Cakrawala News – 08 November 2026 | Sepakat dengan Trump, Greenland resmi restui pangkalan militer AS setelah parlemen di Nuuk meratifikasi perjanjian keamanan trilateral bersama Amerika Serikat dan Denmark pada Selasa, 3 November 2026. Hasil pemungutan suara mencatat 16 anggota menyetujui perjanjian tanpa ada suara penolakan, sementara tujuh anggota lainnya memilih abstain. Keputusan ini menjadi babak baru setelah berbulan-bulan ketegangan diplomatik akibat keinginan Presiden AS Donald Trump menguasai pulau strategis di kawasan Arktik tersebut.
Perjanjian itu sendiri telah ditandatangani ketiga pihak pada September 2026, tepatnya di sela-sela Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York. Penandatanganan dilakukan oleh Trump, Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen, dan Perdana Menteri Greenland Jens-Frederik Nielsen. Kesepakatan dirancang untuk meredakan ketegangan sekaligus memperkuat kehadiran militer AS di Greenland, dengan tetap mempertahankan kedaulatan Denmark atas wilayah semi-otonom tersebut.
Dua Pangkalan Baru dan Modernisasi Pituffik
Salah satu poin terpenting dalam perjanjian adalah perluasan kehadiran militer AS. Washington memperoleh jalan untuk membangun dua pangkalan militer baru di Greenland. Menurut laporan Le Monde, salah satu lokasi berada di Narsarsuaq, Greenland bagian selatan, sementara lokasi kedua di Mestersvig, kawasan pesisir timur yang sebelumnya digunakan sebagai pos militer Denmark.
Selain itu, AS mendapat izin untuk memodernisasi dan memperluas aktivitasnya di Pangkalan Antariksa Pituffik yang sudah beroperasi. Fasilitas militer AS juga diberi keleluasaan bergerak melalui jalur darat, laut, dan udara, termasuk akses bawah laut, dengan catatan tetap memperhatikan lingkungan dan cara hidup masyarakat setempat. Washington pun dapat membangun kawasan pertahanan tambahan serta memperkuat operasi dan fasilitas militernya.
Posisi geografis Greenland menjadi alasan utama di balik kesepakatan ini. Pulau tersebut terletak di antara Amerika Utara dan Eropa, dengan jalur terpendek antara kedua kawasan melewati Arktik. Keberadaan pangkalan militer di Greenland dinilai penting bagi kepentingan pertahanan AS dan sekutunya, terutama di tengah persaingan geopolitik yang semakin ketat di kawasan tersebut.
Peluang Masuk Golden Dome
Kesepakatan juga membuka peluang bagi Greenland untuk terlibat dalam proyek pertahanan Golden Dome, sistem pertahanan rudal yang digagas Trump untuk melindungi wilayah AS dari ancaman serangan rudal balistik. Dengan keterlibatan Greenland, Washington berpeluang memperkuat sistem pertahanannya melalui wilayah yang memiliki posisi geografis strategis di Arktik.
Menteri Luar Negeri Greenland Mute Egede menilai perjanjian ini akan menjamin stabilitas. Menurutnya, Greenland harus mengapresiasi dan tidak menggampangkan perdamaian yang ada di wilayahnya. Namun, sikap itu tidak sepenuhnya sejalan dengan oposisi. Anggota parlemen dari Partai Naleraq, Pele Broberg, mempertanyakan nilai yang didapat Greenland dan mendesak keuntungan lebih besar dalam perjanjian trilateral tersebut.
“Kami mencari perjanjian yang lebih baik bahwa kami dapat memperoleh keuntungan ketika kita menjadi negara merdeka. Namun, tidak ada keuntungan ekonomi yang didapat dari perjanjian ini,” ujar Pele Broberg, dikutip dari Deutsche Welle.
Jalannya sidang juga sempat terganggu. Juru Bicara Parlemen Greenland Kim Kielsen menyatakan sidang ditunda sekitar satu jam akibat dugaan kebocoran informasi rahasia. Parlemen kemudian memutuskan melaporkan kebocoran data itu kepada polisi untuk diinvestigasi. Pemerintah setempat menuding Partai Naleraq sengaja memublikasikan informasi rahasia yang diperoleh dalam pengarahan tertutup.
Respons Warga dan Pemerintah AS
Di kalangan warga, keputusan parlemen disambut dengan harapan sekaligus kehati-hatian. Nukaaka Lund-Mathaeussen, penduduk Ilulissat berusia 28 tahun, berharap pemerintahan Trump telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. “Semoga setelah ini, kita tidak lagi menerima ancaman terselubung dari pemerintah Amerika,” ujarnya kepada The Associated Press setelah pemungutan suara.
Sementara itu, William Tukula, koki berusia 34 tahun di Ilulissat, mengaku sempat melihat unggahan di Facebook dari warga Greenland yang lebih tua yang merasa sedikit takut dengan Trump dan para tentara. Sebelumnya, Trump sempat menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer untuk mengambil alih Greenland dengan alasan kendali AS sangat penting bagi keamanan nasional. Ia kemudian menarik kembali ancaman tersebut dan menegaskan dukungannya agar rakyat Greenland menentukan masa depan sendiri.
Departemen Luar Negeri AS menyebut kesepakatan ini sebagai kemenangan besar lainnya bagi keamanan nasional Amerika. “Pemerintahan ini mengamankan kepentingan strategis Amerika di Arktik, memperkuat pertahanan nasional kita, dan memastikan wilayah krusial ini tetap bebas dari ancaman pihak lawan,” demikian pernyataan dalam unggahan di X. Pada hari yang sama, Trump kembali mengklaim bahwa Eropa telah memberikan Greenland kepada AS sebagai hadiah terbesar yang pernah diterima negaranya.
Dengan disetujuinya langkah ini, Greenland resmi restui pangkalan militer AS, tetapi implementasinya masih menunggu ratifikasi parlemen Denmark. Perjanjian ini juga dirancang tetap berlaku seandainya Greenland kelak memilih merdeka. Bagi kawasan Arktik, kesepakatan ini menandai pergeseran penting: ketegangan soal aneksasi berubah menjadi kerja sama keamanan formal yang memperkuat posisi AS, sekaligus menyisakan pertanyaan tentang manfaat ekonomi bagi Greenland yang masih menjadi sorotan oposisi.
