Jawa  

Kalender Jawa November 2026: Dua Bulan Penanggalan, Weton, dan Makna Minggu Pahing

Kalender Jawa November 2026: Dua Bulan Penanggalan, Weton, dan Makna Minggu Pahing
Kalender Jawa November 2026: Dua Bulan Penanggalan, Weton, dan Makna Minggu Pahing

Cakrawala News – 01 November 2026 | Memasuki November 2026, kalender jawa november 2026 mencakup dua bulan penanggalan sekaligus, yakni Jumadilawal dan Jumadilakir 1960. Informasi tanggal Jawa, weton, dan pasaran setiap harinya pun menjadi panduan bagi masyarakat yang masih menggunakan penanggalan ini dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menentukan hari baik hingga mengenali watak berdasarkan weton kelahiran.

Berdasarkan penanggalan yang disusun dari kalender Hijriah 2026 terbitan Kementerian Agama (Kemenag), awal November 2026 masih berada di bulan Jumadilawal yang berlangsung hingga 11 November 2026. Selanjutnya, penanggalan memasuki bulan Jumadilakir pada 12 November 2026. Bulan ini berlangsung hingga 10 Desember 2026, sehingga sebagian besar hari di November 2026 berada dalam penanggalan Jumadilakir.

Pada akhir bulan, tepatnya 30 November 2026, kalender Jawa menunjukkan tanggal 19 Jumadilakir 1960 dengan pasaran Legi. Sementara itu, di hari pertama bulan ini, Minggu 1 November 2026, kalender Jawa jatuh pada Minggu Pahing, bertepatan dengan 20 Jumadilawal 1960 dalam penanggalan Jawa dan 21 Jumadilawal 1448 Hijriah.

Sejarah Singkat Kalender Jawa

Kalender Jawa, yang juga dikenal sebagai Kalender Sultan Agungan, mulai diterapkan pada masa pemerintahan Sultan Agung, raja ketiga Kerajaan Mataram Islam. Mengutip laman resmi Keraton Yogyakarta, sistem penanggalan ini dibuat untuk memadukan kalender Saka yang digunakan masyarakat Jawa saat itu dengan kalender Hijriah.

Tujuannya agar perayaan adat kerajaan dapat berlangsung selaras dengan hari-hari besar Islam. Kalender Sultan Agungan mulai digunakan pada Jumat Legi 1 Sura tahun Alip 1555 Jawa, yang bertepatan dengan 1 Muharam 1043 Hijriah atau 8 Juli 1633 Masehi.

Sistem ini tetap melanjutkan hitungan tahun Saka, tetapi menggunakan peredaran bulan atau lunar sebagai dasar perhitungannya, menggantikan sistem peredaran matahari. Dalam penanggalannya, kalender Jawa mengenal siklus Saptawara atau tujuh hari dalam sepekan, dan Pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran, yaitu Kliwon, Legi, Pahing, Pon, dan Wage.

Kalender Jawa juga memiliki 12 bulan dengan nama yang sebagian diserap dari bahasa Arab dan disesuaikan dengan pelafalan Jawa, mulai dari Sura, Sapar, Mulud, Bakdamulud, Jumadilawal, hingga Besar. Dua di antara bulan tersebut, Jumadilawal dan Jumadilakir, menjadi bagian dari kalender jawa november 2026.

Weton Minggu Pahing dan Neptu 14

Weton Minggu Pahing yang menandai hari pertama November 2026 memiliki neptu 14, hasil penjumlahan nilai hari Minggu sebesar 5 dan pasaran Pahing sebesar 9. Dalam tradisi primbon Jawa, weton ini kerap dikaitkan dengan karakter yang berpendirian kuat, berkemauan besar, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Selain mengetahui watak weton Minggu Pahing, masyarakat juga kerap mencari informasi mengenai peruntungan dan hari baik untuk berbagai keperluan. Perhitungan semacam ini biasanya dilakukan dengan menjumlahkan nilai hari dan pasaran, lalu mencocokkannya dengan kepentingan yang hendak dijalani.

Berikut rincian penanggalan pada 1 November 2026 yang dapat dijadikan referensi:

  • Tanggal Jawa: 20 Jumadilawal 1960
  • Tanggal Hijriah: 21 Jumadilawal 1448 H
  • Hari dan pasaran: Minggu Pahing
  • Neptu: 14 (Minggu 5 + Pahing 9)

Kalender Jawa memadukan siklus tujuh hari atau Saptawara dengan lima hari pasaran yang dikenal sebagai Pancawara. Kelima pasaran tersebut adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kombinasi keduanya menghasilkan siklus weton yang berulang setiap 35 hari, sehingga banyak masyarakat menggunakannya untuk menandai momen penting seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha.

Panduan Memanfaatkan Kalender Jawa

Bagi masyarakat yang ingin menggunakan kalender jawa november 2026 sebagai acuan, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, catat tanggal Masehi yang ingin diperiksa, lalu cocokkan dengan penanggalan Jawa dan Hijriah pada tabel kalender yang diterbitkan Kemenag. Kedua, perhatikan hari dan pasaran untuk mengetahui weton pada tanggal tersebut.

Ketiga, hitung neptu dengan menjumlahkan nilai hari dan pasaran bila ingin menentukan hari baik menurut primbon Jawa. Nilai hari dalam Saptawara umumnya berbeda-beda, begitu pula nilai pada masing-masing pasaran, sehingga hasil penjumlahannya menentukan kecocokan untuk suatu keperluan.

Meski demikian, penanggalan ini sebaiknya dipahami sebagai warisan budaya dan panduan tradisi, bukan patokan mutlak. Perbedaan metode perhitungan antarwilayah maupun antarsumber primbon dapat menghasilkan penafsiran yang berbeda, sehingga masyarakat dianjurkan merujuk pada sumber yang dipercaya dan tetap mengutamakan pertimbangan rasional.

Konteks Peralihan Bulan di Akhir Tahun

Peralihan dari Jumadilawal ke Jumadilakir pada 12 November 2026 menjadi penanda penting dalam kalender jawa november 2026. Pasalnya, sebagian besar agenda masyarakat pada paruh kedua bulan akan berada dalam penanggalan Jumadilakir, yang berlangsung hingga 10 Desember 2026.

Dengan memahami pemetaan tanggal Jawa, weton, dan pasaran, masyarakat dapat menyelaraskan kegiatan adat, keagamaan, maupun acara keluarga dengan penanggalan tradisional. Informasi ini juga membantu menjaga keberlanjutan tradisi pencatatan waktu yang telah berusia hampir empat abad sejak masa Sultan Agung.

Ke depan, masyarakat yang membutuhkan rincian harian disarankan memeriksa kalender resmi yang diterbitkan Kemenag agar penanggalan yang digunakan sesuai dengan acuan pemerintah. Dengan begitu, pemanfaatan kalender Jawa dapat tetap relevan di tengah perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai budaya yang menyertainya.

Exit mobile version