak orang nggak tahu, dan memang jarang saya ungkapkan. Sebetulnya cikal bakal saya jadi desainer itu berawal dari panggung tari,” kata perancang yang dikenal berkat kebaya modifikasi rancangannya. Hampir di setiap peragaan Anne, lagu-lagu ciptaan Guruh Soekarnoputra seperti “Melati Suci” dan “Zamrud Khatulistiwa” setia mengalun mendampingi langkah para model di catwalk.

Duka dari Dunia Seni

Kepergian Guruh juga menyisakan duka mendalam bagi sahabat dan insan seni Tanah Air. Penyanyi Vina Panduwinata akhirnya buka suara soal sakit yang diderita almarhum selama berbulan-bulan. Menurut keterangan Vina, kondisi kesehatan Guruh ditutup rapat dari publik sebelum akhirnya ia berpulang.

Kepergian Guruh Soekarnoputra pada 26 September 2026 kembali mengingatkan publik pada keluarga besar Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Bung Karno tidak hanya meninggalkan warisan sejarah dan politik bagi Indonesia, tetapi juga keluarga besar yang tersebar dalam beberapa generasi.

Rano Karno menegaskan bahwa kepergian Guruh bukan sekadar kehilangan sosok biasa. Ia menyebut ini sebagai kehilangan besar bagi banyak kalangan, mulai dari dunia seni, keluarga besar partai, hingga kaum marhaenis yang selama ini dekat dengan pemikiran Guruh.

Dengan kepergian Guruh, Indonesia kehilangan salah satu tokoh yang konsisten mengabdikan hidupnya untuk seni dan budaya. Warisan karyanya, mulai dari lagu-lagu ciptaan hingga gagasan pertunjukan yang memadukan berbagai bentuk kesenian, akan terus dikenang sebagai bagian penting dari sejarah kebudayaan Indonesia.

Exit mobile version