Cakrawala News – 08 November 2026 | Industri makanan & minuman di Indonesia menghadapi tekanan biaya produksi menjelang akhir 2026. Pelemahan nilai tukar rupiah serta kenaikan ongkos pengiriman internasional menjadi dua persoalan utama yang membuat harga produk berpotensi naik pada awal tahun depan. Kekhawatiran ini disampaikan Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S. Lukman dalam Media Gathering Forum Wartawan Industri (Forwin) di Sentul, Jumat (6/11/26).
Menurut Adhi, ketidakpastian pergerakan rupiah menjadi persoalan tersendiri bagi pelaku usaha. Ia menyebut industri masih sangat bergantung pada bahan baku impor, sehingga stabilitas kurs menjadi kunci. GAPMMI pun berharap pemerintah bersama Bank Indonesia dapat menjaga stabilitas nilai tukar.
“Ya memang rupiah ini mengkhawatirkan, karena kita tidak tahu sampai seberapa. Ini yang paling penting, karena bagi industri kepastian ini menjadi penting,” kata Adhi.
Ia mengakui bahwa meski keinginan untuk mengurangi impor sudah ada, sebagian bahan baku tetap tidak bisa dipenuhi dari dalam negeri. Kondisi ini membuat industri makanan & minuman rentan terhadap gejolak eksternal.
Ongkos Kirim Internasional Melonjak
Tekanan biaya tidak hanya datang dari nilai tukar. Adhi menyebut jalur distribusi internasional juga mengalami kenaikan ongkos yang signifikan, bahkan untuk rute perdagangan yang selama ini tergolong murah.
Ia mencontohkan, pengiriman ke Australia yang biasanya hanya sekitar US$1.000 per kontainer kini menjadi US$3.000. Sementara rute ke China yang biasanya US$200-300 per kontainer kini mencapai US$700-800. Untuk tujuan yang lebih jauh, seperti Timur Tengah, kenaikan ongkos dinilai lebih berat lagi.
Kenaikan tersebut memaksa perusahaan menyesuaikan strategi pengadaan barang. Sejumlah alternatif mulai dipertimbangkan, mulai dari mencari jalur pengiriman lain hingga mengalihkan sumber pembelian bahan baku dari negara yang pasokannya masih memungkinkan.
“Ya, tentunya kita mencari alternatif. Alternatif termasuk misalnya ke Timur Tengah itu alternatif logistik. Kemudian alternatif bahan baku yang dari beberapa negara yang terhambat,” jelas Adhi.
Ia menilai solusi paling ideal adalah bila kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi dari dalam negeri. Namun menurutnya, upaya itu memerlukan strategi jangka panjang.
Perusahaan Besar Masih Bertahan, IKM Paling Terdampak
Bagi perusahaan menengah dan besar, tekanan biaya masih bisa diredam untuk sementara waktu. Sebagian pelaku usaha masih memiliki kontrak pembelian lama serta persediaan bahan baku dan produk jadi yang dapat digunakan untuk menjaga kelangsungan produksi.
Meski demikian, Adhi memperkirakan kenaikan harga tetap akan terjadi pada awal tahun. Ia menyebut rata-rata kenaikan di industri makanan & minuman sekitar 5-6 persen. Angka itu dinilai sudah cukup tinggi mengingat konsumen sangat sensitif terhadap harga.
Situasi lebih berat justru dihadapi industri kecil dan menengah (IKM). Berbeda dengan perusahaan besar, pelaku usaha skala kecil umumnya tidak memiliki ruang penyimpanan maupun modal kerja yang cukup untuk mengamankan persediaan bahan baku dalam jangka panjang.
Keterbatasan itu membuat IKM lebih rentan terhadap fluktuasi harga bahan baku dan ongkos logistik. Jika tekanan berlanjut, daya tahan mereka terhadap gejolak pasar pun semakin tipis.
Di sisi lain, kekayaan kuliner Indonesia tetap menjadi modal tersendiri. Sejumlah makanan khas seperti rawon, bakso, sate, dan soto telah dikenal hingga mancanegara. Rawon bahkan disebut menempati peringkat pertama dalam daftar ’10 Best Rated Soups in the World 2023′ versi Taste Atlas, seperti dikutip dari situs Kemenparekraf. Warung bakso khas Indonesia juga dapat ditemukan di sejumlah negara, dari Amerika hingga Jepang.
Namun, potensi itu perlu didukung iklim usaha yang stabil. Bagi industri makanan & minuman, kepastian nilai tukar, biaya logistik yang wajar, serta pasokan bahan baku dalam negeri menjadi faktor penting agar produk tetap kompetitif.
Ke depan, pelaku usaha akan mencermati perkembangan kurs dan ongkos pengiriman internasional. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mampu menjaga stabilitas, sementara industri terus mencari alternatif pasokan dan jalur distribusi. Tanpa itu, kenaikan harga di awal tahun tampaknya sulit dihindari.
