Kapal Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 98 Selamat dan 129 Masih Dicari

Kapal Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 98 Selamat dan 129 Masih Dicari
Kapal Virgo Transport 8 Terbalik di Laut Jawa, 98 Selamat dan 129 Masih Dicari

Cakrawala News – 14 September 2026 | Kecelakaan yang menimpa kapal virgo atau KMP Virgo Transport 8 di perairan Masalembo, Laut Jawa, masih menyisakan duka sekaligus rentetan pertanyaan. Kapal Ro-Ro penumpang berbendera Indonesia itu dilaporkan mengalami kemiringan (listing) hingga akhirnya terbalik pada Minggu dini hari, 13 September 2026, dalam perjalanan dari Pelabuhan Surabaya menuju Pelabuhan Banjarmasin. Berdasarkan data manifes, sebanyak 243 orang berada di atas kapal saat insiden terjadi.

Kementerian Perhubungan melalui Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Banjarmasin mengungkap kronologi awal kejadian. Kapal bertolak dari Surabaya pada Sabtu, 12 September 2026, sekitar pukul 06.52 waktu setempat. Masalah mulai muncul ketika kapal berada di sekitar perairan Masalembo, dengan indikasi kemiringan pertama terdeteksi sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

“Kronologi awal kejadian di mana kapal tersebut mengalami kondisi listing dan kehilangan kontak (lost contact) di sekitar perairan Masalembo (Laut Jawa) pada tanggal 13 September 2026 sekitar pukul 02.00 LT,” kata Kepala KSOP Kelas I Banjarmasin, Heri Purwanto, dalam keterangannya.

Hantaman Ombak dari Lambung Kanan

Badan SAR Nasional (Basarnas) menyampaikan penyebab awal kemiringan kapal berdasarkan keterangan langsung dari nakhoda. Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Edy Prakoso, menyatakan bahwa hantaman ombak dari lambung kanan ikut memicu kondisi tersebut.

“Disampaikan oleh nahkoda Kapal Virgo tersebut terkait kejadian kemiringan kapal, ini juga akibat dari hantaman ombak dari lambung kanan. Ini info yang kami dapatkan langsung dari kapten Kapal Virgo tersebut dalam operasi pencarian,” kata Edy di Jakarta.

Sejumlah laporan menyebut bangkai kapal telah ditemukan dalam kondisi terbalik. Namun, informasi mengenai jumlah korban yang dievakuasi sempat berbeda antarsumber. Basarnas melaporkan bahwa hingga pukul 15.30 waktu setempat, korban yang terevakuasi kurang lebih 113 orang, dengan rincian 98 selamat dan enam meninggal dunia. Sementara itu, satu laporan lain menyebut angka korban selamat sebanyak 108 orang. Perbedaan angka ini masih dinamis seiring berjalannya operasi pencarian dan pendataan di lapangan.

Rincian evakuasi yang dipaparkan Basarnas mencakup sejumlah kapal yang terlibat dalam operasi penyelamatan. Di TB Mauhaw terdapat 16 orang, dengan 15 selamat dan satu meninggal dunia. Di TB TCP terdapat enam orang, dengan satu selamat dan lima meninggal dunia. Dari KM Haida, sebanyak 69 orang dilaporkan dalam kondisi selamat. Dari Kapal Nelayan Cahaya Bahari yang dipindahkan ke Kapal Intandaya, sebanyak 20 orang selamat, ditambah satu orang selamat di Kapal Nelayan Sri Asih.

“Sehingga korban yang diselamatkan adalah 114, kemudian selamat 98, yang meninggal dunia enam. Yang masih dalam pencarian dalam hal ini kurang lebih 129 orang,” papar Edy.

Data Manifes dan Profil Kapal

Berdasarkan data manifes, 243 orang di atas kapal terdiri dari 30 kru, 27 mitra kerja kapal, 59 penumpang dewasa, satu anak-anak, serta 126 sopir dan kernet. Selain mengangkut penumpang dan kru, kapal juga membawa 89 unit kendaraan.

KMP Virgo Transport 8 merupakan kapal Ro-Ro penumpang dengan ukuran 8.540 GT. Kapal dinakhodai Arief Yunianto dan dioperasikan PT Virgo Karya Shipping.

Respons Cepat dan Posko Penanganan

Setelah menerima laporan insiden, KSOP Kelas I Banjarmasin bergerak cepat mengoordinasikan operasi penyelamatan bersama pihak terkait. Heri Purwanto menegaskan bahwa keselamatan seluruh pihak di atas kapal menjadi prioritas utama.

“Kami telah merespons cepat laporan insiden yang dialami KMP Virgo Transport 8 di wilayah perairan Masalembo. Fokus dan prioritas utama kami saat ini adalah keselamatan seluruh pihak yang berada di atas kapal melalui pengerahan operasi penyelamatan yang terkoordinasi,” ujar Heri.

Untuk mempercepat penanganan pascakejadian, KSOP Kelas I Banjarmasin mendirikan posko di Terminal Penumpang Bandarmasih, Pelabuhan Trisakti, Banjarmasin. Posko tersebut digunakan untuk mengintensifkan koordinasi dengan Basarnas, BUP PT Pelindo, Kantor Distrik Navigasi Banjarmasin (VTS), Kepanduan PT Pelindo III Banjarmasin, pihak keagenan kapal, serta keluarga penumpang.

Kapolda Kalimantan Selatan memastikan seluruh unsur maritim turun tangan dalam penanganan insiden ini. Basarnas juga menegaskan akan terus memaksimalkan upaya pencarian dengan mengerahkan unsur laut maupun udara yang berada di lapangan, khususnya bagi penumpang yang masih dalam pencarian.

Kisah Penumpang Selamat

Di tengah tragedi, muncul kisah bertahan hidup dari salah satu penumpang yang berhasil dievakuasi. Riyanda (30), pria asal Cilacap, Jawa Tengah, menceritakan momen mencekam ketika ia terbangun dari tidurnya akibat suara riuh teriakan penumpang lain di dalam kapal sekitar pukul 23.30 Wita.

Ia mengaku berjuang menyelamatkan diri di tengah lautan dengan mengandalkan selembar triplek dan baju pelampung. “Setelah terjun dari kapal saya berpegangan tripleks,” kata Riyanda saat ditemui di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Riyanda mengingat betul kondisi kapal yang sudah miring ketika ia berusaha mencari jalan keluar. Ia dievakuasi bersama puluhan penumpang lainnya ke Pelabuhan Trisakti Banjarmasin pada Minggu malam, 13 September 2026. Para korban selamat mendapat penanganan medis di posko kesehatan yang disiapkan di pelabuhan.

Hingga kini, operasi pencarian dan pertolongan masih berlanjut. Sebagian korban diyakini berada di dalam kapal, sementara sebagian lain terbawa arus menjauhi lokasi kejadian. Perkembangan jumlah korban yang ditemukan diperkirakan masih akan terus diperbarui seiring intensifnya pencarian oleh tim gabungan di perairan Laut Jawa.

Exit mobile version