Cakrawala News – 06 November 2026 | PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp14,44 triliun pada Januari-September 2026, turun 3,73% dibandingkan Rp15 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan laba telkom ini terjadi meski pendapatan perseroan justru tumbuh tipis menjadi Rp113,50 triliun, naik 3,55% dari Rp109,61 triliun pada sembilan bulan 2025.
Laporan keuangan konsolidasian perseroan menunjukkan pendapatan yang menguat belum cukup menopang laba usaha. Beban usaha yang membengkak, terutama biaya operasional, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi, menjadi penekan utama kinerja bottom line emiten BUMN telekomunikasi tersebut.
Beban operasional, pemeliharaan, dan jasa telekomunikasi tercatat naik 5,94% dari Rp30,28 triliun menjadi Rp32,08 triliun pada 9M26. Kenaikan itu membuat laba usaha telkom terpangkas menjadi Rp27,99 triliun, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bisnis B2C Masih Jadi Penopang Utama
Dari sisi pendapatan, bisnis business to consumer (B2C) masih menjadi kontributor terbesar. Segmen internet dan data seluler menyumbang Rp56,57 triliun, sementara Indihome memberikan kontribusi Rp19,12 triliun. Secara keseluruhan, bisnis B2C Telkom menghasilkan pendapatan Rp81,55 triliun.
Penopang berikutnya datang dari bisnis B2B ICT sebesar Rp11,15 triliun, B2B Infra Rp7 triliun, segmen internasional Rp8,88 triliun, dan bisnis lain-lain Rp4,83 triliun. Struktur pendapatan ini menunjukkan lini konsumen ritel masih mendominasi pemasukan perseroan.
Meski begitu, tekanan pada sisi biaya turut berdampak pada laba periode berjalan yang tercatat Rp18,46 triliun hingga kuartal III-2026, menyusut 6,96% dibandingkan Rp19,84 triliun pada 9M25. Penurunan tersebut berimbas pada laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Di sisi lain, laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali justru meningkat 3,95% dari Rp4,81 triliun menjadi Rp5 triliun. Dengan demikian, total laba bersih Telkom tercatat Rp19,46 triliun, turun 1,92% dari sebelumnya Rp19,84 triliun.
Laba bersih per saham ikut tergerus 3,57% dari Rp151,73 per saham menjadi Rp146,31 per saham. Adapun kas dan setara kas pada akhir periode menebal menjadi Rp33,62 triliun pada 9M26, ditopang efisiensi dari sisi investasi dan pendanaan yang mampu mengimbangi penurunan kas dari aktivitas operasi.
Sejumlah komponen beban lain juga mencatat pergerakan beragam. Beban penyusutan dan amortisasi tercatat Rp25,77 triliun, sedikit lebih rendah dari Rp26 triliun, sementara beban karyawan turun menjadi Rp11,68 triliun dari Rp11,90 triliun. Namun, beban umum dan administrasi meningkat menjadi Rp5,96 triliun dari sebelumnya Rp5 triliun.
Dari sisi pendanaan, perseroan membukukan penghasilan pendanaan bersih Rp1,19 triliun, lebih rendah dari Rp1,29 triliun, dengan biaya pendanaan turun menjadi Rp3,46 triliun dari Rp4,03 triliun. Alhasil, laba sebelum pajak penghasilan mencapai Rp25,73 triliun, sedikit lebih tinggi dari Rp25,49 triliun, meski beban pajak penghasilan naik menjadi Rp6,26 triliun dari Rp5,65 triliun.
Catatan atas laporan keuangan juga menunjukkan perbedaan tipis pada angka pertumbuhan pendapatan yang dilaporkan, yakni 3,55% dan 3,54%, bergantung pada pembulatan basis perbandingan. Perbedaan kecil semacam ini lazim ditemui dalam publikasi laporan keuangan emiten.
Ekspansi dan Agenda Strategis
Di tengah tekanan kinerja keuangan, Telkom tengah menyiapkan sejumlah agenda strategis. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, menilai perseroan berpeluang mengubah fokus belanja modal pada 2027 dari pengendalian investasi menjadi ekspansi bisnis, terutama untuk pengembangan pusat data dan jaringan kabel bawah laut.
Belanja modal konsolidasian TLKM pada 2027 diperkirakan meningkat dari proyeksi awal Rp29 triliun menjadi sekitar Rp35 triliun. Salah satu pendorongnya adalah pengembangan kabel bawah laut melalui Telin yang merencanakan investasi Rp32 triliun hingga 2031, atau rata-rata sekitar Rp6,4 triliun per tahun.
Selain itu, NeutraDC Batam meningkatkan rencana kapasitas pusat data dari 54 megawatt menjadi 118 megawatt untuk mendukung kebutuhan bisnis kecerdasan buatan. Fasilitas BTM-1 berkapasitas 18 MW telah sepenuhnya memperoleh kontrak pelanggan, dengan 6 MW pertama ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2026, sedangkan BTM-2 berkapasitas 100 MW ditargetkan beroperasi pada 2028.
Pada sisi lain, perseroan juga memperkuat komitmen keberlanjutan. Telkom tercatat sebagai peserta aktif United Nations Global Compact sejak 16 Juli 2026 dan berkomitmen menerapkan Sepuluh Prinsip UNGC pada bidang hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan, hingga antikorupsi. Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menegaskan keberlanjutan merupakan pilar utama transformasi perseroan untuk membangun bisnis yang berdaya saing jangka panjang.
Telkom juga menjalankan program Zero Waste to Landfill bersama mitra pengelola sampah Waste4Change sejak 7 Oktober 2026, dengan fokus pemilahan sampah langsung dari sumbernya. Langkah ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026.
Selain itu, Telkom bersama BSSN, Peruri, dan Danantara Indonesia membentuk kolaborasi Quantum-Safe Indonesia melalui penandatanganan nota kesepahaman pada Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, 28 Oktober 2026. Kolaborasi ini untuk mengantisipasi kerentanan sistem enkripsi menghadapi era Post-Quantum Cryptography.
Ke depan, pasar akan mencermati kemampuan Telkom menahan laju kenaikan beban operasional agar pertumbuhan pendapatan dapat kembali mendorong laba. Realisasi rencana ekspansi pusat data dan kabel bawah laut pada 2027 juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan untuk menilai prospek jangka panjang perseroan.
