Cakrawala News – 06 Oktober 2026 | Militer Iran resmi mengumumkan akan meningkatkan jangkauan rudalnya di tengah konflik bersenjata yang masih berlangsung dengan Amerika Serikat (AS). Pengumuman itu disampaikan Juru Bicara Angkatan Darat Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, yang menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan pengalaman tempur selama perang. “Dalam perang ini, kami menyimpulkan harus meningkatkan jangkauan rudal, dan kita telah bergerak ke arah itu,” kata Akraminia kepada kantor berita Fars, dikutip Senin (5/10/2026).
Menurut Akraminia, peningkatan jangkauan rudal menjadi kebutuhan mendesak karena AS telah menempatkan pasukannya sekitar 1.000 kilometer dari pantai Iran. Pernyataan itu memperjelas arah kebijakan militer Teheran yang ingin memastikan kemampuan serangnya menjangkau target-target musuh di luar kawasan. Iran umumkan akan tingkatkan jangkauan rudal ini menjadi sinyal bahwa doktrin pertahanan negara tersebut tengah bergeser mengikuti dinamika medan perang.
Produksi Alutsista Berjalan Non-stop
Akraminia mengungkapkan bahwa sejumlah besar stok perlengkapan senjata baru, termasuk rudal dan drone, saat ini berada dalam inventori pasukan Angkatan Bersenjata Iran. Persenjataan itu, katanya, diproduksi selama perang Ramadhan dan produksinya berlanjut hingga kini. “Kami memproduksi perlengkapan pertahanan dan penyerangan baru, termasuk rudal dan drone, setiap hari selama perang, dan ini terus berlanjut,” ujarnya seperti dikutip Mehr News, Selasa (6/10/2026).
Ia menambahkan, persenjataan baru tersebut akan diperkenalkan dalam waktu yang tepat. Namun, Akraminia tidak menyediakan angka pasti soal inventori rudal dan drone Iran saat ini, dan juga tidak memberikan detail yang bisa diverifikasi terkait kecepatan kapasitas produksinya. Ketiadaan data rinci itu membuat klaim mengenai volume produksi alutsista sulit diverifikasi secara independen.
Meski demikian, Akraminia menyatakan Angkatan Bersenjata Iran memperoleh pengalaman perang baru yang signifikan. Menurutnya, pihaknya berhasil mengidentifikasi kelemahan dalam hal kapabilitas dan pengerahan para musuh-musuhnya. Pengalaman itu menjadi dasar bagi pengembangan kemampuan militer Iran ke depan.
Rudal Jarak Menengah dan Serangan Diego Garcia
Iran diketahui memiliki rudal jarak menengah yang digunakan sejak pecahnya perang melawan AS dan Israel pada 28 Februari. Senjata tersebut mencakup rudal dengan jangkauan hingga 2.000 kilometer, yang disebut bisa menjangkau wilayah Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah.
Yang mengejutkan, pada Maret lalu Iran dikabarkan menyerang pangkalan udara Inggris di Pulau Diego Garcia, Samudera Hindia, yang jaraknya dari Teheran melebihi 5.000 kilometer. Hingga kini tidak ada keterangan apa pun yang disampaikan Iran terkait serangan tersebut. Jarak itu jauh melampaui jangkauan rudal yang secara resmi diakui dimiliki Teheran, sehingga memunculkan pertanyaan mengenai kapabilitas yang sebenarnya.
Ghalibaf: Iran Siap Lanjutkan Perang
Di sisi lain, Ketua Parlemen sekaligus pemimpin tim negosiasi Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan negaranya siap melanjutkan perang dengan AS. Namun, Teheran juga membuka diri terhadap proses negosiasi. “Kami hadir di medan perang militer dengan semua kekuatan kami dan kami akan menghadapi mereka dengan kejutan-kejutan baru, dan kami menggunakan alat diplomasi untuk membangun keunggulan kami di bidang militer dan memberlakukan hak-hak rakyat Iran,” ucap Ghalibaf seperti dilaporkan kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim.
Ghalibaf kemudian menyinggung soal pembukaan Selat Hormuz dalam tempo tujuh hari. Menurutnya, langkah tersebut akan diambil jika AS siap memenuhi tujuh persyaratan yang diajukan Iran sebagaimana termaktub dalam Memorandum Islamabad. Memorandum itu disepakati AS dan Iran pada Juni 2026 lalu.
“Posisi Republik Islam Iran benar-benar jelas dan tegas, dan Selat Hormuz tidak akan dibuka sampai tujuh persyaratan kami, berdasarkan Nota Kesepahaman Islamabad, terpenuhi,” kata Ghalibaf. Pernyataan itu menunjukkan Iran memadukan tekanan militer dan jalur diplomasi dalam menghadapi AS.
Konteks dan Hal yang Perlu Dicermati
Pernyataan Akraminia dan Ghalibaf muncul di tengah ketegangan yang belum mereda. Iran umumkan akan tingkatkan jangkauan rudal sebagai bagian dari strategi menghadapi AS dan Israel, yang menurut Teheran menempatkan kekuatan militernya di sekitar kawasan. Peningkatan jangkauan rudal berpotensi mengubah peta kekuatan regional, terutama karena rudal jarak menengah yang dimiliki Iran saat ini sudah dapat menjangkau Israel dan pangkalan AS di Timur Tengah.
Namun, sejumlah klaim dalam pernyataan pejabat Iran tidak disertai data yang dapat diverifikasi, termasuk jumlah pasti inventori rudal dan drone serta kapasitas produksinya. Klaim mengenai serangan ke Diego Garcia juga belum mendapat penjelasan resmi dari Teheran. Karena itu, perkembangan kemampuan militer Iran perlu dicermati berdasarkan verifikasi independen, bukan semata pernyataan pihak yang berkepentingan.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada apakah Iran benar-benar merilis rudal dengan jangkauan lebih jauh, serta bagaimana respons AS dan Inggris terhadap pernyataan tersebut. Pembukaan Selat Hormuz yang dikaitkan dengan tujuh persyaratan Memorandum Islamabad juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi situasi keamanan kawasan. Iran umumkan akan tingkatkan jangkauan rudal, dan dunia menanti apakah langkah itu diikuti perubahan nyata di medan perang maupun meja perundingan.












