Cakrawala News – 07 Oktober 2026 | Harga diesel AS tembus US$6,50 per galon, Trump turun tangan! Lonjakan ini menjadi perhatian karena diesel digunakan secara luas untuk kendaraan angkutan, mesin pertanian, konstruksi, hingga berbagai aktivitas industri. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya operasional dan memberi tekanan tambahan terhadap harga barang di Amerika Serikat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengambil langkah dengan memperluas akses terhadap dyed diesel, yakni solar berpewarna merah yang selama ini digunakan terutama untuk kendaraan dan peralatan yang tidak beroperasi di jalan raya. Pemerintah juga berencana menunda pungutan pajak cukai federal untuk penggunaan bahan bakar tersebut di jalan raya hingga akhir 2026.
Kenaikan harga diesel AS tidak terjadi begitu saja. Gangguan pasokan energi akibat konflik dan serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak menjadi salah satu pemicu utama. Perang AS dengan Iran serta invasi Rusia ke Ukraina memengaruhi aktivitas kilang dan distribusi bahan bakar di sejumlah wilayah. Ketika pasokan terganggu sementara kebutuhan tetap tinggi, harga diesel bergerak lebih mahal.
Pada Jumat, 2 Oktober 2026, harga rata-rata diesel AS tercatat berada di US$6,37 per galon. Angka itu mencetak rekor tertinggi pada September dan masih bertahan di level tinggi. Sejumlah laporan menyebut harga diesel bahkan menembus sekitar US$6,50 per galon.
Dampak ke Transportasi hingga Pertanian
Diesel memiliki peran besar dalam aktivitas ekonomi. Truk menggunakan diesel untuk mengangkut berbagai barang, sedangkan sektor pertanian mengandalkannya untuk menjalankan sejumlah mesin produksi. Biaya bahan bakar yang lebih tinggi akhirnya dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan dan pelaku usaha.
Kenaikan harga diesel dapat merambat ke berbagai sektor melalui biaya transportasi dan distribusi. Perusahaan logistik yang harus membayar lebih mahal untuk bahan bakar berpotensi memasukkan kenaikan tersebut ke dalam biaya pengiriman. Kondisi ini dapat membuat harga barang yang sampai ke konsumen ikut meningkat.
Sektor pertanian juga menghadapi tekanan karena mesin seperti traktor dan peralatan panen banyak menggunakan bahan bakar diesel. Petani yang mengeluarkan biaya lebih besar untuk mengolah lahan atau memanen hasil produksi dapat menghadapi kenaikan biaya produksi. Jika tekanan tersebut berlangsung lama, dampaknya berpotensi ikut terasa pada harga berbagai produk pangan.
Di dalam negeri AS, kenaikan harga bahan bakar berubah menjadi persoalan politik menjelang pemilihan paruh waktu bulan depan karena menambah beban bagi petani, sopir truk, dan pelaku usaha. Sekretaris Departemen Keuangan AS Scott Bessent meminta mitra Eropa segera menjalankan komitmen mereka dan meningkatkan pasokan agar tekanan ekonomi tak semakin dirasakan pelaku usaha domestik.
Langkah Trump dan Respons G7
Untuk meredakan tekanan tersebut, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memperluas akses masyarakat terhadap dyed diesel. Bahan bakar ini biasanya digunakan untuk kendaraan dan peralatan yang tidak beroperasi di jalan raya sehingga mendapatkan perlakuan pajak berbeda. Melalui kebijakan baru tersebut, pemerintah AS menghapus sementara pembatasan penggunaan tertentu sehingga lebih banyak pihak dapat membeli bahan bakar tersebut.
Departemen Keuangan AS juga akan menunda penerapan pajak cukai federal untuk penggunaan dyed diesel di jalan raya hingga akhir 2026. Pemerintah kemudian akan mengkaji kemungkinan menghapus kewajiban tersebut secara permanen. Kebijakan ini diharapkan dapat memberikan pilihan bahan bakar yang lebih murah ketika harga diesel reguler sedang tinggi.
Selain mengubah aturan penggunaan bahan bakar, Amerika Serikat juga mendorong penambahan pasokan diesel dari pasar global. Negara-negara G7 sebelumnya mengumumkan rencana pelepasan sekitar 100 juta barel diesel setelah mendapat dorongan dari pemerintahan Trump. Para pemimpin G7 mengatakan pelepasan cadangan akan dimulai segera dan berlangsung selama empat bulan. Sebagian besar pasokan akan dikeluarkan pada tahap awal, dengan pelepasan diesel dalam jumlah besar selama 20 hari pertama yang dikoordinasikan melalui Badan Energi Internasional (IEA).
G7 terdiri dari Prancis, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Inggris, dan AS. Prancis saat ini memegang posisi presidensi kelompok tersebut. Uni Eropa juga turut berpartisipasi dalam pertemuan G7. Sesaat sebelum pengumuman G7, Trump mengatakan negara-negara Eropa telah menyetujui pelepasan cadangan diesel dalam jumlah besar.
Krisis pasokan bahan bakar global terjadi di tengah serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta gangguan pasokan energi di Timur Tengah akibat perang Iran. Pemerintahan Trump sebelumnya menekan negara-negara Eropa agar menggunakan cadangan diesel sebagai alternatif sebelum AS mengambil langkah yang lebih ekstrem berupa pelarangan ekspor.
Ketegangan AS-Uni Eropa
Perselisihan pasokan diesel dunia sempat memanas setelah Amerika Serikat mengancam menghentikan ekspor bahan bakar tersebut jika Eropa tak melepas stok daruratnya. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, ancaman itu muncul ketika harga bahan bakar global melonjak akibat perang di Iran. Uni Eropa menolak tekanan dari Washington.
Juru bicara Komisi Eropa Anna-Kaisa Itkonen menyebut langkah sepihak AS justru berpotensi merugikan kedua pihak. Menurutnya, larangan diesel tidak akan menguntungkan siapa pun dan dapat merusak kepercayaan terhadap AS sebagai mitra yang dapat diandalkan.
Tekanan terhadap pasokan semakin rumit karena harga global turut terdorong penutupan Selat Hormuz, larangan ekspor dari Rusia, serta serangan terhadap sejumlah kilang di negara tersebut. AS memiliki peran penting di pasar dunia dengan ekspor sekitar 1,2-1,5 juta barel per hari, sementara Prancis, Belanda, dan Inggris masih bergantung dalam jumlah signifikan pada pasokan diesel dari negara tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga membuka opsi membatasi ekspor untuk memperbesar pasokan di pasar domestik sekaligus menekan Eropa. Menurutnya, Eropa memiliki sejumlah cadangan diesel yang bisa dilepas.
Kesepakatan untuk menstabilkan pasar minyak sebenarnya sudah dibuat beberapa bulan sebelumnya. Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol menyampaikan bahwa 32 negara anggota IEA telah menyepakati pelepasan cadangan darurat terbesar dalam sejarah, yakni 400 juta barel pada Maret. Namun, sekitar sepertiga dari komitmen itu belum masuk pasar, sedangkan 80 persen stok darurat anggota masih tersedia.
Dengan harga diesel AS tembus US$6,50 per galon, Trump turun tangan melalui pelonggaran aturan dyed diesel dan penundaan cukai federal. Langkah itu diharapkan dapat membantu menekan beban konsumen dalam jangka pendek. Namun, tambahan pasokan belum tentu langsung membuat harga diesel kembali ke level sebelumnya karena pasar tetap dipengaruhi kondisi kilang, konflik geopolitik, permintaan energi, serta kemampuan negara-negara produsen menjaga pasokan.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada realisasi pelepasan 100 juta barel cadangan diesel G7 dan efektivitas kebijakan pajak AS. Bagi pelaku usaha di Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa harga energi global dapat merambat ke biaya logistik dan harga barang domestik, terutama jika ketegangan geopolitik berlanjut.












