Harga Turun Usai Haji Isam Resmi Akuisisi Saham BYAN, Investor Pilih Beli atau Jual?

Harga Turun Usai Haji Isam Resmi Akuisisi Saham BYAN, Investor Pilih Beli atau Jual?
Harga Turun Usai Haji Isam Resmi Akuisisi Saham BYAN, Investor Pilih Beli atau Jual?

Cakrawala News – 11 Oktober 2026 | Harga turun usai Haji Isam resmi akuisisi saham BYAN, investor pilih beli/jual? menjadi pertanyaan besar di pasar modal setelah saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) anjlok hingga lebih dari 6 persen pada perdagangan Rabu (7/10/2026), bersamaan dengan munculnya transaksi raksasa di pasar negosiasi senilai sekitar Rp26 triliun. Aksi korporasi yang dilakukan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama ini langsung mengubah peta kepemilikan salah satu emiten batu bara terbesar di Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan, saham BYAN tercatat melemah 6,13 persen ke level Rp12.625 per saham pada sesi pagi. Bahkan hingga sesi II, harga saham emiten milik konglomerat Low Tuck Kwong itu masih berada di level Rp12.575 per saham, turun Rp875 atau 6,51 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp13.450. Kapitalisasi pasar BYAN pun tercatat menyusut menjadi sekitar Rp419,17 triliun.

Penurunan harga tersebut terjadi tepat setelah munculnya transaksi crossing jumbo di pasar negosiasi. Mengutip data RTI Business, transaksi terjadi dalam tiga tahap dengan harga Rp2.588 per saham. Pada pukul 09.31 WIB tercatat sekitar 166.666 lot senilai Rp43,1 miliar, kemudian pukul 09.38 WIB sebanyak 50 juta lot senilai Rp12,94 triliun, dan pukul 09.39 WIB sebanyak 50,67 juta lot senilai Rp13,11 triliun.

Secara total, transaksi tersebut mencakup sekitar 10,08 miliar lembar saham dengan nilai mencapai Rp26,09 triliun hingga Rp26,43 triliun, tergantung asumsi perhitungan yang digunakan. Angka ini membuat transaksi tersebut menjadi salah satu yang terbesar di pasar negosiasi pada perdagangan hari itu.

Perubahan Perjanjian Jual Beli Saham

Transaksi jumbo ini tidak terlepas dari perubahan Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) atau Conditional Sale and Purchase of Shares Agreement (CSPA) antara Low Tuck Kwong dan Elaine Low dengan PT Jhonlin Baratama. Perjanjian awal ditandatangani pada 16 September 2026, lalu diubah pada 1 Oktober 2026.

Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen Bayan Resources menyatakan jumlah saham biasa perseroan yang akan dialihkan kepada pembeli bertambah dari semula 10.000.000.500 saham menjadi 10.084.088.370 saham. Penambahan tersebut setara dengan 84,09 juta saham atau sekitar 30 persen dari total saham perseroan.

Manajemen BYAN menegaskan bahwa kejadian tersebut tidak menimbulkan dampak material negatif yang dapat mengganggu kegiatan operasional, aspek hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan. Meski demikian, manajemen belum mengungkapkan pada harga berapa nilai aksi korporasi itu disepakati.

Di sisi lain, Low Tuck Kwong juga tercatat melepas sebagian kepemilikan sahamnya. Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, ia menjual 33.333.335 lembar saham di harga Rp11.025 per saham pada Selasa, 6 Oktober 2026. Dari penjualan itu, Low Tuck Kwong meraup dana sekitar Rp367,50 miliar.

Dengan transaksi tersebut, porsi kepemilikan Low Tuck Kwong hanya berubah tipis 0,10 persen, dari 40,25 persen menjadi 40,15 persen, atau setara 13.383.588.535 unit saham. Artinya, ia masih menjadi pemegang saham pengendali BYAN meski Haji Isam melalui Jhonlin Baratama berpotensi menjadi pemegang saham signifikan.

Respons Analis Pasar

Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, menyoroti bahwa transaksi crossing saham BYAN tersebut sesuai dengan perhitungannya sebelumnya. Menurutnya, Haji Isam tampaknya menawar BYAN dengan mempertimbangkan fundamental industri saat ini yang berada di kisaran price to earnings (P/E) 6 hingga 7,5 kali.

Fauzan mengungkapkan bahwa laporan sekitar 10 September menyebut nilai sekitar US$3 miliar untuk transaksi 62,2 persen saham BYAN. Angka tersebut muncul sebelum perjanjian Jhonlin Baratama, dan saat itu BYAN menyatakan tidak mengetahui adanya penawaran tersebut. Jika angka US$3 miliar digunakan sebagai acuan untuk menghitung nilai 30 persen saham BYAN, maka nilainya sekitar US$1,45 miliar atau sekitar Rp25,92 triliun dengan asumsi kurs Rp17.876.

Angka itu setara dengan kisaran Rp2.530 hingga Rp2.590 per saham, jauh di bawah rata-rata harga saham BYAN selama 90 hari yang mencapai Rp12.643. Dengan asumsi harga tersebut, valuasi BYAN berada pada kisaran 5,7 hingga 5,9 kali laba bersih, dibandingkan 26,9 kali pada penutupan perdagangan 22 September.

“Tapi jadi gambaran aja, di pasar nego ada yang nge-pricing BYAN di fundamentalnya, itu di 20 persen current value, jadi sentimen negatif, perhaps temporarily,” ucap Fauzan kepada Katadata.co.id, Rabu (7/10).

Pernyataan itu menunjukkan bahwa harga transaksi di pasar negosiasi berada pada level diskon sekitar 76,53 persen dari harga pasar saat ini. Situasi ini memunculkan dua tafsir di kalangan investor: sebagian melihatnya sebagai peluang akumulasi karena valuasi menjadi lebih murah, sementara sebagian lain menganggapnya sebagai sinyal negatif terhadap prospek jangka pendek saham BYAN.

Dampak ke IHSG dan Pandangan ke Depan

Penurunan saham BYAN turut menekan laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada akhir sesi I, IHSG berada di level 6.158,78, turun 34,145 poin atau 0,551 persen. Saham BYAN menjadi salah satu pemberat indeks pada perdagangan tengah hari tersebut.

Meski demikian, manajemen BYAN memastikan bahwa perubahan perjanjian jual beli saham ini merupakan tindak lanjut dari keterbukaan informasi sebelumnya mengenai penandatanganan PJBS Nomor 466/BR-OJK/IX/2026 tertanggal 17 September 2026. Perseroan menerima surat pemberitahuan lanjutan tertanggal 5 Oktober 2026 yang menyampaikan bahwa Low Tuck Kwong dan Elaine Low bersama pembeli telah menandatangani perubahan PJBS pada 1 Oktober 2026.

Pertanyaan besar yang kini dihadapi investor adalah apakah masuknya Haji Isam melalui Jhonlin Baratama akan membawa perubahan strategis bagi BYAN, atau justru menjadi tekanan jangka pendek bagi harga saham. Sebab, hingga kini manajemen belum memberikan konfirmasi apakah transaksi di pasar negosiasi dilakukan oleh pihak Jhonlin Group.

Ke depan, pasar akan menantikan detail harga final akuisisi, struktur kepemilikan setelah transaksi rampung, serta arah strategi bisnis BYAN di bawah pengaruh pemegang saham baru. Bagi investor, keputusan membeli atau menjual saham BYAN akan sangat bergantung pada bagaimana mereka menilai valuasi saat ini dibandingkan fundamental jangka panjang emiten batu bara tersebut.

Yang jelas, harga turun usai Haji Isam resmi akuisisi saham BYAN, investor pilih beli/jual? masih menjadi pertanyaan terbuka yang jawabannya akan terlihat dari arah pergerakan saham BYAN dalam beberapa hari ke depan. Transaksi senilai puluhan triliun rupiah ini menandai babak baru dalam peta kepemilikan salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Tanah Air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *