Intelijen Eropa: Rusia Bisa Uji NATO dalam Hitungan Bulan, Pasal 5 Dipertaruhkan

Intelijen Eropa: Rusia Bisa Uji NATO dalam Hitungan Bulan, Pasal 5 Dipertaruhkan
Intelijen Eropa: Rusia Bisa Uji NATO dalam Hitungan Bulan, Pasal 5 Dipertaruhkan

Cakrawala News – 24 September 2026 | Kala intelijen Eropa ungkap kemungkinan Putin segera lancarkan serangan ke negara-negara NATO, sejumlah pejabat intelijen di Benua Biru meningkatkan kewaspadaan terhadap skenario yang disebut dapat terjadi dalam hitungan bulan, bukan tahun. Peringatan paling tajam datang dari Direktur Badan Informasi Keamanan Republik Ceko (BIS), Michal Koudelka, yang menilai Rusia mungkin melakukan penyusupan terbatas, provokasi bendera palsu, aktivitas drone, hingga operasi pengaruh berskala besar terhadap wilayah aliansi yang berbatasan dengan Rusia.

Peringatan itu muncul beberapa hari setelah Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyampaikan penilaian intelijen kepada parlemen. Menurut Tusk, Rusia berpotensi melancarkan serangan menggunakan drone atau rudal ke wilayah NATO dalam beberapa bulan mendatang untuk menguji keteguhan aliansi. Salah satu kemungkinan tujuannya, kata Tusk, adalah membuktikan bahwa Pasal 5 lebih bersifat teoretis daripada praktis.

Pasal 5 Jadi Titik Ujian

Pasal 5 merupakan fondasi pertahanan kolektif NATO. Perjanjian Atlantik Utara menetapkan bahwa serangan bersenjata terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan terhadap seluruh anggota, sehingga masing-masing negara berkewajiban memberikan bantuan. Persoalan paling sensitifnya adalah apakah seluruh anggota benar-benar akan bertindak ketika salah satu negara menghadapi serangan berskala terbatas atau pelakunya sengaja dibuat sulit ditentukan.

Dalam wawancara dengan The Guardian di markas BIS di Praha, Koudelka menggambarkan pendekatan Rusia sebagai strategi escalate to de-escalate, yakni meningkatkan tekanan dengan harapan negara-negara Eropa kemudian mengurangi dukungan mereka kepada Ukraina. Ia menyebut skenario penyusupan berskala kecil ke wilayah NATO yang berbatasan dengan Rusia termasuk yang sedang diperhitungkan.

“Itu mungkin terjadi. Bisa berupa penyusupan terbatas, provokasi bendera palsu, atau kampanye pengaruh besar-besaran,” kata Koudelka.

Sejumlah laporan menyebut skenario yang diperhitungkan mencakup peningkatan aktivitas drone, penyusupan perbatasan secara terbatas, provokasi bendera palsu, hingga kampanye pengaruh dalam skala besar. Namun, laporan-laporan itu tidak menyatakan Moskow telah memutuskan melakukan serangan maupun bahwa invasi besar ke wilayah aliansi sudah dekat.

Macron Dukung Peringatan Tusk

Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut peringatan Tusk beralasan dan terdokumentasi dengan baik. Pada Jumat, 18 September 2026, Macron memanggil para pemimpin partai politik dan kandidat presiden Prancis 2027 untuk menghadiri pertemuan darurat di Paris. Salah satu hal yang dibahas adalah informasi intelijen mengenai meningkatnya ancaman dari Rusia.

“Ancaman hibrida Rusia terhadap warga Eropa dan terhadap Prancis telah meningkat,” kata Macron kepada jurnalis seusai pertemuan tersebut.

Polandia, yang berbatasan langsung dengan Ukraina dan sekutu Rusia, Belarusia, mempercepat persiapan militernya. Pada Sabtu, militer Polandia meluncurkan operasi penerbangan preventif dan menyiagakan sistem pengintaian radar serta pertahanan udara berbasis darat pada tingkat kesiapan tertinggi, tepat saat Rusia melancarkan gelombang serangan ke Ukraina. Langkah itu diambil sehari setelah Tusk mengumumkan bahwa Polandia resmi bergabung dalam koalisi pertahanan rudal anti-balistik bersama Ukraina dan sekutu Eropa lainnya.

Kekhawatiran yang memuncak memicu gelombang persiapan di seluruh Eropa. Pemerintah di kawasan itu mengambil langkah antisipatif, mulai dari rancangan perlindungan infrastruktur vital di Prancis, persiapan fasilitas rumah sakit darurat di Jerman, pembaruan prosedur evakuasi warga sipil di Lituania, hingga peningkatan sistem pertahanan udara di perbatasan Polandia.

Serangan Udara Membesar di Kedua Arah

Kala intelijen Eropa ungkap kemungkinan Putin segera lancarkan serangan ke negara-negara NATO, eskalasi di medan perang justru semakin sering menjangkau wilayah jauh dari garis depan. Pada Minggu, 20 September 2026, Ukraina melancarkan serangan besar-besaran dengan ratusan drone dan rudal ke Moskow serta sejumlah wilayah lain di Rusia, menjadikannya salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai pada Februari 2022.

Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin menyebut sekitar 450 drone diarahkan langsung menuju Moskow. Kementerian Pertahanan Rusia mengklaim Ukraina meluncurkan lebih dari 1.100 drone ke berbagai wilayah Rusia, Krimea yang dianeksasi Moskow, dan kawasan Laut Hitam. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Serangan tidak sepenuhnya dapat dihentikan pertahanan udara Rusia. Kilang Minyak Moskow dilaporkan mengalami kerusakan, sementara sebuah bangunan tempat tinggal juga terkena. Sedikitnya dua orang tewas dan 20 lainnya terluka di wilayah Moskow, menurut Gubernur Andrey Vorobyov. Korban meninggal dilaporkan seorang pria berusia 74 tahun dan seorang perempuan berusia 44 tahun. Sebuah drone yang menghantam gedung apartemen 21 lantai menyebabkan kebakaran dan memaksa sekitar 400 orang dievakuasi.

Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan akan melanjutkan sekaligus meningkatkan serangan berpresisi tinggi terhadap sasaran militer di Kyiv. Moskow menuding serangan Ukraina menyasar sasaran sipil dan dimaksudkan mengganggu proses pemilu parlemen Rusia. Partai Rusia Bersatu yang mendukung Presiden Vladimir Putin tetap memperoleh kemenangan besar menurut hasil awal yang dipublikasikan media pemerintah Rusia.

Putin Dinilai Pilih Lanjutkan Perang

Sejumlah sumber intelijen dari negara Barat menyampaikan kepada Telegraph bahwa Putin bersiap meningkatkan serangan ke Ukraina setelah pemilu regional di negaranya selesai. Menurut sumber itu, Putin juga ingin meningkatkan eskalasi perang di Eropa dan tengah bersiap menyerang negara NATO yang menjadi sekutu setia Kyiv dengan mengerahkan pasukan dalam jumlah besar.

Sumber tersebut menambahkan, Putin kini lebih memilih melanjutkan perang dengan Ukraina daripada melanjutkan negosiasi damai yang dimediasi Amerika Serikat. Data terbaru yang disebut sumber itu menunjukkan sekitar 500 ribu warga Rusia telah menjadi korban perang tersebut.

NATO sendiri disebut khawatir peningkatan serangan ke Ukraina akan dimanfaatkan Rusia untuk menyerang negara-negara anggota. Menurut seorang sumber anonim yang dekat dengan pejabat NATO, Direktur CIA John Ratcliffe sudah berkunjung ke Rusia pada bulan lalu untuk mengingatkan agar Moskow tidak menyerang negara NATO. Moskow juga disebut sedang berupaya melakukan operasi hibrida di negara-negara anggota NATO, terdiri dari serangan siber, sabotase, hingga perang informasi.

“Ini sesuai dengan pola yang lebih luas dari operasi hibrida Rusia di Eropa,” kata Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul.

Hingga kini, Rusia masih menyerang Ukraina. Serangan terakhir terjadi sepanjang Jumat hingga Sabtu, 18-19 September 2026, menggunakan drone, rudal, bom, dan senjata artileri, dan menewaskan delapan orang. Kepala Administrasi Wilayah Dnipropetrovsk, Oleksandr Ganzha, menyatakan musuh menyerang empat wilayah lebih dari 10 kali.

Peringatan intelijen ini muncul menjelang Sidang Majelis Umum PBB di New York, di tengah semakin gencarnya serangan udara dari kedua pihak dalam perang Ukraina. Ujian sesungguhnya bukan semata serangan, melainkan apakah NATO tetap benar-benar bersatu ketika tekanan diarahkan untuk menguji kredibilitas Pasal 5. Yang perlu dicermati ke depan adalah bagaimana aliansi merespons insiden berskala kecil yang pelakunya sengaja dibuat kabur, sekaligus apakah negara-negara Eropa mampu mempertahankan dukungan kepada Kyiv di tengah ancaman yang terus meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *