Korut Pamerkan Rudal Hwasong-20, Diklaim Bisa Jangkau Daratan AS

Korut Pamerkan Rudal Hwasong-20, Diklaim Bisa Jangkau Daratan AS
Korut Pamerkan Rudal Hwasong-20, Diklaim Bisa Jangkau Daratan AS

Cakrawala News – 16 Oktober 2026 | Korut pasang rudal Hwasong-20 terbaru bisa jangkau daratan AS, peluncur yang punya hulu ledak ganda menjadi sorotan setelah Korea Utara memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) tersebut di Museum Revolusi Pertahanan yang baru dibuka. Pameran itu digelar pada Minggu (11/10/2026) dan dibuka langsung oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yang hadir didampingi istri, Ri Sol Ju, serta putrinya, Ju Ae. Menurut kantor berita Korean Central News Agency (KCNA), museum tersebut memajang berbagai persenjataan yang dikembangkan di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, mulai dari drone hingga ICBM Hwasong-20.

Klaim bahwa rudal itu mampu mencapai daratan utama Amerika Serikat mencuat dari tampilan di depan peluncur Hwasong-20. Sekretaris Jenderal Forum Pertahanan dan Keamanan Korea, Shin Jong Woo, menilai display tersebut memperlihatkan desain hulu ledak multiple atau ganda, lengkap dengan peta dunia yang menggambarkan jangkauan serangan.

“Sebuah bentuk di depan peluncur rudal Hwasong-20 tampak memperlihatkan desain hulu ledak multiple dan peta dunia yang menggambarkan jangkauan serangan yang melampaui daratan utama AS hingga Timur Tengah, Australia, dan Amerika Selatan,” kata Shin, seperti dikutip Reuters.

Dengan demikian, jangkauan yang diklaim tidak hanya mencakup daratan Amerika Serikat, tetapi juga sejumlah kawasan lain di belahan dunia. Namun perlu dicatat, klaim tersebut sejauh ini bersumber dari pihak Korea Utara dan pengamat, bukan dari verifikasi independen.

Peluncuran Rudal Sehari Setelah Pameran

Sehari setelah pameran berlangsung, Korea Utara terdeteksi kembali meluncurkan sejumlah rudal balistik dari wilayahnya pada Senin (12/10/2026) waktu setempat. Kepala Staf Gabungan militer Korea Selatan (JCS) melaporkan aktivitas peluncuran tersebut terdeteksi pada Senin pagi waktu setempat.

Secara terpisah, KCNA mengumumkan bahwa pihaknya telah melakukan uji coba peluncuran rudal balistik untuk memastikan keberhasilan peningkatan teknis pada komponen utama yang tidak disebutkan secara spesifik. Menurut KCNA, peningkatan tersebut menandai langkah penting dalam meningkatkan kinerja seluruh sistem persenjataan ofensif Korea Utara.

Aktivitas peluncuran ini terjadi menyusul ketegangan yang makin meningkat akibat ledakan ranjau di area perbatasan dengan Korea Selatan yang dijaga ketat. Ledakan di Zona Demiliterisasi (DMZ) itu melukai tiga tentara Korea Selatan. Sejak peristiwa tersebut, kedua negara dikabarkan telah memamerkan uji coba teknologi rudal yang telah ditingkatkan.

Dinilai sebagai Propaganda Jelang Kemungkinan Pertemuan Puncak

Shin Jong Woo menilai pameran rudal ini bertujuan menyoroti pencapaian program pengembangan sains pertahanan Kim Jong Un. Menurutnya, langkah tersebut memberikan kesan sebagai propaganda yang dimaksudkan untuk meraih keuntungan strategis menjelang potensi pertemuan puncak antara Korea Utara dan Amerika Serikat.

Laporan mengenai pameran ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya mungkin bertemu Kim Jong Un dalam kunjungan yang direncanakan ke Asia. Trump diperkirakan akan menghadiri KTT APEC di China pada pertengahan November.

Selain itu, para analis menilai museum tersebut mencerminkan upaya lebih luas dari Kim Jong Un untuk mengubah pameran persenjataan Korea Utara menjadi simbol abadi atas pencapaian militer rezim tersebut.

“Dengan mengubah pameran senjata yang dulunya bersifat sementara menjadi museum permanen, Kim melembagakan pencapaian militernya dan menampilkan pengembangan kemampuan nuklir dan rudal Korea Utara sebagai warisan yang telah rampung dan abadi,” kata Profesor Lim Eul Chul dari Institut Studi Timur Jauh pada Universitas Kyungnam.

Konteks yang Perlu Dicermati

Pameran Korut pasang rudal Hwasong-20 terbaru bisa jangkau daratan AS, peluncur yang punya hulu ledak ganda ini menjadi penanda bahwa Pyongyang terus menonjolkan kemajuan program persenjataannya di ruang publik. Lokasi Museum Revolusi Pertahanan sendiri tidak diungkap secara rinci oleh pihak Korea Utara.

Sebelumnya, pameran senjata Korea Utara umumnya bersifat sementara. Kini, dengan menjadikannya museum permanen, rezim Kim Jong Un tampak ingin menegaskan bahwa pengembangan nuklir dan rudal merupakan bagian dari warisan yang telah dianggap selesai.

Meski demikian, sejumlah pihak masih menilai klaim jangkauan Hwasong-20 perlu diuji secara independen. Sampai saat ini belum ada konfirmasi dari pihak luar mengenai spesifikasi teknis, termasuk soal desain hulu ledak ganda yang disebut terlihat pada display di depan peluncur rudal tersebut.

Di sisi lain, rangkaian uji coba dan pameran ini memperlihatkan bahwa ketegangan di Semenanjung Korea belum mereda. Ledakan ranjau di DMZ yang melukai tentara Korea Selatan menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Yang perlu diperhatikan selanjutnya adalah apakah peluncuran-peluncuran rudal Korea Utara akan berlanjut, serta bagaimana respons Amerika Serikat dan Korea Selatan. Selain itu, kemungkinan pertemuan antara Kim Jong Un dan Donald Trump di sela kunjungan ke Asia menjadi faktor yang dapat memengaruhi arah diplomasi kedua negara ke depan.

Dengan memamerkan rudal yang diklaim mampu menjangkau daratan AS, Korea Utara tampaknya ingin memastikan posisi tawar mereka tetap kuat dalam setiap pembicaraan yang mungkin terjadi. Namun, hingga kini, belum ada keterangan resmi dari pemerintah Amerika Serikat maupun Korea Selatan mengenai penilaian mereka terhadap klaim tersebut.

Exit mobile version