Cakrawala News – 22 September 2026 | Militer Iran menyatakan telah menerima informasi intelijen bahwa Amerika Serikat (AS) berencana melanjutkan serangan terhadap Teheran. Kabar itu mencuat ke publik sebagai Iran terima info AS siapkan serangan terbaru usai dapat lampu hijau beberapa negara Arab, dalam sebuah pertemuan gabungan di salah satu negara Eropa. Informasi tersebut disampaikan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, pusat komando terpadu angkatan bersenjata Iran, melalui pernyataan yang disiarkan televisi nasional IRIB pada Minggu (20/9/2026).
“Menurut informasi yang diterima, Amerika Serikat yang kriminal sekali lagi memutuskan untuk melanjutkan tindakan terhadap Iran dengan lampu hijau dari beberapa negara regional dalam pertemuan bersama di sebuah negara Eropa,” demikian bunyi pernyataan Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya. Iran tidak merinci negara-negara Timur Tengah mana yang dimaksud dalam pernyataan itu.
Balasan Berkelanjutan dan Ancaman bagi Negara Kawasan
Menanggapi informasi tersebut, Iran berjanji akan melancarkan pembalasan jika AS benar-benar kembali menyerang. Markas Besar Khatam al-Anbiya menegaskan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan serangan terus-menerus terhadap pangkalan dan kepentingan Washington di Timur Tengah.
“Jika AS membuat kesalahan lagi terhadap Iran, maka semua pangkalan dan kepentingan negara tersebut di kawasan ini akan menjadi sasaran serangan yang terus-menerus dan menyakitkan tanpa batasan atau keraguan sedikit pun,” kata lembaga itu.
Teheran juga memperingatkan negara-negara di Timur Tengah yang memutuskan ikut serta dalam agresi AS. Menurut pernyataan itu, negara kawasan yang berpihak pada agresi akan dianggap terlibat dalam kejahatan tersebut dan tidak dapat lagi mengharapkan sikap menahan diri dari angkatan bersenjata Iran.
“Kami memperingatkan jika negara-negara di kawasan ini, dengan terus menerapkan kebijakan bermuka dua terhadap Republik Islam Iran, berpihak pada agresi ‘Setan Besar’ terhadap Iran yang kuat dan berdaulat, maka mereka semua akan dianggap terlibat dalam tindak kejahatan ini,” tegas Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.
IRGC Janjikan Senjata Baru dan Geografi Perang yang Berubah
Pernyataan pusat komando militer Iran itu menyusul peringatan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, mengatakan Iran akan mengubah persenjataan dan cakupan wilayah perang jika AS melancarkan serangan baru.
“Jika serangan terbaru dilaksanakan, pertahanan dan serangan kami akan berubah signifikan. Kami akan mengganti persenjataan dan geografis dari peperangan, dan kami akan membawa kapabilitas baru dengan kapasitas baru ke medan perang. Dunia akan terkejut,” kata Mohebbi dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita AFP dan Reuters, Senin (21/9/2026).
Mohebbi menambahkan bahwa target-target militer Iran tidak akan lagi sama seperti sebelumnya. Menurut dia, IRGC telah mengidentifikasi sejumlah target baru yang belum pernah diserang. Ia juga menyatakan bahwa pasukannya telah bersiap menghadapi kemungkinan perang berkepanjangan.
“Perang tidak berhenti tetapi berlanjut. IRGC telah bersiap untuk perang dan sekarang bahkan lebih siap,” ujarnya. Mohebbi menegaskan bahwa misi utama militer Iran adalah mempertahankan negara dan bangsa. Ia juga mengeklaim dominasi AS di kawasan telah berakhir dan Iran, bukan Washington, yang membentuk tatanan baru di Timur Tengah.
Latar Belakang Konflik dan Kebuntuan Negosiasi
Ketegangan antara Iran dan AS kembali memanas setelah serangan terakhir Washington ke Teheran pada 12 September 2026. Kala itu, AS menyerang Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Serangan tersebut disebut sebagai balasan karena Iran lebih dulu menyerang sejumlah pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Sebelumnya, pada akhir Agustus, AS juga menyerang Pulau Qeshm dan Kota Bandar Abbas. Kedua lokasi itu memang sering menjadi sasaran serangan AS ke Iran sejak Februari. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengecam serangan ke Pulau Qeshm dan menyebutnya sebagai kejahatan perang karena berdampak buruk bagi warga sipil yang tinggal di sana.
Perang antara Iran dan AS bermula pada 28 Februari 2026, dimulai dari serangan gabungan AS dan Israel yang kemudian dibalas Iran dengan menyerang sejumlah titik di kawasan. Pada pertengahan Juni, kedua negara sempat menyepakati memorandum untuk menghentikan permusuhan. Namun, konflik kembali berlanjut tak lama setelahnya.
Hingga kini, Teheran dan Washington masih terjebak dalam jalan buntu. Negosiasi perdamaian yang sudah tertunda sejak Juli belum juga dilanjutkan. Meski demikian, kedua negara tampaknya sama-sama tidak ingin kembali ke perang berskala penuh.
Syarat Iran untuk Selat Hormuz
Di tengah ketegangan yang belum mereda, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengungkapkan bahwa Teheran telah menyampaikan syarat-syarat untuk membuka kembali Selat Hormuz kepada Washington melalui mediator.
“Kecuali syarat-syarat ini dipenuhi, hak-hak sah rakyat Iran diakui, dan komitmen Amerika diterapkan, tidak akan ada peluang untuk kembali ke kondisi negosiasi sebelumnya ataupun membuka kembali Selat Hormuz,” tegas Ghalibaf. Menurutnya, pesan-pesan tersebut telah disampaikan dan syarat-syarat Iran telah dijelaskan secara gamblang kepada pihak lawan melalui para mediator.
Pernyataan itu menambah lapisan kompleksitas dalam upaya diplomasi yang selama ini berjalan alot. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis dunia, sehingga pembukaan atau penutupannya berdampak langsung pada stabilitas pasokan energi global.
Dengan pernyataan terbaru dari militer Iran, situasi di kawasan masih berpotensi bergejolak. Publik internasional menantikan apakah AS akan menanggapi peringatan tersebut, sekaligus apakah jalur negosiasi yang tertunda sejak Juli dapat kembali dibuka.
Yang perlu dicermati selanjutnya adalah perkembangan di sekitar Selat Hormuz dan sikap negara-negara Timur Tengah yang disebut memberikan lampu hijau. Jika ketegangan terus meningkat tanpa saluran diplomasi yang berjalan, risiko eskalasi terbuka di kawasan akan semakin besar.
