Kemenkes: 9 dari 10 Orang dengan Depresi di Indonesia Belum Terjangkau Pengobatan

Kemenkes: 9 dari 10 Orang dengan Depresi di Indonesia Belum Terjangkau Pengobatan
Kemenkes: 9 dari 10 Orang dengan Depresi di Indonesia Belum Terjangkau Pengobatan

Cakrawala News – 11 Oktober 2026 | Depresi di Indonesia: 9 dari 10 orang belum mendapat pengobatan menjadi sorotan Kementerian Kesehatan RI. Dari sekitar 3 juta penduduk berusia di atas 15 tahun yang mengalami depresi, hanya 12,7 persen yang menerima pengobatan. Artinya, mayoritas penderita belum terjangkau layanan kesehatan jiwa.

Data tersebut disampaikan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, dalam Temu Media bertema “Sehat Jiwaku, Unik Caraku: Keluarga Merangkul, Kesehatan Jiwa Terjaga, Neurodivergent Berdaya” di Gedung Adhyatma, Kantor Kemenkes, Jakarta. Kegiatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia pada 10 Oktober, Bulan Peduli Disleksia, dan Bulan Kesadaran ADHD.

“Dari sekitar 3 juta orang dengan depresi, baru 12,7 persen yang mendapatkan pengobatan. Artinya, 9 dari 10 orang dengan depresi belum terjangkau layanan kesehatan. Beban tertinggi justru berada pada kelompok anak muda usia 15 hingga 24 tahun,” ujar Endang.

Angka itu berasal dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang mencatat prevalensi depresi pada penduduk berusia di atas 15 tahun mencapai 1,4 persen, atau berkisar 2,5 juta hingga 3 juta jiwa. Dengan demikian, kesenjangan antara jumlah penderita dan akses pengobatan masih sangat lebar.

Bukan Sekadar Perubahan Suasana Hati

Depresi bukan hanya persoalan rasa sedih yang datang sesekali. Gangguan ini melibatkan suasana hati murung atau hilangnya minat dan rasa senang yang berlangsung hampir sepanjang hari, nyaris setiap hari, setidaknya selama dua minggu.

Gejala lain dapat mencakup gangguan tidur, energi yang sangat rendah, sulit berkonsentrasi, rasa bersalah berlebihan, hingga pikiran tentang kematian. Kondisi ini dapat mengganggu kehidupan di rumah, sekolah, pekerjaan, dan hubungan dengan orang lain.

Pengobatan yang efektif sebenarnya tersedia, termasuk terapi psikologis. Obat dapat dipertimbangkan sesuai tingkat keparahan dan kebutuhan pasien. Namun, tidak semua orang yang membutuhkan layanan mudah menjangkaunya.

Beban Kesehatan Jiwa di Indonesia

Kemenkes menegaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan salah satu isu utama dalam pembangunan nasional. Mengutip data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), gangguan jiwa menempati urutan kedua terbesar sebagai penyebab hilangnya tahun hidup sehat akibat disabilitas di Indonesia.

Selain depresi, perhatian khusus juga diperlukan bagi individu neurodivergent, termasuk mereka dengan ADHD dan disleksia. ADHD merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi fokus dan kontrol diri, sedangkan disleksia adalah gangguan belajar spesifik yang memengaruhi kemampuan membaca dan menulis.

Data global memperlihatkan gambaran serupa. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan hampir 1,2 miliar orang, atau 1 dari 7 penduduk dunia, hidup dengan gangguan mental pada 2023. Gangguan cemas dialami sekitar 470 juta orang, sementara depresi memengaruhi sekitar 322 juta orang.

Di Indonesia, 34,9 persen remaja usia 10-17 tahun dilaporkan mengalami masalah kesehatan mental dalam setahun terakhir. Namun, hanya 2,6 persen di antaranya yang mengakses dukungan atau konseling. Angka ini memperkuat temuan bahwa layanan kesehatan jiwa masih sulit dijangkau kelompok muda.

Stigma hingga Pemasungan

Rendahnya akses pengobatan tidak hanya disebabkan keterbatasan fasilitas. Stigma sosial dan kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kesehatan jiwa turut menjadi hambatan. Pengalaman pengobatan yang kurang menyenangkan serta persoalan dalam sistem kesehatan juga memperlebar kesenjangan layanan.

Kemenkes juga menyoroti praktik pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa berat. Hingga triwulan III 2026, tercatat 2.365 warga masih mengalami pemasungan akibat gangguan jiwa berat seperti skizofrenia.

Di sisi lain, pemerintah terus memperkuat kapasitas fasilitas kesehatan dasar. Saat ini, 6.549 puskesmas atau 64 persen dari seluruh puskesmas nasional telah dimampukan untuk memberikan pelayanan kesehatan jiwa, dengan target penjangkauan 100 persen dalam dua tahun ke depan.

Skrining kesehatan jiwa terhadap 71,86 juta jiwa mendeteksi gejala depresi tertinggi pada kelompok ibu hamil dan nifas sebesar 7,1 persen, serta remaja sekolah sebesar 2,3 persen.

Dorongan Pemerataan Layanan

Ketua Divisi Psikiatri Komunitas, Rehabilitasi, dan Trauma Psikososial FKUI/RSCM, dr. Hervita Diatri, menekankan pentingnya pemerataan akses psikoterapi dan rehabilitasi yang terjangkau hingga ke masyarakat pelosok.

“Pengobatan gangguan jiwa bukan sekadar obat, melainkan membutuhkan psikoterapi dan rehabilitasi. Ada kesan seolah layanan ini hanya bisa didapatkan oleh masyarakat mampu di kota besar. Pendekatan deinstitusionalisasi harus diterapkan agar masyarakat mendapat tata laksana adekuat yang dekat dengan lingkungan mereka,” ujar dr. Hervita.

Pernyataan itu menegaskan bahwa persoalan depresi di Indonesia tidak berhenti pada ketersediaan obat. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang mencakup deteksi dini, pendampingan keluarga, serta layanan psikososial yang mudah diakses.

Isu Depresi di Indonesia: 9 dari 10 orang belum mendapat pengobatan juga menyentuh kelompok usia produktif. Dengan beban tertinggi pada anak muda 15-24 tahun, dampaknya berpotensi dirasakan pada dunia pendidikan, dunia kerja, dan kualitas hidup jangka panjang.

Karena itu, penguatan layanan di puskesmas, penurunan stigma, dan pemerataan akses psikoterapi menjadi pekerjaan rumah bersama. Tanpa langkah itu, kesenjangan pengobatan dikhawatirkan terus berlanjut.

Ke depan, publik perlu mencermati realisasi target 100 persen puskesmas dengan layanan kesehatan jiwa, penurunan angka pemasungan, serta peningkatan cakupan pengobatan bagi penderita depresi. Perkembangan ini akan menjadi indikator sejauh mana komitmen negara dalam menjaga kesehatan jiwa warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *