Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium

Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium
Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium

Cakrawala News – 11 Oktober 2026 | Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium menjadi sikap resmi Teheran yang disampaikan langsung oleh Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami. Pernyataan itu muncul sebagai respons terhadap tuntutan Amerika Serikat agar Iran mengurangi secara signifikan kapasitas pengayaan uraniumnya. Menurut laporan media pemerintah Iran, Eslami menyampaikan hal tersebut pada Kamis, 8 Oktober 2026, dan menegaskan bahwa pengayaan uranium merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari program nuklir negaranya.

“Pengayaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses nuklir, dan kami tidak akan meninggalkannya dengan cara apa pun,” kata Eslami, dikutip dari TRT World. Ia menilai penghentian pengayaan uranium akan melemahkan kemampuan Iran mempertahankan industri nuklir domestiknya. Eslami menyebut sektor tersebut sebagai salah satu pendorong perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam pernyataannya, Eslami juga mempertanyakan bagaimana suatu negara dapat mengeklaim memiliki industri nuklir tanpa menguasai tahapan awal dari prosesnya. Menurut dia, industri nuklir adalah kekuatan pendorong ilmu pengetahuan dan teknologi. Ia pun menepis ancaman terbaru AS terhadap fasilitas nuklir Iran dengan menyebutnya bukan hal baru.

Bantahan Iran soal Ambisi Senjata Nuklir

Pernyataan Eslami muncul di tengah tuduhan lama Amerika Serikat, Israel, dan sejumlah negara Barat yang menilai Iran berupaya mengembangkan kemampuan untuk membuat senjata nuklir. Salah satu sorotan utama mereka adalah pengayaan uranium Iran yang mencapai 60 persen. Tingkat tersebut jauh di atas kebutuhan umum untuk pembangkit listrik tenaga nuklir sipil, tetapi masih di bawah tingkat pengayaan sekitar 90 persen yang lazim dikaitkan dengan uranium berkualitas senjata.

Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut. Teheran menyatakan program nuklirnya ditujukan untuk kepentingan damai, termasuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pejabat Iran sebelumnya juga mengisyaratkan bahwa negara tersebut dapat menyetujui pengenceran uranium dengan tingkat pengayaan tertinggi sebagai bagian dari kesepakatan yang lebih luas.

Meski demikian, Eslami kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan meninggalkan aktivitas pengayaan uranium yang dianggap sebagai fondasi industri nuklir nasionalnya. Sikap ini memperlihatkan bahwa isu pengayaan uranium masih menjadi titik perselisihan utama antara Teheran dan Washington.

Latar Belakang JCPOA dan Eskalasi Pengayaan

Iran mulai melakukan pengayaan uranium hingga mencapai 60 persen sejak menangguhkan keterlibatannya dalam kesepakatan nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA). Pada 2018, Presiden AS Donald Trump memutuskan menarik negaranya dari JCPOA. Trump menilai kesepakatan itu cacat karena tidak turut mengatur program rudal balistik dan pengaruh Iran di kawasan.

Setelah menarik AS dari kesepakatan tersebut, Trump memberlakukan kembali sanksi ekonomi terhadap Teheran. Pada momen itu, Iran memutuskan turut menangguhkan keterlibatannya dalam JCPOA dan mulai melakukan pengayaan uranium hingga melampaui 3,67 persen. Sebelumnya, JCPOA mengatur bahwa Iran tidak boleh memperkaya uranium hingga melewati ambang batas tersebut.

Uranium yang diperkaya hingga antara tiga dan lima persen dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga nuklir. Jika uranium diperkaya hingga 20 persen, ia bisa digunakan untuk menghasilkan isotop untuk keperluan medis, misalnya dalam mendiagnosis kanker tertentu. Sementara untuk membuat bom nuklir, uranium harus diperkaya hingga 90 persen.

Diplomasi Selat Hormuz Berjalan Paralel

Pernyataan Eslami muncul ketika Iran dan Amerika Serikat masih bertukar proposal untuk mengakhiri konflik dan memulihkan pelayaran melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi pengiriman energi global. Pada Kamis, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan Teheran dapat memberikan respons dalam beberapa hari terhadap jawaban terbaru Washington atas proposal Iran.

Proposal tersebut menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari jika sejumlah persyaratan dipenuhi. Upaya diplomatik terkait Selat Hormuz berlangsung bersamaan dengan perselisihan mengenai program nuklir Iran. Kedua isu tersebut menjadi bagian dari pembahasan yang lebih luas mengenai keamanan kawasan, penghentian permusuhan, dan kebebasan navigasi.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington terlibat dalam pembicaraan produktif dengan Iran. Ia juga menyatakan AS tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela Kongres pada November. Pernyataan terbaru kedua pihak menunjukkan perbedaan pandangan mengenai masa depan program pengayaan uranium Iran masih berlangsung, meski kontak diplomatik terkait persoalan regional yang lebih luas tetap berlanjut.

Posisi Iran Tegaskan tak akan Turuti Tuntutan AS Setop Pengayaan Uranium menegaskan bahwa Teheran belum bersedia mengubah haluan dalam isu yang menjadi inti ketegangan dengan Barat. Bagi Iran, pengayaan uranium bukan sekadar persoalan teknis, melainkan simbol kedaulatan dan kemajuan ilmu pengetahuan. Karena itu, tuntutan AS untuk mengurangi kapasitas pengayaan menghadapi resistensi yang kuat dari Teheran.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada apakah respons Iran terhadap jawaban terbaru Washington dapat membuka jalan bagi kesepakatan yang lebih luas, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, selama pengayaan uranium tetap dipertahankan pada tingkat 60 persen, perbedaan pandangan antara Iran dan Amerika Serikat diperkirakan masih menjadi hambatan utama dalam upaya meredakan ketegangan di kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *