Kelakar SBY: Kalau Prabowo Batuk Keras, Rupiah dan Saham Bisa Jatuh

Kelakar SBY: Kalau Prabowo Batuk Keras, Rupiah dan Saham Bisa Jatuh
Kelakar SBY: Kalau Prabowo Batuk Keras, Rupiah dan Saham Bisa Jatuh

Cakrawala News – 17 Oktober 2026 | Kelakar SBY: Kalau Pak Prabowo batuk hati-hati, nilai tukar rupiah & saham bisa jatuh menjadi sorotan publik setelah Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan orasi ilmiah dalam Dies Natalis ke-68 FISIP Universitas Padjadjaran, Jawa Barat, Selasa (13/10). Dalam orasi tersebut, SBY yang mengaku sedang batuk menyinggung pentingnya kesehatan seorang kepala negara bagi stabilitas ekonomi nasional. Ia berkelakar bahwa bila Presiden Prabowo Subianto sampai batuk keras, nilai tukar rupiah dan harga saham bisa ikut terganggu.

Pernyataan itu disampaikan SBY di hadapan hadirin yang menyambutnya dengan tawa. Ia membuka orasi dengan permohonan maaf karena sedang batuk, seraya memastikan kondisinya bukan influenza A sehingga aman. Menurutnya, bila dirinya batuk, yang terganggu hanya orang di kiri dan kanannya. Namun, situasinya berbeda jika yang batuk adalah Presiden Prabowo.

“Kalau yang batuk Pak Prabowo, hati-hati. Kalau batuknya keras, nilai tukar rupiah dan saham bisa jatuh,” kata SBY.

SBY lantas mendoakan agar Presiden Prabowo selalu sehat dan dapat terus memimpin dengan baik. Ia juga menyebut bahwa dirinya kini lebih aktif sebagai pelukis, sehingga bila batuk saat melukis, yang terdampak hanya lukisan di kanvas yang bisa rusak.

Kesehatan Kepala Negara dan Stabilitas Ekonomi

Kelakar SBY: Kalau Pak Prabowo batuk hati-hati, nilai tukar rupiah & saham bisa jatuh menyentuh isu yang lebih serius, yakni persepsi pasar terhadap stabilitas politik dan kepemimpinan nasional. Dalam konteks ekonomi, kondisi kesehatan kepala negara kerap dipandang sebagai faktor yang dapat memengaruhi kepercayaan investor, meski tidak selalu menjadi penentu utama pergerakan pasar.

Pernyataan SBY itu muncul di tengah tekanan yang masih membayangi nilai tukar rupiah. Berdasarkan data pasar, rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Rupiah di pasar spot melemah Rp89 atau 0,50 persen ke level Rp18.027 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada kurs referensi Bank Indonesia, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), yang turun Rp104 atau 0,58 persen menjadi Rp18.052 per dolar AS.

Secara mingguan, rupiah di pasar spot melemah 0,71 persen dibandingkan posisi Rp17.899 per dolar AS pada Jumat (9/10/2026). Sementara itu, kurs JISDOR terkoreksi 0,94 persen dari posisi Rp17.884 per dolar AS pada pekan sebelumnya. Pelemahan rupiah ini terjadi saat mayoritas mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS.

Won Korea Selatan mencatat penguatan terbesar di antara mata uang yang disebutkan, yakni 0,75 persen. Baht Thailand menguat 0,35 persen, disusul dolar Singapura yang naik 0,18 persen. Rupee India menguat 0,14 persen, peso Filipina naik 0,12 persen, yuan China menguat 0,05 persen, yen Jepang naik 0,03 persen, dan dolar Taiwan menguat 0,01 persen. Selain rupiah, ringgit Malaysia dan dolar Hong Kong juga melemah, masing-masing 0,02 persen dan 0,008 persen.

Pada saat yang sama, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia melemah 0,24 persen ke level 101,76. Indeks tersebut berada di bawah level 102 untuk pertama kalinya dalam delapan hari perdagangan terakhir.

Respons Bank Indonesia

Bank Indonesia menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah masih terkendali di tengah tekanan pasar keuangan global. Sejak awal kuartal IV 2026, rupiah tercatat melemah terbatas sebesar 0,28 persen dan pergerakannya masih sejalan dengan mata uang negara-negara kawasan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya sentimen penghindaran risiko global yang mendorong penguatan dolar AS. Ia menyebut cadangan devisa tetap terjaga sebesar USD146,3 miliar pada akhir September 2026.

Meski pelemahan rupiah masih terbatas, Erwin mengingatkan tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi berlanjut. Kondisi ini seiring meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong investor mengurangi kepemilikan aset berisiko. Menurutnya, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut.

Konteks Kesehatan dan ISPA

Isu batuk yang disinggung SBY juga bersinggungan dengan kondisi kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan RI mencatat lonjakan pasien infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA, terutama di daerah-daerah yang terdampak kebakaran hutan dan lahan. Tercatat 62.400 kasus ISPA akibat kebakaran hutan, dan ribuan tenaga medis dikerahkan pada Rabu (14/10/2026).

Dalam konteks ini, kelakar SBY: Kalau Pak Prabowo batuk hati-hati, nilai tukar rupiah & saham bisa jatuh bukan sekadar lelucon politik. Pernyataan itu menyiratkan bahwa stabilitas nasional, termasuk kesehatan pemimpin, menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar. Namun, perlu dicatat bahwa hubungan sebab-akibat antara kondisi kesehatan kepala negara dan pergerakan rupiah maupun saham tidak bersifat langsung dan dipengaruhi banyak variabel ekonomi lain.

Sejauh ini, pergerakan rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti sentimen risk-off global dan penguatan dolar AS. Bank Indonesia menyatakan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai mekanisme pasar dan kebutuhan domestik.

Ke depan, publik dan pelaku pasar akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah serta respons kebijakan bank sentral. Sementara itu, doa dan kelakar SBY menjadi pengingat bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya ditentukan oleh angka, tetapi juga oleh persepsi terhadap kondisi politik dan kepemimpinan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *